
Beberapa hari berlalu, Braylee ternyata benar-benar menikahi Monica seperti yang wanita itu impikan selama ini. Awal mula pertunangan mereka, Braylee tak pernah berniat untuk menikahi wanita itu, tapi karena ia mempunyai tujuan tersendiri, ia memutuskan untuk menikahnya.
Tak terduga, acara pernikahan mereka berdua, bersamaan dengan datangnya kabar buruk, yang membuat Monica dan Cellin shock. Bagaimana tidak, perusahaan yang di pimpin oleh Braylee malah jatuh bangkrut.
Monica shock, karena laki-laki yang baru saja menikahinya tak memiliki kekuasaan dan jabatan lagi, alias menjadi rakyat biasa, dan kemungkinan akan melarat.
Cellin jangan di tanya lagi, ia langsung pingsan sebaik saja mendengar kabar kebangkrutan perusahaan B.B Group yang mengejutkan, publick saat ini sedang di hebohkan oleh bangkrutnya perusahaan raksasa B.B Group.
"Seperti yang kita ketahui, hari ini kita di hebohkan dengan jatuhnya perusahaan B.B Group, yang dikabarkan mempunyai banyak hutang di mana-mana, perusahaan lainnya yang sempat menanam saham di B.B Group, mereka semua juga menarik saham mereka, dan tidak ada lagi perusahaan yang ingin meminjamkan dana pada perusahaan B.B Group.'' kata pengantar acara di televisi.
''Di nyatakan, jika B.B Group sudah sah akan di jual untuk membayar hutang perusahaan''
Monica terduduk lemah saat melihat layar televisi yang menampilkan kenyataan tentang bangkrutnya perusahaan B.B Group. "Braylee! Apa-apaan ini? Apa yang terjadi?" Tanya Monica pada Braylee yang baru saja bertukar status menjadi suaminya.
"Seperti yang kau lihat, ku rasa kau juga punya mata untuk melihat berita itu, tidak perlu bertanya lagi padaku."
"ARKHHHHHHHHHHH, aku tidak mau hidup susah!!!" Teriak Monica.
__ADS_1
Braylee hanya diam membiarkan Monica, melangkah naik ke kamarnya. Di kamar ia melihat istrinya sedang mengemasi barang-barangnya.
"Kau mau kemana?" Tanya Braylee pada istrinya.
"Sebentar lagi kita pasti akan di tendang dari sini, sebelum kita di tendang, alangkah baiknya jika kita mengemasi semua barang-barang kita," jawab Riana tanpa melihat ke arah suaminya yang sedang memperhatikan wajah cantik wanita itu, tak ada garis kekhawatiran dari gadis itu saat mendengar berita kebangkrutan, dan hilangnya nama serta jabatan suaminya. Membuat Braylee semangkin mencintainya.
"Kau tidak ingin membawaku bersamamu?" Tanya Braylee membuat wanita itu berdecak.
"Pertanyaan konyol, bukankah kita semua memang harus pergi dari sini!" Ketus Riana.
Braylee gemes melihat istrinya yang suka marah-marah dan ketus padanya, ia menarik tubuh Riana, dan menjatuhkan tubuh mereka berdua di atas ranjang. Laki-laki tampan itu memeluk erat tubuhnya.
"Kau saja yang melarat, aku masih mempunyai pekerjaan!" Ujar Riana. Ia sengaja tak menjawab pertanyaaan Braylee padanya.
Bukannya marah, pria itu malah tertawa sumbang yang membuat suaranya memenuhi kamar mewah itu.
"Gila" umpat Riana berpikir jika suaminya sudah mulai tidak waras karena jatuh miskin secara mendadak.
__ADS_1
"Kenapa kau suka sekali marah-marah Baby ... Apa kau tidak mencintaiku hm?" menyatuhkan hidung mancungnya dengan hidung munggil gadis di depannya.
"Kenal juga enggak, masak udah mau cinta" gumam Riana yang tentunya pasti akan di dengar oleh Braylee, karena wajah mereka berdua sangat dekat.
"Tidak kenal? Kau masih tidak mengenaliku Baby?" Jawab Braylee masukkan tangannya ke dalam baju Riana.
"Apa yang kau lakukan, keluarkan tanganmu!"
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar. "Itu ada yang datang," Riana.
Braylee berdiri dan membuka pintu kamarnya.
Cklekkkk
"Maaf tuan, ada yang mencari anda di bawah tuan muda," kata salah satu pelayan di Mensionnya.
__ADS_1
"Hm," Braylee hanya berdehem, kemudian melangkah turun ke bawah untuk menemui salah satu pegawai bank yang mendatangi Mensionnya.