
Riana berdiri kaku saat sebuah senjata api mengarah tepat di kepalanya. "A-apa yang ingin kau lakukan ..." gugup Riana karena Braylee mengancam ingin menembaknya.
"Kau ... Kau tidak seharusnya hidup di dalam dunia ini ... Aku sangat membencimu dan semua keturunanmu," terlihat amarah dari kedua bola mata Braylee. Amarah yang sudah sangat lama di pendamnya.
"A-apa yang kau katakan, bukan kah kau berkata jika kau sangat mencintai ku ... Terus apa yang kau lakukan ini ..." tanya Riana mengeluarkan air matanya menatap kedua bola mata Braylee.
"Mommy!! Daddy!!, apa yang Daddy coba lakukan Daddy!! Jangan apa-apa kan Mommy Daddy, ku mohon!!" teriak Ronald saat melihat Daddy-nya ingin menembak Mommynya
Melihat ke arah Ronald yang meneriakinya. Telinga Braylee seperti di tuli kan oleh dendam yang mendalam.
"Bukan hanya dia, tapi juga kau" mengeluarkan satu lagi senjata api dari balik jaket kulit bewarna hitam yang ia pakai, kemudian mengarahkan pada Ronald putranya bersama Riana istrinya.
"Apa yang kau lakukan Braylee!! apa kau sudah gila!! Ronald itu putra kandungmu!! bagaimana bisa kau ingin membunuhnya!! jangan lakukan itu Braylee!! jika tidak kau akan menyesal!!" teriak Riana sekencang mungkin, ia tak tau mengapa Braylee ingin membunuhnya dan juga putranya.
Perlahan tapi pasti Braylee mulai menarik pelatuk senjata api yang mengarah pada putranya.
"Berhenti!!" teriak Riana berlari ingin menghalangi Braylee dengan semua tindakan gila yang ingin ia lakukan.
__ADS_1
Dor! Dor!
Dua timah panas di muntahkan oleh kedua senjata api yang di pegang Braylee di kiri dan kanannya.
Satu timah panas itu mengenai tepat di bahu Riana, dan satu lagi tepat mengenai jantung putranya yang membuat putranya mati di tempat seketika itu juga.
"RONALD!!!!!!!!!!" teriak Riana bersamaan tubuhnya ambruk ke tanah, merayap perlahan menggenggam pergelangan tangan putranya yang sudah tewas di tangan ayah kandungnya sendiri.
"Aku membencimu!! Akhhhhhhhhhh bagaimana bisa kau membunuh putra mu sendiri!! apa kau sudah gila!! aku akan membunuh mu!!" memaksakan diri berdiri dan berlari sekuat tenaga menghampiri Braylee, mengambil senjata api dari tangan suaminya.
Dor!
,,,
Riana tersadar saat merasakan seseorang yang bergerak membuat kasur itu juga ikut bergerak mengganggu tidur pulas nya. Membuka kedua netranya dan melihat Braylee yang tertidur di banjiri keringan serta menggerak-gerakkan tubuhnya.
"Hei!, anda kenapa" tanya Riana sedikit mengguncang tubuh Braylee yang tidur di dekatnya. Ternyata mereka tidur satu ranjang bertiga.
__ADS_1
Semasa Braylee pulang dari ruang kerjanya ia langsung berbaring di dekat Riana dan menatap lekat wajah cantik wanita yang baru saja beberapa hari menjadi istrinya sekaligus wanita yang melahirkan putranya. Tanpa sadar ia malah tertidur dan mimpi buruk.
Melihat Braylee belum sadar dari mimpinya. Riana kembali menggoyang tubuh Braylee lebih keras lagi agar dia tersadar dari mimpi buruknya.
"Hei, anda kenapa? bangunlah ... sepertinya kau sedang bermimpi" ujar Riana.
Braylee terbangun dan langsung mendudukkan diri, wajahnya di banjiri keringat dingin, bersamaan satu tangan menarik senjata api yang berada di bawah bantalnya. Karena Braylee sering menyimpan senjata di sana untuk berjaga-jaga.
Mengarah senjata apinya tepat di dahi Riana. "A-ada apa, kenapa kau mengarahkan senjata ke arahku" tanya Riana sedikit gugup karena ia dapat merasakan aura dendam yang berada dalam diri Braylee tiba-tiba terasa sangat memanas dan ingin segera membunuh.
Ronald tidak menyadari apa yang berlaku saat ini pada Mommy dan Daddynya yang ia juluki 'Om'. Ia masih tertidur sangat pulas.
Braylee menatap dalam kedua bola mata Riana tanpa menurunkan senjata apinya. "Siapa kau?"
"Apa yang kau katakan! aku wanita yang kau paksa untuk menikah dengan mu!" ujar Riana sedikit bernada tidak senang.
Mengalih pandangannya ke arah bibir merah Riana. Tanpa aba-aba langsung mencium Riana yang membuatnya kaget atas tindakan pria yang ia juluki 'Gila' itu.
__ADS_1