
"Maaf, apa Sonata mencintai anda? Kalau di lihat, ku rasa tidak, ku rasa wanita itu tidak mencintai anda sama sekali, mungkin karena anda kurang baik padanya, atau kurang cocok," tersenyum pada Braylee, tapi kata-katanya mengeluarkan sindiran seolah menantang, yang seperti sengaja memancing emosi pria berdarah dingin itu.
Braylee tersenyum mendengar ucapan dokter Riz, kemudian mengangkat tangannya merapikan koler baju laki-laki di depannya. "Kau terlihat pria yang sangat hangat dan lembut, tapi tidak tau kenapa, aku merasa jika itu hanya topeng yang kau tutupkan pada wajahmu, biasanya laki-laki sepertimu ini, jauh lebih harus untuk di waspadahi," kata Braylee pada dokter Riz, tak lupa dengan senyuman miringnya.
"Bukankah anda yang seperti itu?" Jawab dokter Riz menepis tangan Braylee.
"Wow, aku tidak tahu kalau aku laki-laki munafik seperti mu," membuat wajah seperti terkejut, dengan nada mengejek dokter Riz.
Dokter Riz yang terpancing dengan ejekan Braylee, langsung meninjau wajahnya, tapi secepat kilat Braylee menghindari bogem mentah Riz.
"Kau adalah dokter di sini, apa kau ingin merosak citramu yang penuh dnegan kepalsuan itu?" Braylee kembali meledek dokter Riz.
"Manusia bedebah!!"
__ADS_1
Riz kembali ingin membogem Braylee, karena pria di depannya itu benar-benar membuat ia marah, awalnya dokter Riz yang ingin memancing emosi Braylee, tapi tak di sangka, jika pria itu yang berhasil memancing emosinya.
Braylee ingin menghindari pukulan dokter Riz, tapi saat melihat Riana, ia menarik tipis sudut bibirnya.
BUK!
Dokter Riz berhasil membogemnya, tepat di depan Riana. Saat melihat pertengkaran suaminya dan dokter Riz, ia berlari menghampiri mereka berdua, dan mendorong tubuh dokter Riz untuk menjauhi suaminya, karena melihat Riz kembali mengangkat tangannya ingin meninju suaminya.
"Apa yang anda lakukan dokter Riz, kenapa kau memukul Braylee," kata Riana berdiri di depan suamya, ia menatap kecewa pada dokter Riz yang memukul suaminya, karena selama ini yang ia kenali dokter Riz, adalah pria yang hangat dan lemah lembut.
Sial! Aku terlupa, jika dia adalah pria yang sangat licik. Batin dokter Riz mentap benci pada Braylee.
"Kan bisa bicara baik-baik, tidak harus memberi kekerasan seperti itu dokter Riz, apa lagi ini rumah sakit, dan anda dokter di sini," kata Riana. Mereka di kelilingi oleh orang-orang yang berada di rumah sakit itu.
__ADS_1
Riana memegang lengan suaminya, kemudian menariknya masuk ke dalam ruangan putranya.
"Kenapa kau membuat keributan di luar!!" Riana memarahi Braylee saat tiba di dalam, ia juga berusaha mengecilkan nada bicaranya agar tak menggangu tidur putranya.
"Aku tidak membuat keributan, apa kau lihat tadi? bukankah dia sendiri yang memukuliku," jawab B?raylee.
Memnghembus nafas. "Mustahil dokter Riz marah sama kamu, jika bukan kamu yang memancing emosinya!"
Braylee tersenyum dalam hati, tak di sangka setelah dua hari wanita itu mendiaminya, hari ini wanita itu menegurnya, iya, meski dalam bentuk yang marah padanya.
Riana berjalan mengambil obat oles, kembali medekati suaminya, dan mengoles obat tersebut di wajah Braylee bekas bogem dokter Riz.
"Berhentilah terus mencari masalah, masalahmu saja tidak ada habisnya,"
__ADS_1
Mereka berdua sangat dekat dengan posisi mereka saat ini, braylee menatap intens wajah istrinya.
"Sudah selesai, lebih baik kau pulang dan mencari pekerjaan, itu lebih baik, dari pada kau hanya bisa menimbulkan masalah di sini," ketus Riana pada Braylee.