Benih Siapa Yang Aku Kandung

Benih Siapa Yang Aku Kandung
Bagaimana


__ADS_3

Sore hari.


Riana sudah pulang ke rumah temannya. Ia melangkah masuk ke dalam, terlihat Ayahnya yang sedang duduk di atas sofa ruang keluarga.


Riana tersenyum pada Ayahnya.


"Bagaimana dengan keadaan Ayah? Apa Ayah sudah merasa baikan? Ayah sudah makan?" Tanya Riana.


"Ayah sudah makan, Ayah juga sudah merasa lebih baikan," tersenyum pada Putrinya. Albert terlihat sudah lebih baik dari sebelumnya.


"Lusy dan Ronald mana Ayah?" Tanya Riana mencari putra dan sahabatnya, karena Ia tak melihat mereka berdua dalam rumah itu.


"Aku di sini Riana," kata Lusy dari dapur melangkah keluar.


''Lusy, ah, maaf merepotkan mu, karena terpaksa memwbawa Ayahku datang kemari,"


"Eits ... Santai saja .... Aku ok kok, kau mau tinggal di sini sampai kapanpun, aku tidak masalah, sekurang-kurangnya ada yang menemani aku di rumah ini."


"Terima kasih, tapi ngomong-ngomong, putranku mana?"


"Owh, itu, tadi ada yang menjemputnya di sekolah, katanya suamimu yang menyuruh mengambil Ronald di sekolah untuk membawanya ke rumah suamimu," jawab Lusy membuat wanita itu panik. Bagaimana tidak, ia berpikir, bagaimana jika Braylee membawa putranya pergi jauh, karena masih dendam pada Ayahnya yang menyebabkan kecelakaan pada Daddynya, hingga berakhir Daddy suaminya di tewaskan oleh musuh.


Berdiri dari duduknya dengan wajah panik


"Ada apa Riana?" Tanya Lusy heran melihat reaksi ibu satu anak itu.

__ADS_1


ia mengambil kunci mobilnya. "Aku keluar sebentar Lusy, aku juga titip Ayahku ya," tanpa menjawab pertanyaan Lusy, Riana berlari keluar dari rumah Lusy, langsung mengemudi mobilnya ke kontrakan suaminya. Ia berpikir jika Ronald berada di kontrakan bersama suaminya.


Lusy yang berada di rumah jadi aneh sendiri. apa aku salah ya? Karena memberikan Ronald dengan suaminya. Batin Lusy bingung.


,,,


Beberapa menit berlalu, Riana sudah tiba di kontrakan.


Melangkah masuk ke dalam, tapi dalam kontrakan itu nihil, putranya tak berada di dalam.


Membuat Riana bertambah cemas, ia mengeluarkan ponselnya menghubungi nomor Braylee, tapi nomor pria itu tak aktif.


"Markas, mungkin dia membawa Ronald ke Markas,"


Riana langusng memasukkan mobilnya ke jalan hutan yang menuju ke Markas suaminya.


Hanya beberapa menit saja ia sudah tiba di markas.


Turun dari mobil dan ingin melangkah masuk ke dalam, tapi ia di hadang oleh penjaga Yang berada di luar Markas.


"Maaf Nona, anda tidak bisa masuk ke dalam sini," kata penjaga itu.


"Jangan menghalangiku, aku ingin bertemu dengan putraku yang berada di dalam, " ujar Riana ingin mendorong penjaga tersebut, tapi saat mendengar suara Asisten suaminya.


Ia menoleh. "Tuanmu mana?" Tanyanya pada Asisten Xan.

__ADS_1


"Tuan berada di atas Nona,"


"Mana putraku juga! Kenapa kalian mengambilnya di sekolah tanpa izinku!"


"Tenang Nona, putra anda berada di atas bersama tuan, tuan muda juga baik-baik saja"


''Aku ingin masuk ke dalam!"


"Tentu saja Nona, silahkan"


Asisten Xan mempersilahkan Riana masuk ke dalam Markas.


Melangkah menuju lantai tiga bersama Asisten Xan yang menemaninya.


"Maaf tuan, nona datang berkunjung" kata Asisten Xan pada Braylee yang sedang berdiri membelakangi mereka berdua.


Braylee memebalik badan dan melihat Riana. "Ronald mana?" Tanya Raiana tak sabaran.


laki-laki itu tak langsung menjawabnya, ia melangkah mendudukkan dirinya di sofa yang berada dalam ruangan tersebut. Kemudian memberi kode pada Asisten untuk keluar


Asisten Xan sedikit membungkuk, dan melangkah keluar.


"Ronald akan tinggal bersama ku, sampai kakak mu sadar dari komanya" datar Braylee, ia masih sakit hati pada Albert, meski bukan dia yang membunuh Daddynya, tetap saja, laki-laki itu juga terlibat.


"Jangan becanda kamu, bagaimana jika dia tidak akan sadar," kata riana berkaca-kaca, ia tak sanggup berpisah dengan putranya.

__ADS_1


__ADS_2