
"Antar aku ke rumah temanku, aku ingin
mengambil mobilku dulu di sana," ucap Riana pada Asisten Xan yang sedang mengemudi.
Saat ini mobil baru saja meninggalkan pekarangan sekolah, tempat Ronald belajar.
Asisten Xan tak mengiyakan permintaan Nonanya, ia melihat dari kaca spion, seolah menunggu perintah dari tuannya, apa ia akan mendengar perkanaan Nonanya atau tidak.
Riana sadar dengan tindakan Xan. Ia mengalih pandangannya pada Braylee yang duduk tenang di sampingnya, karena posisi mereka berdua duduk di belakang kursi penumpang.
"Aku ingin ke rumah Lusy," kata Riana pada pria di sampingnya.
"Xan" panggil Braylee.
"Baik tuan," Asisten Xan langusng memarkir mobilnya di pinggir jalan, keluar dari mobil, berdiri dari jarak lumayan jauh.
Riana heran melihat tingkah Asisten Xan. Ada apa?. Batin Riana bertanya dalam hati, ia kembali mengalih ke sampingnya, melihat Braylee.
__ADS_1
Mengerut heran melihat laki-laki itu sedang membuka jasnya, ''Kau sedang apa? Kenapa kau membuka pakaianmu?" Tanya Riana.
Tak menjawab wanita itu, Braylee malah mendorong tubuh wanita di sampingnya, dan langsung menindihnya.
"HEY!! APA YANG INGIN KAU LAKUKAN!! APA KAU SUDAH GILA!!!" Teriak Riana.
Braylee tak memperdulikannya, Ia malah menyerang wanita itu, dan m*c*umnya dengan kasar.
"Ka .... Mmppppphhhhhh" Braylee membungkam mulut Riana yang berteriak.
Ia bahkan membuat tanpa cinta di leher wanita itu, sehingga sulit untuk di tutupi.
Braylee menghentikan aksinya setelah puas membuat tanda cinta di tubuh wanita itu. "Itu akibatnya jika kau keras kepala, dan berani melawanku," kembali memakai jasnya yang sempat jia buka tadi.
"GILA!!!" Pekik Riana merapikan semula pakaiannya yang sudah berantakan semua. Ia sangat emosi dengan perlakuan Braylee terhadapnya.
Memegang dagu Riana dengan kasar. "Kau dengar sini! Aku tidak melakukan perlawanan denganmu tadi, itu karena ada putramu di sana, tapi jika hanya kau dan aku, kau akan aku hukum setiap kali kau membuat kesalahan, atau membuatku marah, mengerti?"
__ADS_1
Riana menarik kasar wajahnya, kemudian membelakangi Braylee dengan bola mata yang berkaca-kaca. Ia menyembunyikan air matanya dari pria yang ia anggap ke terlaluan dan kasar itu.
Tak berapa lama Asisten Xan kembali masuk ke dalam mobil, dan menjalankan mobilnya semula.
,,,
Riana melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Ia merasa aneh melihat tatapan orang-orang yang berada di rumah sakit. Ada apa? Apa ada yang salah?. Ia tertanya-tanya dalam hati sambil melihat penampilannya.
Rapi, tidak ada yang salah. Tambahnya lagi masih membatin.
"Sonata!" panggil dokter Riz, laki-laki yang menyukainya, begitupun dengan Riana, ia juga sudah lama menaruh hati pada dokter Riz.
Melihat ke arah laki-laki itu, kemudian tersenyum manis. "Ada apa ya? Kok mereka semua memandang aneh ke arahku?" Tanya Riana pada dokter Riz.
Riz tersenyum dengan raut wajah kecewa, memegang tangan gadis cantik itu, membawanya ke depan cermin. "Lihat, apa yang berada di wajahmu," kata dokter Riz.
Ia sangat kaget saat melihat ada banyak tanda cinta di leher jenjangnya, apa lagi kulitnya yang putih, membuat tanda cinta karya suami bejatnya itu, tampak begitu jelas.
__ADS_1
Riz mengambil handuk kecil dari saku baju bewarna putih yang ia pakai, kemudian memberkannya pada Riana, "pakai ini saja, untuk menutupi lehermu," terdengar nada kecewa dari pria tampan itu.
"D-dokter Riz, jangan salah faham dulu, ini tidak seperti yang dokter pikirkan," ujar Riana terbata-bata.