
Fredly dan Braylee berjalan di dalam hutan untuk mencari keberadaan Albert.
"Kak, ini seperti darah'' kata Fredly mencium cairan berwarna merah yang melekat pada dedaunan. "Benar kak, ini darah," tambah Fredly setelah mencium cairan itu.
Braylee mengambil cairan itu juga. "Masih baru, berarti Albert belum jauh dari lokasi ini, ayo cepat kejar dia" mereka berdua mengejar dan mengikuti jejak darah Albert.
"Itu dia kak!" tunjuk Fredly pada Albert yang ternyata sudah terduduk lemah, karena ia tak bisa lagi untuk berlari. Kakinya terasa sangat sakit, dan banyak kehilangan darah.
"Bodoh! kau pikir semudah itu kau bisa lari dari ku hah!" Braylee memukul wajah Albert yang sudah lebam semua.
"ARKHHHHHHHH" Ia berteriak kesakitan.
Riana yang sedang memarkir mobilnya di pinggir jalan, sambil mengingat-ingat jalan ke Markas suaminya. Tak sengaja ia mendengar teriak suara tak asing di telinganya.
"Suara itu ..." gumam Riana. "Seperti suara Ayah" tambahnya.
"ARKHHHHHHHH" Albert kembali berteriak saat Braylee malah menginjak jari-jarinya dengan sadis.
"Ayah! Itu benar suara Ayah!" Riana turun dari mobil dalam keadaan gelap, ia berjalan masuk ke dalam hutan untuk mencari sumber suara tersebut.
__ADS_1
Samar-samar ia kembali mendengar suara, tapi kali ini yang ia dengar adalah suara suaminya.
Braylee. Betin Riana melajukan langkah kakinya.
"Lebih baik kau mati saja, seharusnya aku sudah membunuh mu, saat pertama kali aku bertemu denganmu lagi," Braylee ingin menarik pelatuk senjata apinya.
Albert sudah pasrah jika harus mati saat ini juga. Ia sudah tak mempunyai pilihan lagi, selain dari mati di tangan anak Browne.
Albert menutup kedua bola matanya, untuk menunggu timah panas tersebut masuk ke dalam otaknya.
Riana yang berlari, akhirnya tiba di lokasi, di mana ia melihat, ternyata benar, pendengarannya tak salah, itu memang sang Ayah yang sedang berada di depan Braylee.
Sedikit lagi timah panas menembusi kepala Albert. Tapi terhenti saat Riana berteriak.
"TIDAKKKKK!!!!! JANGAN!!!!!!" Pekik Riana berlari sekuat tenaga, dan langsung mendorong Braylee yang ingin menembak kepala Albert.
"Jangan lakukan itu!!!" teriak Riana mengecek Ayahnya yang masih hidup, tapi dalam keadaan sangat memprihatinkan.
GLEK!
__ADS_1
Asisten Xan menelan salivanya dengan susah payah, karena sebentar lagi tuannya pasti akan mengetahui siapa sebenarnya istrinya.
"Apa yang kau lakukan di sini Sonata!" Ujar Braylee, tapi wanita itu tak menanggapinya.
"R-Riana," kata Albert menyebutkan nama putrinya.
"Iya Ayah, bagaimana keadaan Ayah? apa yang terjadi dengan Ayah? dan bagaimana Ayah bisa berada di sini?" Tanya Riana beruntun pada sang Ayah. Meski bagaimana pun jahatnya Albert padanya, tapi ia tetap tak membenci orang tua itu. Karena Albert tetap Ayah kandungnya. Itu lah yang berada di pikiran Riana.
DEG!!
Ayah?. Batin Braylee membeku di tempat, saat mendengar Riana memanggil Albert, pria paruh baya yang ia anggap telah membunuh Daddy nya, ternyata adalah Ayah dari wanita yang sangat ia cintai.
"Apa maksud mu memaggilnya Ayah, Sonata?" Tanya Braylee dengan perasaan berdebar-debar, menunggu jawaban dari istrinya.
Mendapat pertanyaan, Riana menoleh ke belakang melihat Braylee yang sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan, wajah pria itu sangat terlihat dingin.
"Tentu saja aku memanggilnya 'Ayah' karena Albert memang Ayahku, lebih tepatnya, Ayah kandungku!" Ucap Riana penuh penekanan.
DEG!!
__ADS_1
Tubuh pria itu terasa membatu. Senjata yang berada di tangannya terjatuh begitu saja, tak percaya dengan kenyataan yang berada di depannya.