
Malam hari.
"Buatkan aku kopi, dan antar ke ruang kerjaku," kata Braylee tanpa melihat ke arah Riana yang sedang mengeringkan rambutnya di kamar, ia baru saja selesai membersihkan tubuhnya.
"Hm." Ia hanya berdehem menanggapi Braylee.
Pria itu melangkah keluar kamar menuju ruang kerja. Riana menagmbil ikat rambut, kemudian mengikat rambut ikalnya, dan memakai kaca mata bulatnya, keluar kamar melangkah ingin turun ke dapur untuk membuatkan suaminya kopi, seperti yang pria itu perintahkan tadi.
Di dapur ia berpapasan dengan Cellin, tak lupa dengan tatapan sinis ke arahnya. "Apa yang ingin kau lakukan di dapur ini gembel," ucap Cellin.
Riana tak menanggapinya, ia hanya dia melewati mertuanya yang sangat angkuh itu. Ia mulai mengambil gelas ingin membuatkan Braylee kopi.
"Aku sudah membuatkan putraku kopi, kau bawa saja kopi ini padanya." Kata Cellin memberikan secangkir kopi untuk Riana, ia tahu jika Riana pasti ingin membuatkan kopi untuk putranya.
Melihat kopi yang sudah di buat oleh Cellin, mengambil dari tangannya, melangkah keluar dari dapur membawa kopi buatan mertuanya untuk suaminya. Cellin tersenyum penuh arti saat Riana membawa kopi tersebut buat Braylee.
Tidak lama lagi. Batin Cellin.
Cklekkk
Pintu ruangan Braylee di buka dari luar. Ia
mengira itu adalah istrinya, saat mengangkat pandangan, ia melihat seorang wanita berjalan mendekatinya.
__ADS_1
Ternyata ia adalah Monica dengan penampilan sangat menggiurkan, karena ia hanya memakai lingerie tipis, memperlihatkan semua ********** terpampang jelas.
Braylee kembali melihat ke layar laptop di depannya. "Sayang ... Apa kau begitu sibuk?" Tanya Monica memutari meja kerja Braylee, kemudian mendudukkan dirinya di paha Braylee.
Ia membiarkan Monica duduk di pahanya. Perlahan wanita itu mulai meraba dada bidangnya. "Semalam aku tidak merasakan permainanmu di ranjang ... Ku rasa kita bisa mencobanya di ruangan kerjamu ini" ujar Monica dengan nada mendes*h.
"Aku sibuk." Jawab Braylee berwajah datar.
"Semalam kau sangat antusias, aku tidak sadar dengan apa yang terjadi, bagaimana jika kita mencobanya sekarang lagi sayang .." Monica mendekatkan bibirnya pada bibir seksi Braylee.
"Ini kopi anda," kata Riana entah kapan ia sudah berada dalam ruangan Braylee, melihat posisi mereka berdua yang sangat intim.
Monica berdecak saat melihat Riana yang mengganggu waktunya bersama tunangannya, alias suami wanita di depannya.
Wanita di depannya hanya memutar bola mata malas, melihat penampilan wanita itu seperti telanjang. Ia menyimpan kopi Braylee di atas meja kemudian ingin melangkah keluar.
"Kau mau kemana?" Tanya Braylee.
"Keluar," singkat Riana kembali ingin melangkahkan kakinya keluar.
"Berhenti di situ,"
Riana menghentikan langkahnya, kemudian membalik badan melihat Braylee, sedang mendorong tubuh Monica turun dari pangkuannya.
__ADS_1
"Kembalilah ke kamarmu," kata Braylee.
"Aku mau di sini," jawab Monica merengek.
"Kembalilah, tunggu aku di kamarmu," kata Braylee, wanita itu mengembang senyuman di wajah cantiknya.
"Baiklah," jawab Monica kegirangan ingin mencium Braylee.
Tapi pria tampan itu menghalangi bibir Monica sebelum menempel di wajahnya. "Pergilah,"
"Baik" Monica keluar kamar dan menyenggol bahu Riana.
Murahan. Batin Riana, entah mengapa ia merasa terusik melihat kemesraan Braylee dengan Monica, seolah ada perasaan tak rela dari dalam hatinya.
"Kenapa kau cepat sekali?" Tanya Braylee menatap wanita di depannya.
"Kenapa? Aku mengganggu waktumu bersenang-senang dengan kekasihmu itu!" Jawab Riana terdengar sangat ketus.
Braylee menarik tipis sudut bibirnya saat sadar ada yang berbeda dengan wanita di depannya.
"Kopi apa yang kau buat ini?" Tanya Braylee melihat ke arah kopi yang berada di depannya.
"Kopi jantan!" Jawab Riana kesal. Membuat Braylee menahan tawanya, karena wanita itu terus bersikap ketus padanya.
__ADS_1