
Seorang gadis ingin menggerakkan tubuhnya, tapi sangat sulit, seperti ada sesuatu benda besar yang sedang menindihnya.
Apa ini. Batin Riana meremas sesutau yang ia pegang. Perahan membuka kedua bola matanya.
Bola mata indah itu bertemu dengan bola mata pria yang sedang memeluknya, ternyata pria itu sedari tadi terbangun dan menatap wajah cantiknya.
"Apa kau menyukainya?" tanya Braylee sedikit berbisik pada Riana yang sedang mengumpul kesadarannya.
"Menyukai? Menyukai apa?" Wanita itu malah kebingungan mendapat pertanyaan ambigu dari pria yang berada di depannya.
"Suka yang kau remas," tersenyum miring.
Bukannya melihat apa yang ia remas, ia malah bertambah memencetnya, merasa aneh, ia melihat ke arah tangannya yang berada di bawah sedang memegang dan meremas tongkat sakti laki-laki di depannya.
Dia kembali melihat ke arah Braylee yang mengangkat satu alisnya kemudian tersenyum mesum.
Sedetik kemudian ..................
"ARKH!!!!"
__ADS_1
BUK!
"Ssssssstttttttttt" Braylee meringis, bagaimana tidak, Riana menendangnya, dan membuatnya berakhir di bawah ranjang.
"Sakit bokongku" ringis braylee masih mengusap-ngusap bokongnya yang terhempas di lantai.
"Om lagi ngapain? lagi tangkap udang ya Om?" Ejek Ronald yang baru saja masuk ke dalam kamar, dan melihat Braylee masih berada di lantai dalam posisi setengah berbaring.
"Ahahahahahahahahahahahahaha, bukan udang son, dia lagi tangkap kecobong, karena kecobongnya lari ahahahahah," Riana malah menertawakan suaminya dan meledeknya.
Pria itu menyeringai jahat. Kau ingin tertawa ternyata. Batin Braylee berdiri dari duduknya dan menghampiri Riana kemudian menggelitiknya, hingga membuat Riana ingin menagis di buatnya.
Ronald melongo melihat Mommy dan Daddynya yang ia juluki 'Om', seperti anak kecil di atas ranjang yang membuat ranjang itu benar-benar berantakan.
"MOMMY! OM! Kenapa kalian berdua sepeti anak kecil!!" Teriak Ronald menghentikan kegilaan manusia dewasa di hadapannya. Kedua manusia dewasa itu tak menyadari jika sebenarnya mereka berdua mulai merasa nyaman antara satu sama lain.
Riana dan Braylee menghentikan perkelahian mereka, dengan posisi Riana yang sedang berada di atas tubuh Braylee sambil mengacak-acak rambut pria tampan itu.
Menyadari posisinya, Riana buru-buru turun dari tubuh kekar dan atletis itu. Kemudian melototi Braylee dengan wajah kesalnya.
__ADS_1
Braylee malah mengedipkan satu matanya pada Riana. Dengan perasaan kesal ia mengambil baju ganti, dan melangkah ingin ke kamar mandi yang berada di luar kamar, lebih tepatnya di dapur, ia berniat untuk membersihkan tubuhnya dan berangkat ke rumah sakit.
Ia masuk ke dalam kamar mandi, saat ingin menutup pintu kamar mandi, Braylee ternyata menyusul masuk ke dalam kamar mandi sempit itu.
Braylee mendorong pintu kamar mandi dengan sedikit keras, kemudian masuk ke dalam dan mengunci pintu kamar mandi.
"Apa yang kau lakukan di sini!!" marah Riana seperti ingin memukul kepala Braylee yang terus menjahilinya.
"Ingin mandi bersamamu sayang," jawab Braylee memainkan alisnya, dan mencium sekilas bibir merah istrinya.
"IIiihhh!!!!" Riana benar-benar geram. Ia berniat ingin mengambil sesuatu untuk memukul suaminya.
Tak sengaja bola matanya menangkap air yang berada di dalam baldi, ia juga melihat ada gayung di sana.
Kena kau. Batin Riana mengambil air itu dan langsung menyiram Braylee dengan air sejuk.
"DINGIIIIINNN!!!" Braylee berteriak, membuat Riana tertawa terbahak-bahak dan kembali menyiram laki-laki jahil itu dengan wajah puas karena berhasil membuat suaminya kedinginan.
Braylee langsung memeluk istrinya dengan pakainya yang sudah basah semua, akibat ulah Riana. Bola mata mereka berdua bertemu, membuat Braylee dan Riana sama-sama terdiam.
__ADS_1
DEG! DEG! DEG!