
Dokter Riz tersenyum mendengar ucapan wanita di depannya. "Kau sudah sarapan?" Dokter Riz tak ingin membahas tentang tanda cinta yang berada di leher wanita pujaannya itu.
Megangguk. "Iya, aku sudah sarapan," jawab Riana menatap laki-laki yang sudah lama ia sukai.
"Iya sudah, ayo" dokter Riz kembali menarik tangannya.
,,,
Dor! Dor!
Dua peluru bersarang di kepala penjahat yang mencoba untuk menculik Ronald. Monica yang menerima kabar itu, kaget setengah mati, ia tak tau siapa yang telah menembak orang suruhannya, tapi ia juga sangat takut, Jika sampai Braylee tahu, ia merencanakan penculikan pada bocah yang ia anggap anak tiri Braylee.
Monica Mondar-mandir di lokasi syutingnya. Siapa yang melakukan itu? Siapa yang melindungi anak janda sialan itu?. Batin Monica terus berpikir, jantungnya berdebar-debar takut jika semuanya ada kaitannya dengan Braylee.
Markas Dark Revenge.
"Bagaimana?" Tanya Braylee pada Asistennya.
"Semua sudah beres tuan," jawab Asisten Xan.
Braylee menyilang sambil menggoyang-goyang tubuhnya di atas kursi empuknya. "Wanita itu benar-benar ingin mencari mati, aku sudah tidak sabar ingin menghancurkan otak dangkalnya itu, dia masih hidup hingga hari ini karena dia masih beruntung aku belum menemukan Albert sialan
itu." Ujar Braylee pada dirinya sindiri.
"Apa yang tuan ingin aku lakukan selanjutnya?"
__ADS_1
"Terus awasi dia, jangan sampai dia berani melukai putraku"
"Baik tuan,'' patuh Xan.
"Satu lagi, kau atur pertemuanku dengan wanita itu, aku ingin bertemu dengannya di hotel, sepertinya dia harus di beri sedikit pelajaran karena berani mengganggu putraku," ujar Braylee tersenyum jahat.
"Baik tuan, akan segera saya atur,''
"Hm"
Rumah sakit.
Riana duduk di bangku yang berada di halaman rumah sakit, ia termenung jauh, membayangkan nasibnya akan seperti apa kedepannya, menjalani hidup dengan pria seperti suaminya. Arh, entahlah, apa dia benar-benar suamiku? Aku meragukan itu. Pkir Riana.
"Hei, apa yang kau pikirkan? Seperti kau ada masalah?" Tanya dokter Riz, dari punggungnya.
Dokter Riz dan Riana berbincang-bincang di halaman rumah sakit, sambil sesekali tertawa bersama, tatapan dokter Riz pada Riana, sangat lembut dan mengandung makna mendalam.
,,,
Malam hari.
Riana baru saja pulang dari rumah sakit, ia kembali ke Mension Braylee, karena tadi Asisten Xan menghubunginya dan memberitahukan jika Ronald sudah berada di Mension suaminya.
Ia melangkah masuk ke dalam. Mengedar pandangan di rumah megah itu, tak ada siapapun di sana. Melangkah naik, menuju kamar Braylee, saat ia membuka pintu, ia melihat pria itu berdiri seperti sedang menunggunya.
__ADS_1
"Dari mana saja kau?" Tanya Braylee menatapnya.
"Dari rumah sakit, mau dari mana lagi," acuh Riana.
Bergerak, melangkah pelan mendekatinya. Braylee menyentuh rambut wanita di depannya, Riana masih tetap diam melihat pria itu.
"Kau tahu?" ujar Braylee menggantung ucapannya.
"Tahu apa?" Tanya Riana ingin menjauhkan tubuhnya dari Braylee, tapi pria itu malah menarik rambutnya, membuat ia tetap berada di posisinya.
"Dari ujung rambut, sampai ujung kakimu, dan semua yang berada dalam tubuhmu ini, adalah milikku, jika ada laki-laki yang mencoba mendekatimu, aku pastikan, jika pria itu hanya akan tinggal nama saja," bisik Braylee tepat di telinga wanita di sampingnya.
"Apa maksudmu?" Menatap tajam pada Braylee.
"Jauhkan dirimu dari pria itu, jika kau tidak ingin aku membunuhnya"
"Kau memata-mataiku?"
"Kalau iya kenapa?"
"kau sungguh keterlaluan!"
"Apa kau menyukai pria itu?" Tanya Braylee.
"Aku mencintainya," jawab Riana menantang pria di depannya.
__ADS_1
Urat-urat tampak timbul dari wajah pria berasal Amerika itu, matanya memerah, rahangnya mengeras, dengan tatapan seperti ingin membunuh mangsanya detik itu juga, saat mendengar pengakuan dari istrinya sendiri, yang berkata demikian.