
"Kopi jantan!" Jawab Riana kesal. Membuat Braylee menahan tawanya, karena wanita itu terus bersikap ketus padanya.
"Kopi jantan? Kau ingin bermalam panjang malam ini hm?" Tanya Braylee lagi masih dengan ekspresi yang sama.
"Bukan denganku, tapi dengan kekasimu!"
"Buahahahahahahahahaha" Braylee tak bisa menahan tawanya lagi, saat melihat wajah istrinya yang sangat menggemaskan, seperti istri yang sedang cemburu.
"Gila" gumam Riana.
"Kau sedang cemburu Baby?" Tanya Braylee menghentikan tawanya.
"Cih! Siapa juga yang cemburu, situ yang terlalu PD" ucap Riana.
"Benarkah?"
Lagi-lagi ia memutar bola mata malas saat mendengar ucapan Braylee. "Aku ingin istirahat," membalik badan ingin keluar dari ruangan Braylee.
"Apa kau sudah mencoba kopi jantan yang kau berikan padaku ini?" Ejek Braylee mengikuti sebutan Riana dengan perkataan 'kopi jantan'
"Belum,''
__ADS_1
"Kau coba saja dulu, siapa tau kemanisan, atau kekurangan gula," alasan Braylee kemudian kembali melihat ke layar laptopnya.
Mendengus kesal, mengambil kopi di atas meja pria itu, kemudian ingin meminumnya.
TAK!
Pyurrrr
Kopi yang ingin di minum Riana, terjatuh ke lantai dan pecah, karena Braylee memukul kopi itu dari tangannya, sehingga berakhir di bawah meja. Ia juga menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
"Kenapa kau begitu bodoh! Sudah ku katakan padamu, jika kau harus waspadah, kalau tinggal di dalam rumah ini, jangan meminum dan makan, sesuatu yang bukan dari buatan tanganmu sendiri,'' kata Braylee terdengar nada khawatir. Ia tak menyangka jika Riana benar-benar ingin mencoba kopi yang dia bawa tadi.
Riana heran dengan respon pria itu, karena merasa ia terlalu berlebihan. Ia melonggarkan pelukan Braylee yang tampak jelas kekhawatiran dari dalam matanya.
Mengangkat tangan, dan menyelipkan rambut wanita di depannya, kebelakang telinganya.
"Kau tidak perlu tahu tentang itu, kau hanya perlu berhati-hati dengan apa saja yang ingin kau konsumsi dalam rumah ini, jika sedikit saja kau lalai, kau akan mati sia-sia, bukankah sudah ku katakan padamu, dalam rumah ini banyak harimau berbulu domba" jawab Braylee terdengar sangat lembut.
Membuat wanita itu terlena mendengar tutur katanya yang lembut. Mereka saling menatap antara satu sama lain. Perlahan, Braylee mendekatkan b*birnya ke b*bir merah istrinya.
CUP
__ADS_1
B*bir kedua manusia itu menempel, Braylee mulai memperdalam ci*mannya, dan memegang pinggang istrinya dengan agresif.
Entah sadar atau tidak, perlahan Riana juga mulai membalas cium*n Braylee yang semangkin memabukkannya. Tak bisa di pungkiri, jika ia juga haus akan belaian seorang laki-laki.
Saat Braylee menyentuh dad*nya, Riana tersadar, dan langsung menepis tangan pria itu, kemudian menghentikan c*iman mereka berdua.
"Apa yang ingin kau lakukan," kata Riana menunduk karena menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
"Yang kau inginkan, itu juga yang aku inginkan," jawab Braylee tersenyum saat melihat wanita keras kepala dan ketus itu, sedang menahan malu.
"Aku tidak menginginkan apa pun" jawab Riana membalik badan ingin melangkah keluar, ia juga masih menundukkan pandangannya.
Sebelum ia melangkah, sepasang tangan melingkar di perut ratanya, Braylee kembali memeluknya dengan agresif, dan menyimpan dagunya di bahu wanita cantik itu.
"Kau yakin tidak menginginkannya?" Bisik Braylee di telinganya.
"Menginginkan apa, jangan sembarangan kamu"
"Kita bisa membuatkan adik untuk Ronald lagi, apa kau tidak ingin hm" ujar Braylee dengan tangan yang mulai nakal.
BLUSHH
__ADS_1
Wajah Riana sudah seperti kepiting rebus, ia sangat malu saat ini.