
Asisten Xan menarik nafas berat setelah berhasil mengumpulkan data-data milik istri dan putri Albert.
Ia ingin sekali menyembunyikan semua itu. Tapi percuma, ia berpikir, cepat atau lambat, tuannya pasti akan mengetahui semuanya.
Melangkah dengan ragu ingin masuk ke dalam ruangan Braylee yang berada di Markas Dark Revenge.
Mungkin ini akan membuat tuan terpukul, tapi aku juga tidak mungkin menyembunyikan hal sebenar dari tuan. Ternyata benar apa yang sering di katakan oleh pengemis itu, jika suatu saat nanti tuan akan berhadapan di antara cinta dan dendam. Batin Asisten Xan merasa tak tega pada tuannya.
Karena ia tahu jika tuannya itu sudah mulai mencintai istrinya, entah baru di mulai, ataupun sudah sangat mencintai istrinya. Yang pastinya ia tahu tentang perasaan tuannya.
Dengan perasaan penuh keraguan. Ia mengetuk pintu ruangan Braylee.
"Masuk,"
Xan melangkah masuk ke dalam, ada perasaan kasihan pada tuannya yang sangat besar.
"Maaf tuan, kami sudah menemukan-----"
Drrrttt Drrrttt Drrrttt
Ponsel Braylee berdering menghentikan ucapan Asisten Xan.
__ADS_1
Braylee mengangkat panggilannya. Kemudian setelahnya ia buru-buru bersiap untuk keluar.
"Xan, aku mau keluar sebentar, kau simpan saja apa yang kau dapatkan itu di meja kerjaku, nanti aku akan memeriksanya," langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya tanpa menunggu jawaban Asistennya.
Ada kelegaan dari hati sang Asisten, karena tuannya tak dapat membaca informasi tersebut, yang akan membuat tuannya itu pasti akan down.
"Apa yang kau lakukan di ruangan kak Braylee?" Tanya Fredly.
"Tuan baru saja keluar dari ruangannya, tadinya aku ingin memberikan informasi yang berada dalam amplop ini,"
"Owh, jadi kak Braylee belum membaca itu?"
"Belum,"
"HM." Asisten Xan menyimpan amplop yang berisikan informasi tentang keluarga Albert di atas meja kerja tuannya. Kembali menarik nafas berat, dan melangkah keluar bersama Fredly.
,,,
Braylee melambaikan tangannya pada istri dan anaknya yang sedang duduk di bangku taman.
"Kalian sudah lama menunggu Daddy?" Tanya Braylee tersenyum lembut.
__ADS_1
"Tidak lama juga Daddy, kami baru saja satu jam menunggu Daddy di sini," Jawab Ronald menyindir Daddynya.
Braylee menahan tawa, kemudian melirik pada Riana yang berwajah cemberut. Moodnya sudah benar-benar berantakan karena pria itu malah terlambat datang, jika putranya tak menghubunginya, ia mungkin tak tahu jika anak dan istrinya sedang menunggunya.
Tadi pagi sekali pria itu pergi, setelah berjanji pada putra dan istrinya jika ia akan menemani mereka berdua ke taman nanti, karena hari ini akhir pekan. Tapi saat ia di Markasnya, saking sibuk, ia malah melupakan jika ia sudah berjanji dengan anak dan istrinya.
Braylee mengambil uang dari sakunya. Dan memberikan pada putranya. "Kau ke sana beli ice cream son," kata Braylee menunjuk penjual ice cream yang tak jauh dari lokasi mereka saat ini.
"Terima kasih Daddy,'' mengambil uang dari tangan Daddynya dan berlari ke tempat jualan ice cream tersebut.
Braylee mendudukkan dirinya di sebelah istrinya, dan memeluk bahu wanita yang sedang cemberut itu.
"Kau marah Baby?" Tanya Braylee mengecup pucuk kepala istrinya dari samping.
"Untuk apa aku marah, aku bahkan sudah tahu, jika yang mengajak bertemu itu, orang yang tidak bisa menepati janjinya," jawabnya menyindir.
Braylee melebarkan senyumannya dan menyatuhkan jari-jarinya pada wanita itu.
"Apa aku bisa mengatakan sesuatu?" Kata Braylee, ia sengaja tidak memperdulikan sindiran istrinya barusan.
"Apa, bilang saja,'' acuh.
__ADS_1
Laki-laki itu memegang kedua tangannya dan mengangkat dagu wanita itu agar menatap kedua bola matanya.
"Aku mencintaimu ..." Jawab Braylee tulus terlihat dari kedua bola matanya.