
"Ayah, katakan sesuatu, katakan padaku, jika yang dia katakan itu tidak benar .... Iyakan? Katakan Ayah ..." Suara Riana terdengar bergetar hebat, menahan sebak saat mendengar kenyataan yang tak bisa di terima oleh hatinya.
Pria paruh baya itu menundukkan pandangannya. Mulai membuka suara.
"Iya, memang benar aku terlibat dalam rencana pembunuhan tuan besar Browne, tapi bukan aku yang membunuh tuan besar, karena kecelakaan itu tidak merenggut nyawa mendiang tuan Browne,'' Jujur Albert mengatakan hal yang sesungguhnya.
Braylee yang mendengar itu, ia tak percaya dengan ucapan Ayah Riana. "Kau jangan mencoba untuk berdalih Albert!!" Braylee ingin memukul Albert lagi. Tapi dengan cepat Riana mendorong keras dada bidang suaminya.
"Jangan kau memukul Ayahku, di depan mata ku, meski bagaimana pun, dia tetap Ayahku!!" Pekik Riana.
Braylee yang hilang kendali, mengangkat tangannya ingin menampar wajah Riana.
"TUAN!!" Teriak Asisten Xan menghentikan tuannya yang mulai hilang kendali.
Tangan laki-laki yang di selimuti amarah dan dendam itu, terhenti saat mendengar suara Asistennya, dengan tangan yang bergelantungan.
__ADS_1
Riana membatu, bola mata yang semangkin deras di banjiri oleh air mata tanpa henti, sambil menatap bola mata suaminya yang sedang menatapnya jua.
"Kenapa berhenti? Kau ingin memukulku? Pukul saja aku ... Pukul aku hingga aku mati, jika itu bisa membuatmu puas!" Kata Riana. Hatinya sakit, kenyataan yang benar-benar tidak pernah ia mimpikan selama hidupnya.
Riana memegang senjata api yang berada di tangan suaminya, dan kembali menaruh di dahinya. "Tembak aku, bukankah kau ingin balas dendammu? Sekarang sasaranmu sudah berada di depan matamu, apa lagi yang kau tunggu? Bunuh aku untuk memuaskan rasa dendamu itu!"
Braylee masih diam dengan wajah dinginnya. Tapi kedua bola matanya masih di banjiri air mata.
"Siapa yang membunuh Daddyku?" Tanya Braylee pada Albert tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua bola mata wanita yang sangat ia cintai itu.
"Katakan, siapa saksi itu?"
"Putri tertuaku, Ziery" jawab Albert jujur.
Riana sangat kaget mendengar, jika sebenarnya Ayahnya memiliki putri lain selain darinya.
__ADS_1
"Siapa yang Ayah maksud? Putri Ayah? Ayah masih mempunyai putri lagi selain aku?" Tanya Riana melihat ke arah sang Ayah.
Mengangguk pelan. "Kau bisa tanyakan pada suamimu, dia yang menyembunyikan tubuh Ziery, yang sampai saat ini, masih dalam keadaan koma selama 11 tahun yang lalu,"
Riana benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia dengar, ia merasa saat ini, hidupnya benar-benar di penuhi dengan drama tak berpenghujung.
"Bagaimana bisa .... Dan kapan Ayah menikah?" tanya Riana.
Lagi-lagi Albert menggeleng. "Ayah hanya pernah menikah satu kali, iya itu bersama ibumu, Ziery adalah anak yang lahir dari rahim Bora (mendiang Mama Monica) anak haram Ayah, hasil dari perselingkuhanku dengan istri mendiang Markus, sebelum aku menikah dengan ibumu Diana," Albert menjawab dengan jujur semua yang ia sembunyikan selama ini.
Membuat Riana hanya bisa terdiam lemah.
"Aku akan menunggu sampai putrimu sadar, tapi aku juga tidak akan melepaskanmu begitu saja," kata Braylee.
Laki-laki itu kembali menatap istrinya yang terdiam sambil menunduk, ia masih syok dengan semua drama di depannya yang baru saja di mulai.
__ADS_1
Braylee sudah tahu jika Ziery adalah anak haram Albert bersama Bora, maka itu dia mempertahankan Ziery yang sudah terbaring kaku selama 11 tahun ini, ia juga tahu jika Ziery mengetahui semua yang terjadi di masa lalu.