
Cellin terdiam mendengar ucapan Braylee yang mengatakan, 'tanyaka saja pada diri Mommy sendiri'
"Apa maksudnya ini tante?" Tanya Monica, membuat Cellin terdiam seribu bahasa, ia tak tau ingin menjawab apa, karena ia tak menyangka jika putranya benar-benar menikahi wanita lain, padahal ia hanya berniat untuk mengancam Braylee, agar ia ingin segera menikahi Monica, tapi ia salah, ternyata benar yang di katakan Markus, jika putranya semangkin hari, semangkin tak bisa di kendalikan.
"Tante! Aku bertanya pada tante, apa tante yang mengizinkan Braylee untuk menikah!" Monica terus bertanya padanya.
Cellin hanya bisa memijat pelipisnya. Bingung ingin menjelaskan apa pada Monica.
"Ayo kita turun sarapan," kata Braylee menghampiri Riana, dan menarik tangannya untuk turun sarapan. Ronald juga mengikuti Daddy Mommynya.
Tiba di luar kamar, Riana menarik kasar tangannya dari pergelangan tangan Braylee, kemudian memegang tangan putranya.
"Kau marah," tanya Braylee mengikuti punggung Riana yang sudah membalik badan, dan melangkah cepat.
__ADS_1
Ia menghentikan langkah kakinya, melihat semula ke arah belakang, dengan pandangan tak suka. "Maafkan saya MR X yang terhormat, tapi anda seharusnya tidak membawa saya dan putra saya ke dalam kehidupan anda yang terlalu berdrama ini!" Menatap Braylee dengan bola mata menantang.
Braylee juga menatap kedua bola mata wanita keras kepala di depannya itu. "Mari kita sarapan," ajak Braylee tak peduli dengan kemarahan Riana.
Riana bertambah marah, saat Braylee mengabaikannya. Mengambil ransel putranya, mengeluarkan uang yang Braylee berikan tadi pada Roland dari dalam ransel, kemudian mengembalikan uang pria itu.
"Ambil uangmu, aku tidak butuh uangmu, aku masih mampu memberikan putraku uangku sendiri," kata Riana marah, setelah itu ia pergi dari hadapannya dengan menarik tangan putranya.
Braylee masih berdiri tenang melihat Riana yang tak puas hati padanya. Sebenarnya Braylee adalah pria yang mudah emosi, tapi karena ada putranya di situ, ia tak ingin memperlihatkan keburukannya di hadapan Ronald, takut jika putranya bisa membencinya nanti.
Monica benar-benar ingin mencakar wajah Riana. Mereka mulai sarapan. Braylee mengambil dua keping roti, kemudian mengoleskan selai coklat, dan menaruhnya di piring putranya.
Monica mengeratkan pegangannya pada sendoknya, saat melihat lagi-lagi Braylee begitu peduli dengan bocah 6 tahun itu. Tak tau saja si Monica, jika bocah itu, adalah darah daging pria incarannya yang berada di depannya saat ini.
__ADS_1
''Jangan di manjakan, kita juga tidak tau, anak itu lahirnya dari laki-laki seperti apa, siapa tau saja hanya dari pria preman'' sindir Cellin, ia juga tak suka melihat perhatian Braylee pada Ronald, karena menurutnya terlalu berlebihan.
Braylee hanya diam, tak menjawab sindiran Mommynya.
"Kau biasa minum susu hm?" Tanya Braylee pada Ronald, terdengar sangat lembut. Ronald mengangguk, mengiyakan pertanyaan Braylee. Braylee mengambil susu, menuang ke gelas, dan memberikan pada Ronald.
Riana memilih diam dan sarapan dengan tenang, meski ia juga heran dengan sikap Braylee, karena begitu peduli pada putranya.
Monica juga benar-benar heran, dan panas dingin melihat tingkah Braylee. Santet apa yang wanita murahan ini berikan pada Braylee, sehingga dia begitu peduli pada anaknya. Sial!!. Batin Monica.
Mereka sarapan dengan tenang. Tak ada yang berani bersuara lagi, meski Cellin sekalipun.
Setelah selesai sarapan, Braylee melangkah keluar dari Mension megah itu.
__ADS_1
Monica juga berdiri, dan menghubungi seseorang. "Kau culik bocah yang baru saja aku kirim fotonya padamu" kata Monica memerintah seseorang dari seberang panggilan.