
Riana mendengus kesal karena suaminya mengambil kartu debitnya. "Ada apa dengan wajahmu? kau marah aku mengambil kartumu hm?" Tanya Braylee kemudian mencium pipi istrinya membuat Riana bertambah melototinya.
Ronald buru-buru mengalihkan pandangannya saat pria itu mencium Mommynya.
Pria ini sepertinya sebentar lagi akan gila. Batin Riana saat melihat Braylee tersenyum manis.
Braylee sangat jauh berbeda saat pertama kali Riana menemui pria itu, karena sekarang ia banyak tersenyum dan menjadi pria yang suka menjahilinya.
Semenjak bertemu dengan Riana, hidup Braylee yang sebelumnya terasa hampa dan suram, mulai berwarna karena sikap istrinya yang sering marah-marah dan ketus padanya, membuat hidupnya terhibur, karena wanita itu tak bersikap munafik di depannya hanya karena jabatan dan kekuasaan yang ia miliki, seperti orang-orang di sekelilingnya selama ini, semuanya penuh dengan kepalsuan.
,,,
Malam hari.
Terdengar dari luar kamar, Monica dan Cellin sedang berebut ingin masuk ke dalam kamar mandi, karena dalam rumah itu hanya ada satu saja kamar mandi yang terletak di dapur.
"Ada apa di luar?" Tanya Riana pada suaminya yang sedang bermalas-malasan di atas ranjang yang berukuran tak terlalu besar, dan tak terlalu kecil itu.
Braylee hanya mengangkat bahu acuh, membuat Riana kesal padanya. Ia melangkah keluar untuk melihat kedua wanita yang sedang ribut.
"Ada apa?" Tanya Riana pada mereka berdua yang sedang dorong mendorong di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Kamu enggak usah masuk campur, ini bukan urusan kamu!" Ketus Monica pada Riana.
Riana hanya memutar bola mata malas, kembali ingin melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Tok Tok Tok
Sebelum ia tiba di dalam kamar, ia mendengar seseorang mengetuk pintu kontrakannya.
Siapa?. Batinnya. Membalik badan dan melangkah mendekati pintu depan, kemudian membukanya. Ternyata seorang kurir yang sedang membawa kotak makanan.
"Dengan Mbak Riana?" Tanya seorang kurir tersebut.
Menyerjit. "Iya, saya sendiri,''
"Tapi saya tidak pernah memesan makanan Mas," jawab Riana masih bingung.
"Mbak ada memesan melalui online, semua makanan ini juga sudah di bayar Mbak," menunjukkan bukti jika ia ada memesan makanan.
Benar ... Batin Riana berpikir sedetik kemudian ia baru teringat jika ponselnya berada di kamarnya.
"Braylee" gumam Riana melangkah cepat masuk ke dalam kamar, tak lupa ia juga membawa makanan itu dan menaruhnya di atas bangku yang berada di luar.
__ADS_1
"Braylee!" Panggil Riana pada suaminya. Tapi pria itu hanya diam seperti tidak mendengarnya.
"Aku sedang berbicara denganmu!" duduk di atas ranjang dekat suaminya yang berbaring sambil bermain ponsel.
"Apa kau bisa memanggilku dengan panggilan yang lebih sopan? Usiamu jauh di bawah usiaku, bahkan perbedaan kita berjarak 11 tahun," jawab Braylee berwajah datar pada istrinya, ia sangat tak suka saat mendengar Riana memanggilnya dengan nama saja.
"Terserah! Mana ponselku!" Kata Riana, meminta ponselnya pada suaminya, ia tahu pasti pria itu yang memesan makanan dari luar.
Braylee diam dan berpura-pura masih bermain ponselnya, ia tak ingin menyahuti istrinya, jika wanita itu tidak memanggilnya dengan panggilan yang benar.
Menarik nafas dalam. "Suamiku yang tampan dan baik hati, apa suamiku ini yang memesan makanan online pake ponselku ya?" Tanya Riana mengatupkan giginya.
Braylee langsung mendudukkan dirinya sambil tersenyum pada istrinya kemudian memberikan Riana ponselnya yang ia sembunyikan di bawah pahanya tadi.
Riana mengambil ponselnya dan mengecek harga makanan tadi yang suaminya pesan. Riana membolakan kedua bola matanya saat melihat harga makanan itu.
Menatap tajam pada Braylee, ia mengangkat tangan kemudian memukul-mukul bahu Braylee berkali-kali dengan kesal.
"Aduh, aduh, sakit Baby .." Braylee meringis saat Riana terus memukulnya.
''Aaaa habis uangku, harga makanan itu 66$ dolar!" Ujar Riana terus memukuli suaminya.
__ADS_1
Braylee menahan tangan istrinya dan tertawa melihat kekesalan Riana padanya, ia memang sengaja ingin membuat wanita itu marah padanya.
"Iiihhh" Riana benar-benar kesal dengan tingkah Braylee.