
"Aku mencintaimu," kata Braylee malah menjawab ngaco pada istrinya.
"Lebay,"
"Kau tidak percaya?"
"Kau terlalu banyak menyembunyikan sesuatu dariku, aku bahkan bingung, yang mana bisa aku percaya darimu," jujur Riana karena ia tahu pria itu banyak menyimpan rahasia.
Dia bukan gadis yang bodoh, ia tahu jika mobilnya itu, bukan mobilnya yang sesungguhnya, ia tahu mobil itu sudah di tukar. Hanya saja ia memilih diam, ia tahu laki-laki itu pasti punya rencana yang sangat besar dan tak di ketahui oleh siapapun termasuk Asistennya.
Wanita cantik itu sudah siap masak. Ia melangkah keluar dari dapur. Terdengar suara deringan ponsel Braylee. laki-laki itu mengangkatnya.
Pria itu terlihat masuk ke dalam kamar, dan mengganti pakaiannya. Riana yang melihat itu, memegang lengan suaminya.
"Kau mau kemana? Inikan sudah malam," tanya Riana seolah tak ingin melepas lengan pria itu.
Braylee tiba-tiba saja memeluknya, dan pencium pucuk kepala wanita itu. "Aku mau keluar sebentar, kau di sini dulu sama putra kita," mengusap sayang rambut istrinya.
"Tapi, apa kau pulang malam ini?" Entah mengapa ia merasa tak ingin melepaskan suaminya pergi.
"Kau makan saja dulu dengan Ronald, aku akan usahakan untuk pulang nanti,"
"Kau janji?" Tanya Riana.
__ADS_1
"Iya, aku janji," mengecup sekilas bibir Riana, kemudian ia juga pamit pada Ronald yang sedang belajar.
"Daddy pergi dulu sayang," mengusap kepala putranya.
"Hati-hati Daddy,"
"Iya" Braylee langsung pergi dari rumah kontrakannya.
Riana menarik nafas. Entah mengapa hari ini ia merasa tak tenang, seperti ada yang akan menimpa dirinya.
,,,
"Bagaimana?" Tanya seorang pria misterius itu pada Dimsom pria paruh baya.
"Apa Braylee sudah bergerak ingin ke Markasnya untuk mencari Albert?"
"Iya tuan, mungkin sebentar lagi dia akan tiba di Markas,"
"Kau pastikan rencana kita akan berjalan dengan mulus, aku tidak mau tahu apa pun itu, kali ini, jangan sampai gagal," titahnya tak ingin mendenger kegagalan dari orang kepercayaannya.
"Siap tuan, kami akan usahakan, jika kali ini tidak akan gagal lagi,"
"Hm, aku pegang ucapanmu,"
__ADS_1
"Ya tuan"
,,,
Tap Tap Tap
Braylee melangkah masuk ke dalam Markas dengan cepat.
"Bagaimana bisa Albert melarikan diri?" Tanya Braylee pada Asisten Xan dan juga Fredly.
"Maafkan saya tuan, tapi sepertinya ada orang dalam yang membantunya, karena mana mungkin dia bisa keluar begitu saja, jika tak ada yang membantunya," jawab Asisten Xan.
"Vanes mana?" Braylee mencari salah satu orang kepercayaannya, yang saat ini ia tugaskan untuk menggantikannya di perusahaan buat sementara waktu.
"It------" ucapan Asisten Xan terhenti saat melihat Vanes malah ketiduran dengan enak di atas sofa.
Braylee berdiri dari duduknya. "Bangunkan dia, kita cari Albert, kurasa dia belum jauh dari sini," kata Braylee melangkah keluar dari Markas untuk mengejar Albert. Fredly menyusul di belakang Brylee.
Sedangkan Asisten Xan menatap jengkel pada Vanes, pria yang suka merepotkannya, karena Vanes sering tertidur di mana saja.
"Menyebalkan!" Asisten Xan mengambil air yang berada di atas meja, dan langsung menyiram wajahnya.
"Arkhhhh ... Sunami!!! Jangan dulu! Aku belum menikah soalnya," teriak Vanes dengan tingkah konyolnya.
__ADS_1
"Konyol, memang ada wanita yang mahu sama laki-laki kayak kamu! Tahunya cuma tidur!" Ketus Xan membuat Vanes menyengir.