
"A-apa semua ini? Berarti ..." Markus menggantung ucapannya kemudian melihat ke arah putrinya.
"Kau benar sekali Markus," Braylee sangat puas melihat wajah Markus yang begitu shock.
"Itu semua yang harus kau bayar, setelah membunuh Daddyku beberapa tahun yang lalu" Tiba-tiba rahang Braylee mengeras.
"A-aku tidak membunuh Daddymu Braylee," Markus mulai ketakutan.
Markus ingi menarik pelatuknya untuk menembak Braylee. Tapi secepat kilat laki-laki itu menendang senjata api Markus, membuat senjata apinya terjatuh ke lantai.
"Serang mereka!!" Teriak Markus tak peduli lagi pada putrinya yang sedang terancam.
Sebelum anak buahnya menyerang. Mereka semua sudah di lumpuhkan oleh anak buah Braylee.
Markus semangkin ketakutan. Adam berjalan mendekati Markus yang sudah di banjiri keringat dingin.
"Aku sudah menyiapkan semua ini sebelum aku datang padamu Markus. Aku tak menyangka kau tega membunuh Daddyku! Bukankah kalian berdua itu adalah teman baik!" Kata Braylee.
"Hahahahahahah Tiba-tiba saja Markus tertawa. Ia berpikir percuma dia mengelak saat ini. Karena sebentar lagi nyawanya juga akan melayang.
"Tertawa lah sepuas-mu, karena sebentar lagi kau akan kehilangan nyawamu yang berharga itu."
"Kau mau tau kenapa aku membunuh Daddymu? Itu karena aku iri dengan semua yang dia dapatkan, dia kaya raya dan cerdas. Sedangkan aku? Aku hanya bisa membangun bisnis itu juga di berikan modal dari Daddymu. Daddymu memiliki segala-galanya, sedangkan aku apa? Aku hanya menumpang pada kekayaan dan kuasanya! Hahahahahaha"
"Kau tau? Melihat kesedihanmu dulu saat Daddymu mati, aku sangat senang dan puas Hahahahahahaha" Markus tertawa seperti orang gila.
Braylee mengambil sebuah botol kecil yang diberikan Asistennya.
Laki-laki itu menyiram semua tubuh Markus dengan isi yang berada dalam botol tersebut.
Markus mencium cairan yang mengenainya. Dia sangat kaget karena ternyata itu adalah bensin.
Braylee tersenyum dan memiringkan kepalanya, "Game over." Bersamaan tangannya melempar Markus dengan korek api yang sudah ia hidup.
"ARKHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH" Markus berteriak kencang saat semua tubuhnya hangus terbakar berlari kesana-kemari sambil berteriak. Perlahan Markus mulai terjatuh dan meninggal detik itu juga. Tubuhnya masih terbakar.
"Papi!!!!!!!!!!!!!!!!!" Teriak Monica melihat Papinya sudah tewas terbakar.
,,,
Monica duduk didalam jeruji besi. Ternyata Braylee tak membunuh Mommynya. Tapi pria itu memenjarakan Cellin atas semua kejahatan yang dia lakukan selama ini. Sama seperti Albert, dia juga terlibat dalam pembunuhan Daddynya. Braylee juga memenjarakan Albert setimpal dengan perbuatannya.
Sel tahanan.
Albert menunduk di hadapan istrinya bersama dengan cucunya. Karena Diana datang melawat membawa Ronald.
"Maafkan semua kesalahanku padamu Diana. Semoga kau hidup bahagia bersama putri dan cucu kita. Sekali lagi aku minta maaf." Kata Albert menunduk malu melihat wajah istrinya yang sudah ia buat menderita selama hidup bersamanya.
"Jaga diri kalian." Albert berdiri dan kembali kedalam sel tahanannya.
Diana tak mengeluarkan sepatah katapun. Ia hanya menjatuhkan air matanya tapi tak bergeming.
Setelah kepergian Albert. Riana juga pergi meninggalkan sel tahanan.
__ADS_1
Cellin yang juga berada dalam jeruji besi hanya bisa menangis meratapi semua kesalahan dan dosa-dosanya telah membunuh suaminya sendiri.
Sedangkan Monica. Wanita itu gila dan di masukkan kedalam rumah sakit jiwa dalam keadaan hamil. Itu adalah tujuan sebenar Braylee pada Monica, dia ia ingin membuat mental wanita itu down sehingga gila dengan sendirinya tanpa harus membunuhnya. Itu semua alasan yang Braylee lakukan.
Ziery juga sudah di makamkan. Karena sepertinya wanita itu tak ada harapan untuk hidup lagi.
,,,
Braylee duduk memangku bayinya yang baru berusia 3 bulan di balkon kamar. Bersama Riana juga di sebelahnya sedang merebahkan kepalanya di bahu suaminya.
"Baby, bagaimana jika kita tambah anak lagi?" Canda Braylee terseyum bahagia.
Riana tertawa mencium pipi Braylee, "Kalau kau masih mau anak. Aku akan melahirkan anak lagi untukmu sayang, yang penting kau tidak akan meninggalkan aku jika aku sudah jelek karena terlalu banyak melahirkan," Riana.
"Mana mungkin aku melakukan itu Baby. Kau wanita pertama dan terakhir dalam hidupku," mencium pipi istirinya juga.
"Gombal"
Tiba-tiba seseorang memeluk mereka berdua dari belang. "Mommy, Daddy." Ronald mencium pipi kedua orang tuannya.
Braylee dan Riana tertawa bersamaan mencium pipi Ronald. Riana memeluk tubuh putranya itu sambil tertawa sumbangan.
