
Diana melonggar pelukannya dan mengecup setiap inci pipi Riana, "Kau sudah tumbuh besar sayang ... Ibu masih ingat semasa ibu pergi beberapa tahun yang lalu kau masih berusia 15 tahun," kata Diana mengusap sayang pipi putrinya.
Riana mengangguk, "Iya Bu ... Kenapa ibu pergi meninggalkan Riana Bu, kenapa ibu tidak membawa Riana bersama dengan ibu ..." Tanya Riana pada ibunya.
"Maafkan ibu sayang ... Ibu benar-benar sudah kehabisan akal dan kesabaran sampai ibu pergi tanpa memikirkan kamu yang sangat membutuhkan ibu waktu itu. Maafkan ibu nak" kata Diana tampak penyesalan dari kedua bola mata wanita paruh baya itu.
Riana menggeleng, "Tidak Bu. Mari kita pulang dan memulai semuanya dari awal lagi," kata Riana mengajak ibunya untuk ikut bersamanya.
"Pertemuan ibu dan anak yang sangat mengharukan ck ck ck." Terdengar suara Markus melangkah menuruni anak tangga.
Diana berubah pucat saat melihat Markus. Riana memegang pergelangan tangan ibunya erat saat melihat ketakutan yang begitu besar di wajah ibunya.
"Hai menantuku," sapa Markus tersenyum miring pada Braylee.
Braylee juga membalas dengan tersenyum miring, "Aku akan membawa ibu istriku untuk tinggal bersamaku," kata Braylee.
Istri?. Batin Diana menoleh melihat wajah putrinya mendengar Braylee mengatakan 'ibu istri' karena dia tak tau jika putrinya sudah menikah dengan Braylee, bahkan sudah mempunyai seorang putra dan calon bayi yang sebentar lagi akan lahir.
Riana yan tahu arti tatapan ibunya. Hanya mengangguk pelan seolah mengatakan nanti akan aku jelaskan pada ibu.
__ADS_1
"Oya? Hahaha tidak semudah itu Braylee ... Diana adalah milikku, itu pembalasanku pada Albert yang berselingkuh dulu dengan istriku Bora sehingga bisa menghadirkan anak haramnya Ziery" Markus tak membenarkan siapapun yang ingin membawa Diana keluar dari Mension-nya termasuk Braylee.
Diana sangat kaget mendengar ucapan Markus. Ternyata keberadaannya di Mension itu juga masih sebahagian dari dendam.
"Tuan Markus yang terhormat, sayangnya saya tidak peduli dengan keputusan anda, apa anda setuju ataupun tidak. Saya tetap akan membawa ibu dari istri saya keluar dari neraka ini," jawab Braylee tak peduli sama sekali dengan bantahan Markus.
"Hahahahahah sayangnya kau saja belum tentu bisa keluar dari sini hidup-hidup, putra Browne" Markus menyeringai bersamaan anak buahnya berdatangan dari sebarang arah menodong Braylee dan Riana sejata api. Dia benar-benar dikepung oleh anak buah Markus.
Prok Prok Prok
Braylee menepuk tangannya, "Ah aku tidak menyangka jika kau sudah menyiapkan sambutan yang membuatku terharu, lumayan menarik. Tapi aku rasa kau belum beruntung," tersenyum penuh arti.
"Apa maksudmu?" Tanya Markus menatap penuh selidik pada Braylee.
"Papi!! Tolong aku!!" pekik Monica.
"Kau!!!" Markus sangat marah dengan rahang yang mengeras menunjuk Braylee. Ia tak menyangka jika ternyata Braylee begitu mudah mematahkan serangannya.
"Bagaimana?" Braylee seperti mengejek usaha Markus yang berusaha menangkapnya. Tapi tak pernah berhasil.
__ADS_1
"Cih!" Markus berdecih.
"Kau sedang menunjukkan sisi sebenar-mu?" Braylee.
"Braylee sialan!! Seharusnya dari dulu lagi aku sudah melenyapkan mu!"
"Owh ... Sayangnya tidak semudah itu untuk membunuhku Markus bodoh," Braylee.
Tiba-tiba Markus tertawa, "Hahahahaha. Aku masih mempunyai satu keberuntungan, karena kau tidak akan pernah melukai Monica," kata Markus penuh keyakinan mengeluarkan senjata api dari sakunya dan menodong Braylee.
Braylee mengangguk-angguk kemudian duduk di sofa menyilang mengeluarkan rokok membakar dan menyesap rokok tersebut.
"Kenapa kau begitu yakin?" Tanya Braylee menyeringai dan menghembus asap rokok dari mulutnya dengan elegan.
"Itu karena janin yang berada dalam kandungan Monica adalah anakmu!"
"Oya? Kau terlihat terlalu yakin," Braylee mengambil ponselnya dalam saku kemudian memutar video adegan panas Monica yang di gilir oleh beberapa anak buahnya.
"Lihat ini." Braylee melempar ponselnya pada Markus.
__ADS_1
HAP
Dengan sigap Markus menangkap ponsel itu. Dan melihat adegan panas putrinya yang bermain di layar.