
Braylee dan Riana saling menatap dalam waktu yang cukup lama. Pria ini lagi ... Kenapa aku sering bertemu dengan pria ini, aura dendamnya semangkin terasa. Batin Riana menatap dalam bola mata tajam Braylee.
Sedikit menarik pinggang Riana agar lebih dekat dengannya, menghirup aroma tubuh gadis yang berada dalam pelukannya saat ini. Aroma ini ... Aku tidak asing dengan aroma tubuh gadis ini ... Batin Braylee menatap dalam bola mata Riana.
Terdengar suara yang membuyar lamunan Braylee dan Riana. "Braylee" panggil Monica geram terhadap gadis yang berada dalam dekapan pria berdarah dingin pujaan hatinya.
Bergegas mendorong dada bidang Braylee darinya "Maafkan saya tuan, saya tidak sengaja" ujar Riana sopan kemudian melangkah pergi tanpa menunggu jawapan dari pria bertubuh sempurna itu.
''Dasar munafik'' gumam Monica menatap punggung Riana, ia sangat emosi ingin menabrak gadis itu, tapi ia juga harus menjaga imejnya yang dermawan di mata publick.
Suara itu,. Batin Braylee mengingat suara sayup-sayup gadis di hotel tempoh hari yang memohon padanya.
Acara ulang tahun Monica pun di mulai. Riana dan Lusy berdiri tidak jauh dari jarak Braylee.
Riana mengalih pandangannya, tanpa sengaja bola mata indahnya kembali bertemu bola mata tajam Braylee yang ternyata masih menatapnya tanpa berkedip.
Kenapa pria itu menatap ke arah ku? Apa dia mengenalku? Dan aku juga merasa tidak asing dengan pria itu. Batin Riana mengalih pandangan ke tempat lain, kemudian sedikit bersembunyi di balik tubuh Lusy untuk menghindari pandangan MR X padanya.
Acara ulang tahun di langsungkan dengan sangat lancar.
Beberapa menit berlalu, berylee melihat gadis yang membuatnya penasaran sedang berdiri sendiri, sedikit di sudut ruangan, Braylee berinisiatif untuk mendekatinya.
Tapi tap tap
__ADS_1
Melangkah mendekati Riana, dengan kedua tangan di sakunya.
"Hai," Sapa Braylee pada Riana, membuat orang-orang yang berada di sekeliling mereka berdua melongo mendengar seorang Braylee menyapa wanita, itu sangat di luar dugaan.
Karena biasanya wanita-wanita yang berbondong-bondong ingin mendekatinya, tapi apa ini? Apa yang ia lakukan? Mengapa ia mendekati wanita itu? Dan menyapanya? Apa mereka saling kenal?. Pikir mereka dalam hati.
Mengangkat pandangan saat mendengar seseorang mengajak nya berbicara.
Melihat pria tadi yang tidak sengaja ia tabrak, tidak menjawab Braylee, Riana memilih mengabaikan pria tampan yang menyapanya di balik topeng itu.
Menarik tipis kedua sudut bibirnya, karena ini pertama kali ia menyapa wanita, tapi ternyata ini pertama kali juga ia di abaikan.
Menarik. Batin Braylee.
"Permisi" pamit Riana pergi meninggalkan Braylee.
,,,
Tanpa terasa sudah tiga bulan berlalu, Riana sudah kuliah di salah satu universiti yang berada di kota A.
Ia sedang sibuk berkutat di dapur membuat sarapan untuk dirinya dan Lusy.
Di kamar. Setelah Lusy siap berpakaian, ia menghampiri Riana.
__ADS_1
"Kau sangat rajin Riana" tersenyum.
"Aku lapar, maka itu aku rajin hahaha" jawabnya di bumbuhi candaan sambil tertawa.
Menyerjit melihat perut Riana, karena Riana hanya memakai tank top. "Riana, kau terlihat sangat gemuk, tapi kok gemuk mu aneh ya? lengan serta wajah dan juga yang lainnya tampak kurus, tapi yang membesar hanya perut mu?" tanya Lusy karena perut Riana memang sudah lumayan besar di usia kandungan tiga bulan, tapi ia belum menyadari kehamilannya.
Melihat ke arah perutnya, kemudian menyentuh. "Apa perutku terlihat sangat besar?" tanyanya pada Lusy.
"Iya, apa kau tidak menyadarinya?"
Menggeleng "Tidak, aku sangat sibuk sampai tidak punya waktu untuk menyadari keadaan ku" ujarnya mengusap-usap perutnya yang terasa mengeras.
"Arkhhh" tiba-tiba ia berteriak kaget.
"Ada apa Riana?" tanya Lusy panik memegang lengan temannya.
"Sesuatu bergerak di perut ku" cemas, ternyata Janin yang berada dalam perutnya bergerak saat mendapat usapan dari jari-jari lentiknya.
"A-apa kau tidak hamil Riana? aku tidak pernah melihatmu membeli tuala wanita selama tiga bulan kau tinggal di sini" merasa tidak enak dengan pertanyaannya pada Riana, tapi ia juga sangat penasaran, tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
Deg!
Jantung Riana berdebar-debar, ia benar-benar terlupakan satu hal penting itu. Karena selama kuliah, ia sangat sibuk dan sedikit khawatir karena mengetahui jika ternyata sang Ayah sedang mencari keberadaannya sampai saat ini.
__ADS_1
Meski Lois sudah mengganti identitasnya, dan Lusy juga sudah menyulapnya menjadi gadis cupu, tapi tetap saja ia masih sangat khawatir jika sampai Ayahnya menemukan keberadaannya.
"Bagaimana jika kita ke rumah sakit saja untuk memastikan keadaanmu?" saran Lusy di angguki Riana