
Ting!
Terdengar suara notifikasi dari ponsel Riana. saat ini ia sedang berada di dirumah sakit seperti biasa. Ia mengambil ponselnya yang berada dalam saku. Saat membuka notifikasi tersebut, gadis itu mendengus kesal.
Bagaimana tidak, lagi-lagi suaminya memakai uang dari kartu yang pria itu ambil tanpa izin darinya, Braylee juga memakai jumlah uang yang lumayan banyak. Ngeselin!
kembali memasukkan ponsel ke sakunya semula. Tiba-tiba ia merasa tidak enak hati. Ada apa ini? Kenapa aku tiba-tiba merasa gelisah. batin Riana.
,,,
Di sebuah bangunan yang menjulang tinggi. Tampak seseorang sedang mencoba untuk menembak dari jarak jauh.
Ternyata sasarannya adalah seorang anak berusia 6 tahun yang sedang duduk di bangku yang berada di dalam kelas, tampak anak laki-laki itu sedang belajar.
Satu
Dua
Tiga
__ADS_1
DOR!
Timah panas itu melesat begitu saja saat sebuah jari tangan seseorang menarik pelatuk, kemudian melepaskannya, tepat ke arah jantung anak berusia 6 tahun itu.
Tapi anak laki-laki yang berusai 6 tahun itu tiba-tiba saja berdiri, akhirnya timah panas tersebut hanya mengenai di bahagian perutnya saja.
BRUKKKK
"ARKHHHHHH'' Yang tadinya ruangan itu sepi, jadi rame karena anak laki-laki itu tiba-tiba terjatuh ke lantai dengan darah yang bersimbah di sekujur tubuhnya, darah itu berasal dari perutnya yang terkena tembakan.
"RONALD!!" Teriak mereka semua memanggil nama Ronald.
Sekolah jadi huru-hara karena terjadinya tembakan dari jarak jauh yang di sengaja kan oleh seseorang dan menyebabkan mangsa terluka parah dan banyak kehilangan darah.
Ronald langsung di larikan ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, kebetulan Riana yang menyambut pasien, betapa kaget dan shocknya dia, saat ia melihat putra kesayangannya terbaring tak berdaya dengan darah segar yang bersimbah di sekujur tubuh putranya.
"R .... Ronald," kata Riana Saat melihat putranya, dengan tubuh yang melemah, dan terasa tidak ada tulang di dalam tubuhnya.
__ADS_1
"RONALD!!!!" Tiba-tiba ia berteriak kencang, berlari dan langsung memeluk tubuh kaku putranya. Wajah cantiknya di banjiri air mata yang terjun bebas begitu saja.
Ia tak berlama-lama lagi, ia langsung membawa Ronald masuk ke ruang pembedahan.
Riana dan seorang dokter lagi yang membantu menangani putranya, tak lupa juga dengan beberapa orang nurse.
Dalam masa pembedahan itu, ia terus menangis, karena takut akan terjadi apa-apa pada putranya, membayangkan hidup tanpa putranya saja ia tak sanggup, apa lagi jika harus melaluinya.
Ronald banyak kehilangan darah, dan kebetulan darahnya, darah yang sangat langka dan susah di dapatkan, Ronald tak memiliki darah yang sama seperti Mommynya, lebih tepatnya Ronald mengikuti golongan darah sang Ayah, yang Riana sendiri tak tahu siapa Ayah anaknya.
Wanita cantik itu benar-benar sakit dan berputus asa, mereka sudah menghubungi beberapa rumah sakit yang berada dalam kota itu, tapi semua tidak mempunyai stock darah yang ia cari.
Ia terduduk lemah. "Apa yang akan Mommy lakukan lagi sayang ... Mommy sudah buntu ..." Kata Riana dengan dada yang sesak. Hanya menangis yang bisa ia lakukan di tengah-tengah keterpurukannya saat ini.
"Pakai darahku saja, darahku cocok dengannya" terdengar suara laki-laki yang baru tiba dengan wajah cemasnya.
Riana melihat ke arah laki-laki yang masuk ke dalam ruang pembedahan itu. Ternyata dia adalah Braylee.
"Maaf tuan, anda siapa? karena darah pasien ini sangat langka, apa anda yakin, jika darah anda cocok dengan darah pasien?" Tanya dokter yang membantu Riana tadi menjalani operasi.
__ADS_1
Braylee megeluarkan senjata apinya dan menodong kepala dokter itu, "Lakukan seperti yang aku perintahkan!! Pasien itu adalah anak kandungku sendiri, dia putraku, jika sampai kau gagal, aku akan membunuhmu!!" kata Braylee penuh penekanan.