Benih Siapa Yang Aku Kandung

Benih Siapa Yang Aku Kandung
Bagaimana


__ADS_3

"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Braylee menyadari pikiran kotor istrinya.


Menggeleng. "Aku tidak memikirkan apapun" elak Riana.


"Mommy, aku sudah selesai,'' Kata Ronald pada Mommynya.


Tersenyum lembut. "Ya sudah, mari kita berangkat," berdiri dari duduknya, karena ia juga sudah kenyang, akibat melihat Monica membuat selera makannya sudah menghilang begitu saja. Ada perasaan aneh yang ia rasakan saat ini, seolah ia merasa tak rela jika Monica benar-benar hamil anak Braylee, dan Ia sangat yakin jika wanita itu pasti sedang hamil.


"Aku akan mengantarmu," Braylee juga berdiri dari duduknya, ingin mengantar istri dan anaknya.


"Tidak usah, aku bawa mobil sendiri," tolak Riana.


"Mau aku antar, atau tidak usah pergi bekerja sama sekali," kata pria itu tak ingin di bantah.


Pemaksa!


"Braylee, kau antar dulu Monica ke rumah sakit, untuk apa kau mengurusi ibu dan anak yang tidak jelas asal usulnya itu!" Kata Cellin menatap sinis ke arah Riana sambil memegang tubuh lemah Monica.

__ADS_1


"Suruh saja supir untuk mengantarnya," menggandeng putranya keluar dari dapur.


"Braylee! Semenjak kau menikah dengan wanita murahan ini, kau sudah banyak membatah ucapan Mommy, anak itu juga anak yang tidak jelas, kenapa kau begitu menyayanginya, mungkin ibunya juga tak tau siapa Ayahnya" Cellin benar-benar marah pada putranya. Karena selama satu bulan pernikahannya dengan Riana, yang mereka anggap janda murahan. Braylee sering membantah ucapannya.


Braylee memilih diam, kemudian tetap melangkah keluar dari Mension tanpa mendengarkan Mommynya yang terus-menerus meneriakinya.


"BRAYLEE!!!" Teriak Cellin, tapi putranya seolah tak mendengarnya.


"DASAR WANITA PEL*CUR!!!" Cellin seperti ingin membunuh Riana. Tapi wanita itu memilih mengabaikannya.


Di mobil, Ronald hanya diam dengan raut wajah tak biasa. "Ronald, ada apa sayang?" Tanya Riana karena putranya menunjukkan wajah yang berbeda dari biasanya.


Tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja son, ada apa?" Tanya Riana. Sedangkan Braylee hanya diam menyimak dan melihat anak dan istrinya.


"Tapi Mommy janji dulu, kalau Mommy tidak akan marah,"


"Iya, Mommy janji,"

__ADS_1


"Mommy ... Apa benar, Mommy tidak tahu siapa Daddy Ronald My? Seperti yang di katakan mereka tadi? Ronald juga tidak pernah melihat Daddy selama Ronald lahir My ..." Ujar Ronald sedih, mengeluarkan isi hatinya.


Gelagapan, Riana bingung ingin menjawab apa, karena dia memang tak tahu, siapa sebenarnya Ayah biologis putranya itu.


"Aku Daddymu, kenapa kau mencari Daddy? Bukannya aku sudah ada di sini?," Braylee yang menyahuti putranya, kemudian memeluk bahu bocah itu.


"Aku ingin tahu Daddyku yang sebenarnya, bukan Daddy sambung" kata Ronald. Sedangkan Riana, masih memilih diam.


"Aku Daddy kandungmu," jawab Braylee mantap, memberitahukan pada putranya, tentang kebenaran.


Riana menatap tajam ke arah Braylee, karena mengira jika pria itu sedang berbohong untuk menyenangi hati putranya. Sebelum Ronald kembali bersuara, mobil sudah berhenti di sekolah tempat Ronald belajar.


Ronald menarik nafas, karena ia dapat melihat dari raut wajah Mommynya, jika Mommynya memang tak mengetahui siapa Daddy kandungannya, ia juga tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan Braylee padanya. "Ronald turun dulu My," kata Ronald mencium pipi Mommynya kemudian ingin turun dari mobil.


"Iya, jangan nakal iya,"


Bocah berusia 6 tahun itu tersenyum dan mengangguk, turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam.

__ADS_1


"Anda jangan berbicara sembarangan dengan putra saya!" Riana memarahi Braylee, karena menurutnya pria itu hanya bercanda dengan ucapannya tadi.


Pria itu tersenyum tipis, dan menatap wanita di sampingnya. "Bagaimana jika aku benar-benar Ayah dari putramu?"


__ADS_2