
Beberapa hari berlalu. Hubungan Riana dan Braylee semangkin sudah membaik, meski saat ini keadaanya masih cacat.
Tampak wanita cantik itu sedang termenung di balkon kamar suaminya.
Braylee menghampirinya dan memeluknya dari arah belakang, "Apa yang kau pikirkan Baby?" Tanya Braylee mengecup pipi wanita yang duduk di atas kursi roda itu.
"Aku merindui ibuku," Melihat ke samping pada Braylee.
"Aku ingin bertemu dengan ibuku," tambah wanita itu dengan bola mata berkaca-kaca. Ia sangat merindukan ibunya Diana setelah terpisah dalam kurun waktu tidak sedikit.
"Kau benar-benar ingin menemui ibumu?"
Mengangguk, "Sangat ingin,"
"Baiklah. Mari kita pergi sekarang juga," laki-laki itu bersiap untuk menggendongnya.
Riana menahan, "Kita mau kemana?" Tanya Riana.
Tersenyum lembut menggeleng mendengar pertanyaan istrinya, "Kerumah Markus, mau kemana lagi. Ayo" Braylee menggendong tubuh Riana membawanya masuk kedalam ruang ganti dan membantunya untuk mengganti pakaiannya.
Setelah selesai ia membawa istrinya turun ke lantai bawa dengan masih menggendong tubuh kecil itu.
__ADS_1
,,,
Beberapa menit berlalu. Braylee sudah tiba di depan Mension Markus.
Braylee menurunkan istrinya dari mobil kemudian menaikkan Riana ke atas kursi roda. Mendorong wanita itu ingin masuk kedalam Mension.
Tiba di depan pintu Braylee langsung mengetuk. Jantung Riana berdebar-debar ingin bertemu dengan ibunya.
Tak berapa lama pintu itupun di buka dari dalam oleh pelayan.
"Tuan. Anda mencari tuan Markus?" Tanya pelayan itu melirik pada Riana yang berada di atas kursi roda.
"Kalau begitu silhakan masuk dulu tuan, saya akan memanggil nyonya Diana sebentar lagi," sopan pelayan itu.
Braylee hanya mengangguk pelan dan mendorong kursi roda Riana masuk kedalam Mension Markus.
Cellin yang berada di sana kaget saat tak sengaja ingin turun ke bawah tapi ia malah melihat ada putranya dan Riana di ruang tamu.
"Apa yang mereka berdua lakukan disini?" Gumam Cellin sedikit bersembunyi agar tak terlihat oleh Braylee.
Dia tak tau jika putranya mengetahui semua apa yang ia lakukan di belakang.
__ADS_1
Cellin dan Monica belum mengetahui jika Braylee sudah kembali ke Mension.
Tap Tap Tap
Terdengar langkah kaki Diana menghampiri mereka berdua. Wanita paruh baya itu sangat kaget melihat siapa yang ingin menemuinya.
DEG!
Bola mata Riana bertemu dengan bola mata ibunya.
"I-ibu ..." lirih gadis itu dengan bola mata berkaca-kaca.
"Apa itu kau Riana?" tanya Diana memastikan karena sudah delapan tahun. Putrinya itu sudah tumbuh dewasa menjadi gadis yang sangat cantik. Dan ia seperti tak percaya jika yang ia lihat itu adalah putrinya, apa lagi Riana yang datang bersama Braylee. Laki-laki yang ia ketahui itu adalah suami Monica anak tirinya yang jahat.
"Iya Bu. Ini aku Riana ibu," jawab Riana bersamaan air matanya tumpah begitu saja dari kedua pipinya.
Diana tak bisa lagi mengeluarkan kata-katanya. Wanita paruh baya itu langsung mendekat dan memeluk tubuh putrinya dan menumpahkan air mata kerinduan.
"Sayang, apa yang kau lakukan di sini nak? Bagaimana keadaanmu? Apa Ayahmu menyakitimu lagi? Dan bagaimana kau bisa duduk di kursi roda nak, ada apa dengan kakimu sayang?" ibu Diana memeluk erat putrinya memberi pertanyaan beruntun.
Riana juga membalas memeluk ibunya. Ia tak bisa menjawab semua pertanyaan ibunya. Karena ia tak sempat berpikir yang mana akan ia jawab. Saat ini ia hanya ingin menikmati berada dalam pelukan ibu yang sudah lama ia rindukan.
__ADS_1