
"Apa yang kau lakukan Monica!" Sentak Braylee, rahangnya mengeras melihat tingkah Monica yang tak habis-habis ingin merepotkannya.
"Aku tidak melakukan apa pun," cuek Monica melangkah ingin melewati Braylee tanpa rasa bersalah.
Riana buru-buru memakai kembali handuknya. Dan melangkah masuk ke dlam kamar.
Di dapur Braylee menahan tangan Monica yang ingin melewatinya.
"Kau jangan coba-coba ingin memancing amarahku Monica! Aku bisa membunuhmu, jika aku mau membunuhmu kapan saja," Kata Braylee tak hanya mengancam wanita di depannya.
Monica yang berpikiran, jika mana mungkin Braylee berani melakukan semua itu, jika ia berani, ia bisa saja menuntutnya, toh Braylee sudah tak memiliki apa-apa lagi, yakni sudah jatuh miskin.
Ia menepis tangan Braylee. "Coba saja kalau kamu berani, kamu harus ingat, jika kamu itu sudah tidak punya apa-apa lagi," sinisnya pada laki-laki di depannya.
Braylee menyeringai. "Apa syarat untuk membunuh seseorang itu, harus kaya dulu?" Katanya mengambil pisau yang kebetulan berada di dekatnya.
Membuat Monica berubah jadi pias. "A-apa yang ingin kau lakukan!" Pekik Monica.
"Ingin mencoba untuk mebunuhmu seperti yang kau inginkan,"
Monica terus melangkah ke belakang. "Kau bisa di penjarakan, Braylee!" Ia semangkin ketakutan.
__ADS_1
"Kau benar, itu jika ada yang mengetahuinya, jika tidak ada, bagaimana?"
Langkah Monica terhenti saat ia sudah menabrak dinding di punggungnya.
Tiba-tiba saja Braylee mengayunkan pisaunya membuatg wanita itu berteriak kencang.
"ARKHHHHHHHHHHHH" pekik Monica menutup kedua bola matanya, dengan tubuh bergetar, ia berpikir jika pisau itu sudah masuk ke dalam tubuhnya.
Sedetik kemudian, ia tak merasakan sakit pada tubuhnya. Perlahan ia mulai membuka kedua bola matanya.
Ternyata Braylee sudah tak berada di depannya. Hanya ada pisau di sampingnya yang menancak pada dinding.
Ia terjatuh lemah di lantai, tadinya ia berpikir jika akan mati, tubuhnya benar-benar bergetar.
,,,
Saat ini menunjukkan pukul 12 malam. Riana yang tertidur pulas bersama putranya di ranjang, tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya melayang, tapi karena terlalu mengantuk, ia tak bisa membuka kedua bola matanya.
Tak berapa lama, ia kembali merasa seperti berbaring semula di kasur, ia mulai merasa ada yang aneh saat merasa ada benda besar yang sedang menindihnya.
Ia masih berusaha untuk mengabaikan, sampai sebuah benda lembut menyentuh bibirnya.
__ADS_1
Memaksa membuka kedua bola matanya. Ia melihat, ternyata suaminya yang sedang menindih dan menc*umnya.
Mendorong pria itu. "Apa yang kau lakukan ..." berbicara dengan suara seraknya.
"Sayangkan, jika barang bagus di anggurin terus," jawab pria itu tersenyum di atas tubuhnya.
"Jangan gila kamu, bagaimana jika Ronald terbangun, dan melihat kita" sedikit memberontak ingin melepaskan diri dari suaminya.
"Sssstttt dia tidak akan terbangun jika kau mahu diam dan menutup bibirmu rapat-rapat Baby .." bidiknya.
Pria ini benar-benar gila. Batinnya menyentuh tubuhnya yang ternyata sudah polos, entah kapan pria itu sudah membuka semua pakaiannya.
"KAU!!! Apa yang kau lakuk----- Mmmpppphhhhhhhh"
Laki-laki itu malah membungkam mulutnya dengan c*um*n. Itulah alasan Braylee menyimpan kasur dalam kamar itu.
DASAR!!!!. Riana hanya bisa berteriak dalam hati saat pria itu sudah mengambil alih pada tubuhnya.
Malam pertama yang sudah di tunda selama beberapa bulan ini, akhirnya bisa di lalui dengan cara yang sedikit memaksa wanita itu.
❤️❤️❤️
__ADS_1
Jangan di bayangin ya para reader, nanti ada perasaan Ehem, Ehem yang timbul 🤭🤣🤣🤣