
Braylee berusaha agar istrinya tak panik. Ia membuka selimut yang menutup kaki Riana. Kemudian mengangkat istrinya ala bridal style dan membawanya ke balkon kamar.
"Lihat di bawah," tunjuk Braylee tak menurunkan tubuh Riana dalam gendongannya.
Wanita itu melihat ke bawah dan melihat putranya yang sedang bermain di taman.
Riana terseyum. "Turunkan aku," katanya pada Braylee.
Tapi laki-laki itu malah menyatukan bib*r mereka brdua, menikmati perasaan di antara mereka yang semangkin berkembang. Cukup lama mereka berc*uman, akhirnya pria itu melepas ci*mannya.
"Maafkan aku yang gagal menjagamu dengan baik," Kata braylee.
"Karena aku yang hadir dalam kehidupanmu, kau jadi begitu banyak menanggung penderitaan karenaku ..." Kata Barylee menatap teduh kedua bola mata istrinya.
Riana tersenyum dan memeluk Braylee, merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami. "Aku mencintaimu," kata Riana tiba-tiba yang membuat laki-laki itu langsung melihat wajah cantiknya.
"Apa yang kau katakan barusan?" Tanya Braylee memastikan.
Wanita itu terkikik saat melihat ewajah antusias suaminya. "Maukah kau menerima wanita yang cacat ini dalam hidupmu?" Wanita cantik itu memperlihatkan senyuman terbaiknya.
Tarnyata ia sudah bisa menebak saat Braylee seolah mengelak dari pertanyaannya tadi, ia sudah bisa menebak, jika terjadi sesuatu pada kakinya.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang ..." ujar Braylee terdengar lirih.
"Apa aku akan cacat seumur hidupku?" mengusap wajah suaminya dengan lembut.
Menggeleng. "Hanya sementara, sehingga efek dari racun yang telah laki-laki gila itu masukkan ke dalam tubuhmu menghilang, setelah itu kau akan bisa berjalan semula," jawab Braylee jujur.
"Apa kau pernah mengenal dokter Riz sebelumnya?" Tanya Riana.
Mengangguk. "Namanya Rich, anak dari Asisten Daddy, tapi dia seperti mempunyai gangguan kejiwaan,'' jawab Braylee.
"Apa dia pernah melecehkanmu?" Tambah Braylee bertanya pada istrinya.
"Dia benar-benar pernah melecehkanmu?" Braylee terlihat marah.
"Hahahahahah ..." Riana malah mentertawakannya.
"Tentu saja tidak, dia tidak seperti orang itu, yang sudah memerawani wanita asing, kemudian pergi begitu saja tanpa pamit," sindir Riana pada Braylee, karena setelah laki-laki itu mengambil keperawanannya beberapa tahun lalu, ia pergi begitu saja meninggalkan Riana yang masih tertidur pulas karena kelelahan.
Kali ini Braylee yang tertawa mendengar sindiran istrinya. "Ralat Baby, bukan laki-laki itu yang memerawani gadis tersebut, tapi gadis itulah yang memperkosanya hahahaha," jawab Braylee kembali tertawa.
"Mana mungkin," elak Riana tak terima.
__ADS_1
"Kau benar-benar tidak ingat apa yang kau lakukan malam itu Baby? Kau bahkan merobek pakaianku," jawab Braylee mengingat sewaktu ia membawa Riana masuk ke dalam kamar, gadis itu seperti harimau liar yang sedang menyantap mangsanya akibat obat peransang yang di berikan oleh rekan bisnis ilegal Braylee beberapa tahun yang lalu.
BLUSH
Wajah Riana bersemu merah, saat mengingat secebis tragedi malam itu.
"Kau malu Baby," Braylee semangkin bersemangat ingin membuat istrinya bertambah malu.
''Apaan sih," ketus Riana.
"Kau terlihat seperti dirimu sayang, jika kau ketus seperti itu," Kata braylee memeluknya dengan perasaan yang sangat bahagia, karena akhirnya dia bisa menyelamatkan istrinya dan juga bisa membunuh orang yang telah membunuh Daddynya.
"Aku mencintaimu Baby ..." Bisik Braylee.
"Aku juga mencintaimu," jawab Riana mencium pipi suaminya.
"Aku ingin kau menjalani terapi sayang, agar kau cepat sembuh,"
"Hm,"
"Tidak lama lagi kita akan menyambut kehadiran buah hati kita yang kedua," kata Braylee mengusap perut rata istrinya sambil tersenyum.
__ADS_1