Mereka terlihat satu keluarga yang sangat bahagia.
-----------TAMAT------------
💓💓💓💓
Makasih para reader yang Sudi mampir di novel receh bunda ya🙏🤗
Jangan lupa mampir ya di novel bunda satu ini. Tajuk: Karena Hamil Aku Dijadikan Istri Simpanan.
Gendre Rumah Tangga.
Dara ingin sekali menampar laki-laki di depannya, laki-laki itu sudah menodainya, bukannya meminta maaf, tapi malah menuduhnya seolah dia ingin menjebaknya.
"Kenapa kau diam hah!" mengencang cengkramannya.
"Maafkan saya tuan," Dara memilih mengalah demi tak di pecat dari Mension mewah itu, apa lagi sekarang sangat sulit untuk mendapat sebuah pekerjaan hanya dengan mengandalkan ijazah SMA yang ia punya.
Adam melepas kasar dagu Dara, kemudian masuk ke dalam kamar mandi dengan cara membanting pintu.
BRAKKKK
Melihat laki-laki itu sudah menghilang di balik pintu, ia mengusap kasar sisa air matanya dan buru-buru membersihkan kamar Adam, agar mereka tak bertemu lagi, saat pria itu keluar nanti dari dalam sana.
,,,
Dara sedang membantu Yunda masak di dapur. Tiba-tiba saja ia merasa mual saat mencium bau bawang, padahal sebelumnya ia merasa baik-baik saja, tapi kenapa hari ini ia merasa seperti ingin memuntahkan makanannya.
Gadis itu menutup mulutnya. "Ada apa denganmu?" Tanya nyonya Yunda.
__ADS_1
"T-tidak apa-apa nyonya," gugup.
"Hm, segera kupas bawang itu, setelah itu berikan padaku,"
"Baik nyonya," Dara memaksakan diri mengupas bawang tersebut, sambil menahan nafasnya karena ia benar-benar merasa mual seperti ingin muntah saat mencium aroma bawang.
Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan tingkah anehnya dari luar dapur.
Apa gadis itu sedang hamil? Bisa perang dunia kedua aku sama Papi jika sampai dia tau aku menghamili seorang gadis. Batin Adam ingin melangkah keluar dari Mension Papinya, tapi tiba-tiba saja Anim sudah berada di depan pintu sambil tersenyum manis padanya.
"Sayang" panggil Anim berlari dan langsung memeluk Adam dengan erat, Anim juga mencium pipi Adam sekilas.
"Aku merindukanmu sayang," kata Anim.
"Aku juga," jawab Adam tersenyum.
"Kau mau kemana sih?"
"Aku mau pulang ke Villaku,"
"Tapi tante Yunda baru saja menelponku, dan menyuruhku kemari, katanya dia mau makan bareng," terdengar nada manja dari bibir gadis itu.
"Owh, Mami tidak memberitahukan padaku tadi,"
"Ya sudah, ayo kita duduk saja dulu,"
Adam dan Anim mendudukkan dirinya di sofa.
Tak berapa lama terdengar suara Angkasa yang baru saja pulang dari kantor.
"Adam, kau sudah berada di rumah! Kamu ini benar-benar tidak bisa di andalkan sama sekali! Papi hanya menyuruhmu untuk menemui client Papi, tapi kamu terlalu banyak alasan!" Papi Angkasa memarahi putranya.
Adam hanya diam tak menanggapi Papinya.
Melihat Adam hanya diam acuh tak acuh, Papi Angkasa menarik nafas berat. Karena menghadapi satu anak saja benar-bear sudah berhasil membuatnya pusing dan hampir jungkir balik.
"Adam, Papi mau kalian berdua segera menikah! jika kau tidak ingin menikah kali ini, segera akhiri saja hubungan kalian berdua!" Tegas Papi Angkasa. Ia berpikir siapa tau saja jika anaknya itu sudah menikah, dia bisa lebih berpikiran matang untuk menata masa depannya.
"Pi, kami masih muda Pi, Anim juga belum mau menikah, iyakan honey?" Tanya Adam pada kekasihnya.
Anim tak menjawab Adam, karena sejatinya, ia memang sudah ingin menikah, apa lagi mengingat usianya saat ini sudah menginjak 25 tahun, tapi kekasihnya itu terlalu banyak alasan jika ia membahas tentang pernikahan.
"Anim tidak sepertimu Adam, dia itu sudah lama menunggumu, tapi kau terlalu banyak berdrama," ucap Angkasa menggeleng melihat putranya.
"Papimu benar Adam, seharusnya kau segera menikahi Anim, jika tidak, lebih baik kalian berdua mengakhiri saja hubungan kalian! Hanya membuang-buang waktu saja!" nimbrung Mami Yunda, sebenarnya ia hanya mengancam Adam dengan ucapannya barusan, ia hanya ingin jika Adam segera menikahi Anim. Karena Yunda tau jika Adam sangat mencintai Anim.
"Kenapa Mami Papi selalu saja membahas yang mengarah ke sana," Adam juga membalas dengan ketus.
"Terus, untuk apa kau pacaran dengan Anim, jika kau tidak ingin menikahinya!" Mami Yunda meninggikan nadanya.
Menarik nafas dan membuangnya dengan kasar. "Baiklah, aku akan menikah dengan Anim, Mami Papi atur saja," jawab Adam pasrah.
Bola matanya mengikuti langkah kaki gadis yang baru saja keluar dari dapur.
__ADS_1
Mampir yuk😀
Terima kasih 🙏