
"Bagaimana bisa mobil ini siap hanya dalam sehari? Bukannya kerosakannya serius?"
Mendapat pertanyaan dari istrinya, ia hanya mengangkat bahu acuh. "Apa itu penting?" Tanya Braylee.
Kenapa juga aku bertanya padanya, padahal aku pasti tidak akan mendapat jawabannya. Hanya membuang-buang waktuku saja. Batinnya. Memilih tak menanggapi Braylee lagi, dan melangkah masuk ke dalam mobil.
Braylee menghidupkan mobil isterinya, kembali ke rumah kontrakan mereka.
Tiba di rumah, Riana sudah di sambut oleh para wanita sinis yang ternyata sudah kembali ke kontrakan.
Ia melihat ke arah kedua wanita itu yang menatap sinis ke arahnya.
Lebih baik lagi jika mereka berdua tidak usah kembali ke sini, hanya membuat mood berantakan saja. melangkah ke kamarnya.
Tiba di kamar, ia melihat sebuah kasur yang berada di bawah lantai.
"Kenapa ada kasur di situ? kasur itu dari mana?" Tanya Riana pada Braylee yang lagi-lagi hanya mendapat pertanyaan sama semasa ia bertanya tentang mobilnya tadi, ia itu hanya mengangkat bahu acuh.
Ck. Ia berdecak dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa My?" Tanya Ronald saat melihat Mommynya kesal.
"Tidak sayang, Mommy mau mandi dulu,"
Ia mengambil baju ganti dan melangkah ke dapur di mana ada kamar mandi di sana. Saat tiba di kamar mandi, ternyata Riana terlupa membawa handuk. Ia kembali ke kamar semula untuk mengambil handuk.
Monica yang dari tadi sengaja memperhatikannya, dan berniat buruk. Diam-diam ia masuk ke dalam kamar mandi mengambil baju Riana, dan membawanya keluar dari kamar mandi.
"Baru tahu rasa kau wanita kampung," Monica tersenyum senang, karena ia sudah bersiap untuk mengerjai wanita itu.
Riana kembali ke kamar mandi, tanpa memperhatikan pakaiannya yang ternyata sudah tak berada di dalam, ia langsung saja mandi.
"Kemana pakaianku? Bukannya tadi aku sudah membawa pakaianku masuk ke dalam sini?" Tanya Riana pada dirinya sendiri.
Mengambil handuknya. "Apa iya aku hanya memakai handuk ini keluar? Handuk ini kan terlalu pendek," Gumamnya melihat handuk pendek yang hanya bisa menutupi dada dan setengah pahanya saja.
Kembali mengambil pakaiannya yang ia pakai masuk ke dalam kamar mandi, berniat memakai semula pakaiannya, tapi saat ia mencium. ternyata pakaiannya itu sudah tak enak di hidu.
"Ya sudah, aku pakai handuk ini saja keluar" ia memakai handuk, dan keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Ternyata Monica sudah menunggunya di luar sambil tersenyum miring.
"Kenapa? Pakaianmu tidak berada di dalam ya?" mengejek Riana.
Riana menatap tajam pada Monica. "Jadi kau yang sudah mengambil pakaianku!" ia benar-benar geram pada wanita di depannya, karena ia sangat capek hari ini dengan banyaknya pekerjaan di rumah sakit. Tiba di rumah, ia harus menghadapi wanita seperti Monica lagi. Benar-benar hari yang sangat melelahkan baginya.
"Kalau iya, kenapa? Kamu marah?" Monica memangkin mencari gara-gara dengannya.
Riana berusaha mengontrol emosinya, berpikir jika ia melawan wanita di depannya, bisa-bisa ia sendiri yang akan rugi, karena bisa saja wanita itu memang berniat ingin menarik handuknya.
Ia memilih diam saja dan ingin melewati Monica, tapi wanita itu malah menahan lengannya.
"Kau mau kemana?" tanya Monica tersenyum penuh arti.
Riana menepis tangan Monica, tapi dengan kurang ajar wanita itu malah sengaja menarik handuknya.
Membuat handuk itu hampir saja terlepas dari tubuhnya. Mujur ada subuah tangan kokoh yang menariknya ke dalam pelukannya, dan menahan handuknya, yang sebentar lagi terjatuh dan berakhir iya polos semua.
"Apa yang kau lakukan Monica!" Sentak Braylee, rahangnya mengeras melihat tingkah Monica yang tak habis-habis ingin merepotkannya.
__ADS_1