Benih Siapa Yang Aku Kandung

Benih Siapa Yang Aku Kandung
Ceraikan aku


__ADS_3

DOR! DOR! DOR!


Terdengar suara tembakan dari luar Markas Garuda.


"Siapa yang berani menyerang Markasku!" Teriak ketua Garuda marah saat ada yang menyerangnya. Ia meneriaki anak buahnya untuk melihat siapa yang berada di luar.


Anak buahnya melihat keluar, ternyata yang menyerang mereka Dark Revenge.


"Dark Revenge" ujar anak buahnya memberitahukan siapa gerangan yang menyerang mereka.


"Sial!" Umpatnya.


Terjadi tembak menembak, dan perkelahian di Markas Garuda.


Braylee duel dengan ketua pemimpin Garuda. Hanya sekelip mata saja Braylee sudah melumpuhkan ketua mereka.


Braylee menodong senjata api tepat di kepala ketua musuh. "Katakan! Siapa yang berani ingin bermain-main denganku? Jika itu kau, maka aku akan memecahkan kepalamu sekarang juga," kata Braylee penuh penekanan.


"Apa yang kau katakan! Aku tidak tahu apa-apa, jangan sembarangan menuduhku!" Elaknya.


"Kau pikir aku bodoh sepertimu? Aku tahu kau pasti ada kaitannya, dengan apa yang terjadi,"

__ADS_1


"Bedebah! Aku tidak tahu!" Menendang senjata api Braylee kemudian melempar benda bulat seperti bola, yang mengeluarkan asap hitam. Ternyata ketua Garuda melarikan diri.


Asisten Xan ingin mengejarnya, tapi di tahan oleh Braylee. "Tidak usah, biarkan dia pergi," kata Braylee menyembunyikan sesuatu di tangannya yang tak di sadari oleh Xan dan juga Fredly.


''Mari kita pulang,"


"Baik tuan"


,,,


Braylee mengemudi mobilnya dengan sangat kencang menuju rumah sakit, ia juga sudah mengganti pakaiannya.


TIba di rumah sakit, Braylee langsung menuju ruang Ronald di rawat. Ia membuka pintu dengan pelan, saat sudah tiba, melihat Riana sedang memeriksa putranya yang belum sadarkan diri.


"Untuk apa lagi kau datang kemari?" Tanya Riana dengan wajah datarnya tanpa melihat ke arah Braylee.


"Aku ingin menjenguk Ronald," jawab Braylee menutup pintu.


"Ceraikan aku!" kalimat itu lolos begitu saja dari bibir mungil wanita di depannya.


"Apa maksudmu?" Tanya Braylee menatap Riana yang tak ingin melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Seperti yang kau dengar, ceraikan aku! Aku tidak ingin hidup dengan mafia sepertimu!" Menatap benci pada laki-laki itu.


"Semua ini juga tidak akan terjadi jika bukan karenamu Sonata," Jawab Braylee menggantung ucapannya.


"Apa maksud ucapanmu itu?" Tanya Riana menyorot Braylee.


"Kau tidak ingin berurusan dengan seorang mafia, tapi apa kau masih ingat kejadian enam tahun lalu? Bukankah kau sendiri yang menyerahkan tubuhmu padaku?" Ucap Braylee mentapnya tanpa berkedip.


Riana terdiam dan mengingat kejadian tempoh hari. Di mana dia mulai merasakan ada aliran aneh dari dalam tubuhnya, beberapa menit saat ia sudah meminum, minuman yang di berikan oleh pria paruh baya yang berada dalam ruang VIP waktu itu.


Merasa ada yang aneh pada tubuhnya, Riana terus berjalan dengan jantung yang berdebar-debar, langkahnya semangkin terasa lemah, akhirnya ia terjatuh di sudut ruangan, dan meringkuk diam di sana.


Tak berapa lama ia mendengar suara pria yang bertanya padanya waktu itu.


"Kau sudah mengingatnya?" Tanya Braylee.


Perlahan, Riana berjalan menghampiri pria di depannya.


Tiba-tiba saja ia menarik senjata api yang berada di saku Braylee, karena pria itu memang sering membawa senjata api. Braylee sudah menduga pergerakan Riana, tapi ia membiarkannya, ia ingin melihat apa yang akan di lakukan oleh istrinya.


Riana menodong senjata api tepat di jantung pria itu. "Pergi dari kehidupanku! Semua yang terjadi waktu itu, di luar kendaliku, dan aku tidak ingin berurusan dengan laki-laki sepertimu!!" Kata Riana menekan senjata api itu tepat di jantung Braylee yang semangkin menatapnya dalam.

__ADS_1


__ADS_2