Benih Siapa Yang Aku Kandung

Benih Siapa Yang Aku Kandung
Ke Amerika


__ADS_3

Menatap lurus ke depan mendengar laporan dari anak buah kepercayaannya. "Kau atur orang untuk terus mengawasinya,"


"Baik tuan. Oya tuan muda, beberapa hari kedepan nona Monica berulang tahun di Mension Papinya, apa tuan ingin saya mengatur waktu tuan, untuk hadir ke acara itu?"


Berpikir sejenak. "Baik lah"


"Kalau begitu, saya permisi dulu tuan"


"Hm"


Setelah Asisten Xan keluar dari ruangan. Braylee termenung memikirkan Daddy-nya yang sudah mendiang selama 17 tahun.


''Siapa pun yang terlibat dalam pembunuhan Daddy, aku akan membunuhnya tanpa sisa, sampai semua keturunannya, termasuk kau Monica'' gumam Braylee. Bola matanya di penuhi dendam yang mendalam, ia bahkan membenci Markus dan Albert (Ayah Riana) sampai ke tulang-tulang. Dan berjanji akan membunuh semua keturunannya untuk membalas dendamnya.


Sampai saat ini aku belum bisa melacak keberadaan Albert sialan itu, aku akan membunuh semua keturunan mu, aku tidak peduli siapa pun keturunan mu, aku akan membunuhnya. Itu janji ku pada Daddy. Tambah Braylee dalam hati.


Ia sudah terlanjur di selimuti dendam mendalam selama 17 tahun lamanya.


,,,


Beberapa hari berlalu, Riana sudah tiba di Amerika.


"Hai, apa anda Riana?" Sapa seorang gadis pada Riana saat ia turun dari pesawat.

__ADS_1


Tersenyum mengangguk. "Iya, anda Lusy?"


Membalas tersenyum "Iya, saya Lusy adik kak Lois"


"Riana" menjulur tangan untuk berkenalan sambil tersenyum manis.


"Lusy," menyambut tangan Riana tanpa memudar senyuman di wajahnya.


"Kalau begitu, kita langsung saja ke rumahku" tambah Lusy.


Mengangguk "Baik lah'' mereka berdua berangkat ke rumah tempat tinggal Lusy.


Di jalan menuju rumah Lusy, Lusy menghentikan mobilnya saat lampu isyarat berwarna merah.


Tanpa sengaja melihat pria tampan di kursi penumpang mobil yang sedang duduk menyilang sambil bersedekap dada.


Kenapa aku merasa aura pria ini sangat mirip aura pria bermasker yang aku temui tempoh hari di hotel tempat aku bekerja, di indonesia. Auranya sangat kental dengan dendam, seperti sudah mendarah daging. Batin Riana menatap wajah tampan Braylee, karena Braylee membuka maskernya.


Merasa ada yang sedang menatapnya, menoleh ke arah wanita di sebelah mobilnya yang di kemudi Asisten Xan.


Buru-buru mengalih pandangan sebelum bola matanya bertemu dengan bola mata pria tampan yang ia tatap.


Braylee hanya melihat punggung Riana, ia tidak melihat wajah Riana karena ia sudah membelakangi Braylee.

__ADS_1


Ting!


Lampu isyarat berubah warna hijau. Lusy kembali menjalankan mobilnya ke arah rumahnya.


Begitu pun Asisten Xan, kembali menjalan mobilnya. Braylee masih sempat melirik sekilas pada punggung Riana, kemudian menutup kaca mobilnya.


,,,


Beberapa minit berlalu mereka berdua sudah tiba di rumah Lusy yang tampak sederhana tapi sangat asri.


''Ini lah rumah yang kami punya setelah semuanya sirna'' ujar Lusy berwajah sedih mengingat semuanya telah sirna termasuk kedua orang tuanya.


Riana juga tau seperti apa kehidupan kakak adik keluarga Lois, karena Lois pernah menceritakan nya, hanya saja tidak sedetail mungkin. ''Kau tidak ingin mengajak ku masuk?'' tanya Riana membuyar lamunan lusy, ia tidak ingin jika Lusy larut dalam kesedihannya.


Tertawa, "Maaf aku melupakan mu, aku terlalu terbawa emosional''


''Tidak mengapa''


"Ayo kita masuk ke dalam.''


Mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah sederhana Lusy.


Tiba di dalam rumah Lusy, semua tampak sederhana tapi terasa sangat nyaman.

__ADS_1


__ADS_2