
Urat-urat tampak timbul dari wajah pria berasal Amerika itu, matanya memerah, rahangnya mengeras, dengan tatapan seperti ingin membunuh mangsanya detik itu juga, saat mendengar pengakuan dari istrinya sendiri, yang berkata demikian.
Mereka berdua saling menatap antara satu sama lain. Braylee yang di selimuti marah, menarik tubuh Riana, membawanya ke ranjang dengan paksa.
''LEPAS!!! KAU MAU APA!!! LEPASKAN AKU!!!" Teriak Riana meronta-ronta.
"Kau mencintai lelaki itu bukan!!," mendorong istrinya hingga terlentang di ranjang. Braylee merobek baju yang di pakai oleh Riana.
"JANGAN!!! KAU SUDAH GILA BRAYLEE!!! KAU TIDAK BISA MEMAKSAKAN SEMUA YANG KAU INGINKAN, KAU BISA SAJA MEMILIKI TUBUHKU, TAPI TIDAK HATIKU!!! LEPASKAN AKU!!!" Riana terus berteriak meminta Braylee untuk melepaskannya.
"MOMMY!!" Teriak Ronald masuk ke dalam kamar, dan melihat Braylee yang sangat brutal pada Mommynya.
"Jangan sakiti MOMMYKU!!!" Mendorong Braylee dari atas tubuh Mommynya.
Braylee turun dari ranjang, melangkah keluar kamar dengan perasaan emosi berat.
"Mommy, Mommy tidak apa-apa," memegang wajah Mommynya, dan langsung memeluknya.
Riana membalas memeluk putranya. "Mommy tidak apa-apa sayang ... Kau tenang saja" jawab Riana menenangkan putranya.
"My, ayo kita pergi dari sini My ... Aku tidak ingin tinggal disini ... Om itu jahat My" ajak Ronald pada Mommynya.
__ADS_1
"Sssttt ... Sudah, Mommy baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkan Mommy sayang"
,,,
Braylee menyetir mobil dengan kecepatan penuh, ia bahkan memotong semua mobil yang berada di depannya.
KIKKKKKKKKKK!!!!!!!!
Ia menginjak rem membuat mobilnya berhenti mendadak. Mengambil ponsel, dan menghubungi Asistennya.
''Atur pertemuanku dengan wanita itu, malam ini juga''
Kembali melaju mobilnya ke sebuah hotel mewah, tempat ia akan bertemu dengan Monica.
Ia langsung masuk ke dalam hotel setibanya di sana. Dadanya naik turun menekan emosi yang begitu sulit ia kontrol, Braylee juga tak mengerti mengapa ia begitu marah mendengar kejujuran istrinya.
Tak berapa lama Asisten Xan mengetuk pintu kamar hotel yang di tempati Braylee.
Asisten Xan memberikan sesuatu padanya. Kemudian kembali menutup pintu.
Ia mengambil gelas dan wine yang sudah di siapkan dalam kamar untuknya, menurunkan sesuatu ke dalam wine tersebut, mengaduk rata.
__ADS_1
Tok Tok Tok
Untuk kedua kalinya, kamarnya di ketuk. Braylee berdiri, membuka pintu untuk seorang wanita yang berpakaian seksi.
"Braylee" panggil Monica tersenyum bahagia, karena ini pertama kalinya pria itu mengajaknya ke hotel. Ia mendekati pria tampan di depannya, langsung memeluk pinggang pria itu.
"Kenapa kau memanggilku kemari? Bukannya kita juga tinggal satu atap," ucap Monica menggosok-gosok dadanya pada dada bidang Braylee.
"Kau tidak suka aku memanggilmu kemari?" Tanya Braylee melepas pelukan Monica, melangkah duduk di atas ranjang.
Tersenyum senang, kembali mendekat, dan duduk di atas paha pria dingin itu.
"Tentu saja aku senang, melepas kancing baju Braylee, satu demi satu.
Ia membiarkan saja apapun yang di lakukan oleh wanita itu. Monica mendekatkan wajahnya, pada bibir merah pria di depannya.
Tapi Braylee menaruh jari telunjuk di depan bibir wanita seksi itu. "Kita minum dulu," memberikan Monica wine yang sudah ia campur dengan ramuan.
"Boleh" jawab Monica tanpa rasa curiga sedikitpun, langsung meneguk wine tersebut hingga tuntas. Selang beberapa saat saja obat itu sudah mulai bereaksi, membuat Monica mulai tak sadarkan diri.
BRUKKK!!!
__ADS_1