Benih Siapa Yang Aku Kandung

Benih Siapa Yang Aku Kandung
Sakit


__ADS_3

"Kau ingin mati lebih awal ternyata" bisiknya di telinga Riana yang berada dalam kunciannya.


"S ..... Sakit ...." Eluhnya.


Melepas pisau dari leher Riana kemudian mendorongnya hingga terjatuh di lantai. "Cari saja tempat untuk tidur di sini, jangan berharap kau bisa pulang malam ini" ujarnya mengambil perban, kemudian berjongkok di hadapan Riana mengobati luka di leher jejangnya.


Hanya diam membiarkan Braylee mengobati luka di lehernya. Bola mata mencari celah untuk bisa kabur dari Braylee.


"Jangan berharap kau bisa kabur, karena di sini tidak ada celah untuk kau bisa melarikan diri" Braylee menangkap pikiran wanita di depannya, mengalih jari ingin membuka kaca mata bulat milik Riana.


Menahan tangan Braylee. "Anda jangan lancang tuan," mendorongnya.


Tersenyum miring. "Kau sepertinya gadis yang sangat cantik jika tidak memakai kaca mata jelekmu itu" berdiri santai.


Tidak menanggapi Braylee. Berdiri mencari tempat tidur yang nyaman. Ia memilih tidur di sofa.


Melihat sekilas pada gadis yang berbaring di sofa. Melangkah keluar kamar kembali mengunci pintu dari luar.


Sial!. Batinnya saat sadar Braylee kembali mengunci pintu.


Drrrrtttt Drrrrtttt Drrrttt

__ADS_1


Menghubungi sang Asisten yang selalu siap siaga.


"Hello tuan, ada yang bisa saya bantu" tanya Xan terbangun dari tidurnya.


"Kau cari wanita yang bernama Lyn Sonata, dengan ciri-ciri wanita culun, jika ada yang bersangkutan padanya, bawa dia bertemu dengan ku besok di Markas" mematikan ponsel setelah memerintahkan Asisten Xan mencari identitas Riana.


Mendapat perintah dari tuannya, ia bergegas memakai pakaian mencari nama yang di sebutkan tuannya dengan ciri-cirinya.


Hanya sebentar saja Xan sudah mendapatkan identitas Riana. Menemukan jika ia seorang janda yang memiliki seorang putra dan bekerja sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit yang berada di kota A.


,,,


Keesokan hari.


Melihat ke arah pintu kamar yang tidak di kunci "Pintunya tidak berkunci " gumam Riana buru-buru berdiri melangkah keluar.


"Kau sudah bangun? ku kira kau sudah mati" kata Braylee tanpa melihat Riana duduk di ruang depan dengan sarapan di hadapannya.


Mulutnya pedas sekali, tidak sesuai dengan wajahnya yang tampan seperti malaikat. Ah, iya malaikat pencabut nyawa. Pikirnya.


"Sarapan lah, setelah ini ikut dengan ku" mendorong sandwich yang telah ia siapkan untuk Riana.

__ADS_1


"Mau kemana?" Bertanya penuh selidik menghampiri Braylee, duduk di depannya.


"Menemui putra mu" santainya menjawab Riana.


"Apa!! Bajingan kau!! Kau menangkap putra ku!!'' Geram Riana pada Braylee.


Pagi tadi semasa Ronald berangkat ke sekolah, ternyata di sekolah Xan menculik Ronald dan membawanya ke Markas.


"Kau tenang saja, putra mu aman jika kau mau mengikuti kemahuan ku" tersenyum licik.


"Kau sudah melampaui batas mu!! Putra ku tidak ada hubungannya dengan semua ini, dan aku juga bukan musuh mu, untuk apa kau menahan ku!!" bertambah marah.


Mencondong diri pada Riana. "Siapa yang percaya dengan ucapanmu? Segera sarapan, jangan terlalu lama membuang-buang waktu ku jika kau ingin putra mu selamat" kembali melurus badannya.


Menatap sandwich di piring. "Itu tidak ada racunnya" terdengar suara pria di hadapannya lagi.


Akhirnya ia sarapan. Setelah itu mereka berdua berangkat ke Markas Dark Revenge.


,,,


"Mommy" panggil Ronald berlari memeluk Mommy-nya saat Riana dan Braylee tiba di Markas.

__ADS_1


"Ronald, kau tidak apa-apa sayang" tanya Riana mengecek tubuh putranya.


Braylee membeku melihat wajah putra wanita yang ia tahan semalam, karena ia merasa seperti melihat dirinya saat ia masih berusia 6 tahun.


__ADS_2