Benih Siapa Yang Aku Kandung

Benih Siapa Yang Aku Kandung
Kau ingin Mati


__ADS_3

"Jalan saja" Braylee menuntun Riana ke mobilnya dan menyuruh Riana mengemudi mobilnya. Alasan Braylee menahan Riana, itu karena ia melihat wajah Braylee.


"Masuk!" Titah Braylee menyuruh Riana masuk ke dalam kursi pengemudi.


Dari pada mati konyol, lebih baik ikuti saja perintahnya. Batinnya. Naik ke kursi kemudi.


"Bawa mobil ini" Braylee sudah duduk di kursi penumpang masih menyodor Riana senjata.


Menghidupkan mobil Braylee, dan mulai menjalankannya mengikuti perintah pria di sebelahnya.


,,,


Beberapa minit berlalu mereka berdua tiba di depan sebuah rumah yang terlihat kumuh dari luar.


"Turun!'' Titahnya lagi.


Turun dari mobil tanpa membantah sedikit pun.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah kumuh yang ternyata di dalam sangat mewah dengan berbagai alat senjata api.


Berhenti di hadapan sebuah pintu. "Masuk"

__ADS_1


Ragu untuk masuk ke dalam. Melihat pada pria tampan berwajah datar di sebelahnya. "Kau ingin aku melepaskan timah panas ini di kepala mu?"


Mengalih pandangan ke hadapan pintu, memutar knop dan melangkah masuk ke dalam. Ternyata di dalam sebuah kamar.


Mulai merasa was-was. Untuk apa pria ini menyuruhku masuk ke dalam kamar ini. Batinnya.


Braylee mengunci pintu kamar kemudian mengantongi kunci tersebut. Ia juga tidak lupa mengamankan senjata apinya.


"Kenapa kau membawa ku kemari, aku mau pulang" ujar Riana. Ia akhirnya berani bersuara setelah Braylee menyimpan senjatanya.


Tidak menjawabnya. Braylee membuka jaket, terlihat baju putih dalam jaket di penuhi darah segar. Mendekati sebuah lemari, kemudian mengambil alkohol menyiram punggungnya yang terkena tembakan setelah membuka baju putihnya. Terlihat dada bidang yang sangat seksi dan menggiurkan.


Wow! Seksi. Seru Riana dalam hati.


Ia memukul kepalanya sendiri karena berani berpikiran mesum. Apa-apaan kau Riana. Tambahnya masih membatin.


Brayle mengambil beberapa alat untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di punggungnya.


"Sini, biar aku bantu" mendekati laki-laki asing itu.


"Tidak usah" datar.

__ADS_1


"Aku bisa melakukannya" mengambil benda dari tangan Braylee dan mulai mengeluarkan peluru dari punggungnya. Tentu saja Riana sangat terampil, karena ia seorang dokter bedah.


Hanya memakan beberapa minit saja Riana sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia bahkan sudah membalut luka Braylee.


Braylee kembali menodongnya dengan senjata api tepat di kepalanya. Menatap kesal pada Braylee, karena tak tau berterima kasih menurutnya, tadinya ia berharap jika ia membantu pria di hadapannya, Braylee akan melepaskannya, tapi ternyata ia salah, pria itu malah kembali mengancamnya.


"Katakan, apa yang kau lakukan di lokasi tadi, apa ada seseorang yang mengirim mu?" Tanya Braylee.


"Apa yang kau bicarakan tuan, tidak ada siapa pun yang mengirimku, aku baru saja dari rumah sakit dan ingin kembali ke rumahku, tapi ban mobilku terkena tembakan, hanya itu alasannya aku berada di sana" jujurnya.


Suara ini lagi.... Tapi dia bukan gadis malam itu, gadis ini terlihat sangat culun, meski mereka memang lumayanorip. Batin Braylee menelisik wajah cantik gadis di depannya. Ia masih mengingat wajah gadis yang ia tiduri beberapa tahun lalu, di sebuah hotel yang berada di Indonesia.


"Siapa nama mu?" Entah mengapa Braylee tergerak untuk mempertanyakan nama wanita di depannya.


"Lyn, Lyn Sonata." Jujur Riana menyebut nama identitas palsu yang ia gunakan.


"Tolong, aku mau pulang, ini sudah pukul tiga dini hari" tambahnya melihat jam.


Menyeringai dingin mendekatkan wajahnya pada Riana. "Kau pikir semudah itu kau bisa lepas dari ku? Kau sudah terlanjur melihat wajah ku, jadi kau hanya punya dua pilihan, mati, atau tetap terikat dengan ku" bisik Braylee tepat di telinganya.


"Bedebah!!" Geram Riana menendang senjata api Braylee berniat kabur dari pria yang ia anggap gila.

__ADS_1


Tapi secepat kilat Braylee mengambil pisau lipat dari saku menarik tubuh Riana dan menekan pisau di lehernya. Perlahan tapi pasti, darah segar mulai keluar dari leher jejangnya.


"Kau ingin mati lebih awal ternyata" bisiknya di telinga wanita yang berada dalam kunciannya


__ADS_2