Benih Siapa Yang Aku Kandung

Benih Siapa Yang Aku Kandung
Berdebat.


__ADS_3

"Jangan becanda kamu, bagaimana jika dia tidak akan sadar," kata Riana berkaca-kaca, ia tak sanggup berpisah dengan putranya.


Mendengar ucapan Riana, Braylee hanya diam, tak berniat untuk menanggapi wanita itu lagi.


"Apa kau mendengarku? Bagaimana jika dia tidak akan sadar lagi? Dan apa maksudmu mengambil keputusan ini? Kau pasti tau bukan, jika aku yang telah membesarkan Ronald selama ini, kenapa kau dengan mudahnya ingin mengambilnya dariku, kenapa?" Bulir-bulir dari kedua bola mata Riana semangkin deras.


Braylee berdiri dari duduknya, dan mulai menjalankan kakinya keluar dari ruangannya itu, Riana mengikuti langkah kaki Braylee, sambil mnegusap kasar kedua bola matanya yang di banjiri air mata.


"Braylee!!! Aku sedang berbicara padamu Braylee!!!" Panggil Riana mengikuti langkahnya masuk ke dalam sebuah ruangan lain.


Ia menghentikan langkahnya, saat melihat seorang wanita cantik terbaring kaku di atas brankar yang di lengkapi dengan berbagai alat-alat medis.


Melangkah mendekat ke brankar wanita itu. Tiba di sana, ia melihat wajah Ziery yang sangat pucat seperti tak ada darah di bibirnya, Ziery tampak seperti orang yang sudah tak bernyawa.


"Ziery ... Jadi ini wanita yang bernama Ziery?" Tanya Riana.


"Iya, berdoa saja, semoga dia cepat sadarkan diri, dan membuka semua kebenaran yang tersembunyi selama ini,"


"Tapi kau tidak bisa menahan Ronald bersama mu Braylee, biarkan dia hidup dengan ku," ujar Riana lagi, masih tak menyetujui keputusan Braylee.


"Tidak, Ronald akan tinggal denganku, sampai kakakmu ini sadar,"

__ADS_1


"Kau jangan egois Braylee!! kau jangan mementingkan dirimi sendiri!!"


"Cukup Riana!! Apa yang salah jika dia tinggal di sini! Tidak ada yang salah bukan?"


"Katamu tidak ada yang salah! Tapi tidak untuk ku!! Aku tidak mau jauh dari putraku Braylee!!" Riana berteriak melepaskan amarahnya.


Mereka berdua terdiam cukup lama. "Xan!!" Ia memanggil Asistennya yang sering siap siaga.


"Ya tuan,"


"Bawa Nona Riana pulang," perintah Braylee.


"Mari Nona,"


"Pulang Riana, jika kau seperti ini, kau akan semangkin sulit untuk bertemu dengan Ronald lagi,"


''Kau mengancam ku? Kau tidak berhak mengangancam ku Braylee! Kau tidak berhak melakukan ini padaku! Aku yang telah melahirkan dan membesarkan Ronald, kau tidak berhak untuk memaksaku!" pekik Riana.


Mereka kembali saling beradu pandang. "Pulanglah, Ronald akan baik-baik saja di siini,''


Riana kembali mnegusap kasar air matanya kemudian pergi dari Markas Braylee. Karena ia pikir, percuma dia berdebat dengan Braylee, tetap saja pria itu tak akan mau mengalah.

__ADS_1


,,,


Keesoakan harinya.


Riana sedang duduk di kursi tunggu, yang berada di rumah sakit saat ini, ia tampak termenung jauh sekali.


Tiba-tiba seseorang duduk di dekatnya. "Ada apa? Kau tampak diam saja sedari tadi? Apa kau mempunyai masalah?" Tanya dokter Riz.


Menggeleng lemah. "Tidak dokter Riz, aku tidak punya masalah apa pun," Jawab Riana berbohong.


"Ini, di minum dulu,'' Dokter Riz menyodorkan air padanya.


Riana tersenyum tipis, kemudian mengambil air minum tersebut. Dan langsung meminumnya.


Setelah meminum itu, ia memegang kepalanya yang terasa pusing.


BRUKKK


Riana jatuh tak sadarkan diri.


,,,

__ADS_1


Tampak Riana yang berbaring dalam sebuah kamar, dengan tubuhnya yang di ikat.


__ADS_2