
"Aku mencintaimu ..." Jawab Braylee tulus terlihat dari kedua bola matanya.
Riana tak langsung menjawab pernyataan cinta dari suaminya. Ia terdiam cukup lama.
"Aku tahu kau tidak mencintaiku, karena bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kau mencintai dokter itu," ujar Braylee saat melihat istrinya hanya diam. Jujur saja ia sedikit kecewa dengan respon istrinya.
Aku juga sendiri tidak tahu apa yang aku rasakan pada pria ini ... Karena meskipun aku sering marah-marah padanya, tak di pungkiri, jika hati kecilku yang paling dalam sudah nyaman bersamanya. Dan aku merasa selalu ingin melihat, dan dekat dengannya. Batin Riana, sayangnya ia tak mengatakan itu pada suaminya, karena ia hanya berbicara dalam hati saja.
Braylee ingin melepas tangan istrinya yang berada dalam genggamannya. Tapi wanita itu malah tiba-tiba saja menggenggam tangannya. Dan merebahkan kepalanya di bahunya.
Membuat pria itu kembali mendapat semangat, karena istrinya itu, wanita yang sangat keras, ini pertama kali wanita itu meresponnya, meski terlihat biasa-biasa saja, tapi percayalah, demi apapun itu, ia merasa hatinya berbunga-bunga. Karena ia sangat mencintai Riana, wanita pertama yang telah mencuri hatinya, wanita itu mempunyai tempat terpenting dalam hatinya.
"Kapan kau akan meninggalkan dunia hitammu?" Tanya Riana masih posisi seperti tadi, merebahkan kepalanya di bahu sang suami.
"Kenapa? Kau tidak menyukai pekerjaanku itu?" Jawab Braylee kembali mengecup pucuk kepala Riana dengan lembut.
"Hm, itu sangat berbahaya, bukan saja berbahaya bagi putra kita, tapi juga sangat berbahaya bagimu, bagaimana jika terjadi apa-apa padamu?" Riana mengucapkan itu terdengar biasa-biasa saja, tapi sebenarnya jauh di lubuk hatinya, ia sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada suaminya.
"Kau sedang mengkhawatirkan ku hm?" Hati pria itu berbunga-bunga mendapat perhatian khusus dari wanita keras itu.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya khawatir jika Ronald akan bersedih jika terjadi apa-apa padamu," elak Riana tak ingin mengakui perasaannya.
"Benarkah?" Tersenyum.
"Mommy, Daddy!" Panggil Ronald yang baru saja datang.
"Kau sudah membeli ice cream son?" Tanya Braylee pada putranya.
"Iya Daddy, aku bahkan sudah makan ice cream sebanyak tiga cup," jawab Ronald santai.
"APA!!! Kenapa kau sering memberikannya uang yang lebih!" kesal Riana pada suaminya karena Braylee sering memberikan uang lebih pada putranya yang membuat Ronald suka jajan sembarangan.
"Ck,"
Braylee hanya tertawa melihat wajah istrinya yang sering terlihat marah, tapi ia tahu, wanita itu hanya marah dari segi pandang
,,,
Tampak sepasang kaki melangkah turun ke bawah ruang bawah tanah tempat Albert saat ini di tahan.
__ADS_1
Orang itu mengamankan semua camera yang berhubung ke ruang penjara.
"Albert," panggil pria tersebut padanya.
Albert yang saat ini sedang duduk dalam keadaan luka di sekujur tubuhnya, menoleh lemah melihat ke arah pria di luar jeruji besi itu.
"Apa yang kau inginkan," tanya Albert pada pemuda itu.
Pemuda itu tak mengeluarkan suaranya, tapi ia mendorong kunci pada pria paruh baya itu.
"Itu adalah kunci penjara ini, kau bisa keluar menggunakan kunci itu, tapi ingat, jangan sampai kau ketahuan, jika tidak Braylee akan membunuhmu detik detik itu juga," ujar pria di depannya.
"Kenapa kau melakukan ini?" Tanya Albert pada pria itu.
"Aku mempunyai tujuan tersendiri, dan ku rasa kau tidak perlu tahu kenapa aku melakukan ini, usahakan saja, bagaimana caranya kau bisa lepas dari sini,"
"Kau tidak sedang mencoba untuk memerangkapku bukan? Agar anak tuan Browne akan segera membunuhku,"
"Kau terlalu seuzon," jawabnya, membalik badan, dan melangkah pergi dari ruang bawah tanah,
__ADS_1