
Riana menutup mulutnya. "Jadi Ayah mengetahui, siapa pembunuh tuam Browne? Kenapa tadi Ayah tidak menceritakan hal sebenarnya pada Braylee Ayah?"
"Tidak Riana, suamimu juga tahu jika yang menyuruh Ayah membunuh tuan Browne itu adalah Markus, dia bahkan mengetahui perselingkuhan nyonya Cellin dengan Markus, tapi dia memilih membiarkan, dan kurasa musuh dalam selimut yang berada di markas suamimu, dia juga mengetahuinya, siapa sebenarnya musuhnya itu, dan saat ini yang bisa di percayai di antara orang terdekatnya, hanya Asistennya yang paling setia,"
"Benar kah ... Jadi, nyonya Cellin juga menjalin hubungan dengan tuan Markus ... Tapi, kanapa mereka membunuh tuan Browne Ayah?" Tanya Riana.
"Ayah juga tidak tahu tentang itu, tapi Ayah yakin, pasti ada dendam di balik semua kejadian yang menimpa keluarga besar tuan Browne,"
Riana terdiam, dendam? Ku kira hanya tuan Markus yang ingin membunuh Daddy Braylee? Tapi tak di sangka, ternyata masih ada dendam lain di sebalik semua ini ... Batin Riana.
"Ya sudah, Ayah istirahat dulu," ia membaringkan tubuh lemah Albert, kemudian menyelimutinya.
Tiba-tiba saja Albert memegang lenganya. "Ada apa Ayah?" Tanya Riana heran.
"Maafkan semua kekejaman Ayah," ia kembali meminta maaf, dengan bola mata menjatuhkan bulir-bulir bening.
Riana mengangguk dan tersenyum. Ia memeluk tubuh lemah Ayahnya yang tampak sangat kurus.
__ADS_1
Bagi Riana, meski bagaimana pun kesalahan yang pernah di lakukan oleh sang Ayah, tetap saja Albert itu adalah Ayahnya. Seperti air yang di cincang tak kan putus, seperti itu lah ikatan darah.
,,,
Keesokan harinya.
Ronald terbangun dari tidurnya. Ia melihat seorang pria paruh baya yang duduk membelakanginya.
"Mommy!" Panggil Roinald dengan suara yang serak.
"Iya sayang! Mommy berada di dapur, bentar," Riana melangkah masuk ke dalam kamar dan melihat Ayah dan anaknya.
Riana tersenyum saat mendapat pertanyaan tersebut. "Itu Ayah Mommy sayang, kakekmu," jawab Riana.
Albert juga baru menyadari jika semalam dalam kamar itu ada seorang bocah, karena semalam Riana tidur bersama Lusy, dan membiarkan Ayahnya tidur baresama Putranya.
"Apa ini anakmu Riana?" Tanya Albert seperti tak percaya saat melihat seorag anak laki-laki yang sudah besar.
__ADS_1
"Iya Ayah, dia putraku,"
"Anak tuan Braylee?" Albert memastikan.
"Iya"
"Ayah seperti tidak percaya, sudah berapa lama kau menikah dengan anak tuan Browne?" Taya Albert karena benar-benar heran melihat cucunya yang sudah tumbuh besar.
"Baru beberapa bulan saja Ayah,'' jujur Riana apa yang ia katakan barusan, ia teringat jika tak salah, mereka baru saja menikah selama 4 ataua 3 bulan yang lalu.
"Jangan becanda Riana, jika memang benar ini adalah anak tuan Braylee, bagaimana bisa dia sudah sebesar ini? Bukannya kalian berdua baru saja menikah?"
"Iya, kami memang baru saja menikah, tapi saat aku meninggalkan indonesia, aku sudah hamil anak Braylee, ceritanya panjang, nanti saja kita bahas itu lagi Ayah. Aku mau membuat sarapan dulu,"
"Baik lah,"
Ronald turun dari kasur dan meilhat sang kakek kemudian mendekatinya. "Kenapa dengan wajah anda?" Tanya Ronald pada Albert karena wajahnya di penuhi dengan berbagai luka.
__ADS_1
"Ini karena kakek terjatuh, panggil saja aku Kakek," bohong Albert mengusap pucuk kepala cucunya.
Siapa sangka, jika aku akan memiliki cucu dari keturunan tuan besar Browne, aku benar-benar tidak pernah terpikir jika putriku nanti akan berjodoh dengan anak tuan Bowne. Batin Albert.