Benih Siapa Yang Aku Kandung

Benih Siapa Yang Aku Kandung
Kenapa


__ADS_3

Tiba di dalam ruangan itu, Riana tertegun, ternyata ruangan tersebut di lengkapi dengan alat-alat berbagi jenis senjata, melangkah pelan masuk lebih dalam lagi. Ia melihat putranya sedang memegang senjata api, dan di ajarkan oleh seorang pria muda tampan.


"Ronald!" Panggil Riana menghampiri putranya dan langsung memeriksa tubuhnya.


"Ada apa My?'' Tanya Ronald heran melihat tingkah Mommynya.


"Kau tidak apa-apa sayang? Apa ada yang sakit?" Memutar tubuh putranya.


"Aku baik-baik saja My ..." Jawab Ronald mencium Mommynya dan tersenyum manis.


"Kau membuat Mommy khawatir son." Memeluk putranya. Braylee tersenyum tipis saat melihat Riana begitu peduli dan sayang pada putra mereka. Ya meski Riana tak mengetahui akan hal itu.


"Hai kakak ipar" sapa seorang pemuda berusia sekitaran 26 tahun.

__ADS_1


Riana mengangkat satu alisnya melihat ke arah pemuda itu. Iya tak menjawab pemuda tersebut, karena ini pertama kali iya melihat laki-laki itu.


"Namaku Fredly, aku adik kak Braylee'' tambah Fredly saat Riana hanya diam.


Adik? Braylee punya adik?. Batin Riana


"Hahahaha, santai saja kakak ipar, jangan membuat wajah bertanya-tanya seperti itu, aku adik angkat kak Braylee," ujar Fredly.


''Owh, Riana'' jawab Riana tersenyum tipis memperkenalkan dirinya.


"Ehem, santai saja kak Braylee, aku hanya bercanda" menggaruk kepalanya yang tak gatal, kemudian kembali mengajari Ronald bermain senjata api.


Riana mengedar pandangannya, tak sengaja ia seperti menangkap satu ruangan yang terlihat ada banyak layar CCTV di sana. Ia melangkah mendekati tempat tersebut.

__ADS_1


Ia melihat, ternyata semua yang berada dalam Mension megah itu, dari segala penjuru kiri dan kanan, depan belakang semua dalam pantauan CCTV, dan CCTV itu juga berhubungan langsung ke laptop dan juga ponsel Braylee.


Akhirnya terjawab sudah pertanyaan yang berada dalam benaknya tadi malam, tentang Braylee yang mengetahui jika bukan dia yang membuat kopi untuknya semalam, ternyata mereka semua dalam pantauan pria itu.


"Kenapa kau melakukan semua ini?" Tanya Riana pada Braylee, yang masih setia berdiri di sebelahnya.


"Jika aku tidak melakukan semua ini, mungkin sudah lama aku jadi mending," Jawab Baraylee.


"Kenapa kau seyakin itu? Dan kopi semalam yang aku berikan padamu, itu kopi buatan Mommymu, jika kau memang memantau kami, berarti kau juga pasti tahu bukan, jika yang membuat kopi itu Mommymu sendiri, dan mana mungkin dia ingin mencelakaimu, bukankah kau adalah putra kandungnya?" Tanya Riana bertambah bingung.


Terdiam sejenak menelisik wajah cantik wanita di depannya, kemudian melangkah ke arah sofa, dan mendudukkan bokongnya di sana.


"Kau tidak perlu terlalu dalam mencampuri masalah ini, cukup kau bisa waspada selama tinggal di sini, dan kau pasti masih ingat bukan, apa yang pernah aku katakan padamu beberapa hari yang lalu? Jika yang kita lihat itu, belum tentu seperti yang kita lihat, kadang kita juga harus bersikap egois demi mempertahankan hidup kita, ku rasa kau cukup bijak untuk mencerna kata-kata itu," jawab Braylee mengulang ucapannya tempo hari, dan mengeluarkan rokoknya, membakar kemudian menyesapnya sambil menyilang.

__ADS_1


Riana terdiam. Ia mulai mengerti apa yang di maksud oleh suaminya. Laki-laki di depannya itu sedang menjelaskan padanya, jika mereka saat ini hidup di keliling oleh duri yang berbisa, kapan saja bisa menusuk mereka dan berakhir dengan kematian jika ia tak lebih waspada lagi dari sebelumnya.


__ADS_2