
"Ehem," dehem Riana. "Apa Mommy mertua tidak ingin naik ke mobil rongsokanku ini? Kalau Mommy mertua tidak ingin naik ke sini, bisa juga jika Mommy mertua mahu berjalan kaki, atau naik angkot saja," sindir Riana pada Cellin.
Braylee menahan tawanya saat mendengar istrinya membalas Mommynya yang sangat angkuh itu.
"KAU!!!!" Cellin menunjuk wajah Riana dengan perasaan marah. "Jangan memanggilku Mommy, aku bukan Mommymu!!!" kata Cellin menatap horor ke arahnya.
"Baiklah, silahkan naik nyonya mertua, atau aku tinggal saja di sini," ejek Riana.
"Kurang ajar!" Cellin.
Mahu tak mahu mereka berdua terpaksa naik ke mobil itu. Riana mulai menjalankan mobilnya.
"Kita mau kemana?" Tanya Riana pada Braylee.
"Jalan saja, cari rumah yang bisa kita tinggali," jawab Braylee.
"Apa kau punya uang untuk bayar sewa rumah?" Tanya Riana pada suaminya.
Braylee menggeleng. "Aku tidak pernah meyimpan uang tunai di dompetku, dan semua kartuku juga sudah di bekukan" Braylee.
"GILA!!! Jadi klita mau makan apa!!!" Lagi-lagi Monica berteriak saat mendengar pembicaraan Braylee dan Riana.
"Makan nasi" Jawab Riana.
"Kau sudah berani menjawabku hah!!" Monica meneriaki Riana.
__ADS_1
"Bukannya kau bertanya? ya sudah, aku jawab saja," Riana.
"Turunkan aku di sini! Aku mau pulang ke rumah Papiku!" Kata Monica.
Tapi tidak di tanggapi oleh Riana yang mengemudi.
"Apa kau mendengarku perempuan kampung!" Monica.
Riana menghentikan mobilnya di sebuah kontrakan yang sederhana. "Bagaimana jika kita tinggal di sini saja?" Tanya Riana pada suaminya, ia sama sekali tak peduli dengan suara Monica.
"Tidak buruk, tapi aku tidak punya uang untuk membayar sewa kontarkan ini" Braylee.
"Aku yang akan membayarnya" Riana.
"Yang benar saja, kami semua harus bergantung hidup denganmu!!" Monica lagi-lagi hanya bisa membuat kehebohan.
Dan benar saja, Monica seperti ingin muntah darah, saat madunya itu seperti sedang mengejeknya.
"Untuk apa aku menikah! jika akhirnya aku hanya hidup melarat" Monica.
"Ku rasa kau bisa sedikit lebih tenang, aku khawatir jika sampai bayimu itu lahir, dia akan sama sepertimu," kata Riana menggantung ucapannya, kemudian turun dari mobil.
"Apa maksudmu? Apa yang ingin kau katakan itu hah!!"
Riana hanya mengangkat bahu acuh.
__ADS_1
"Arkh! Ada suami tapi tidak berguna, miskin!" Ketus Monica yang sedari tadi tak mahu berhenti, dan terus mengoceh.
Braylee seperti biasa tak pernah mengindahkan wanita itu.
"Bagaimana? Di sini saja? Kebetulan rumah ini memiliki tiga kamar, Ronald tidur bersamaku, Mommy tidur sendiri, dan kau bisa tidur bersama Monica" ujar Riana pada suaminya.
"Salah Baby, Mommy tidur dengan Monica, Ronald tidur sendiri, dan aku akan tidur bersamamu," kata braylee tersenyum.
"Aku tidak ingin tidur berdua, aku hanya ingin tidur sendiri saja!" Monica membantah ucapan Riana.
"Tidak masalah, kau bisa tidur sendiri, itu lebih baik" kata Braylee.
"Ya sudah, kalian masuk saja ke kamar masing-masing, aku sudah membayar setengah uang sewa rumah ini" Riana. Ternyata rumah sewa itu salah satu milik teman Riana, dan dia sudah transfer setengah uangnya ke rekening temannya itu.
Mereka masing-masing membaawa kopernya masuk kedalam kamar. Monica dan Cellin jangan di tanya lagi, terdengar suara kacau dari kamar mereka, karena tak biasa hidup dalam keadaan sederhana seperti itu.
Braylee menyusul punggung istrinya, yang berjalan masuk ke dalam kamar bersama putranya. "Kenapa kau masuk ke dalam sini, aku akan tidur bersama Ronald di sini, kau tidur saja dengan Monica." Riana.
"Aku ingin tidur di sini bersamamu," jawab Braylee. Kemudian mengadakan tangannya pada istrinya, seperti meminta sesuatu.
Mengerut, karena ia tak mengerti kenapa pria itu mengadakan tangannya.
"Apa?" Tanya Riana heran.
"Berikan aku uangmu, aku tidak mempunyai uang sepeserpun," kata Braylee santai membuat gadis itu melongo.
__ADS_1
Sedetik kemudian ia berdecak. "Nyusahin!" ketus Riana pada suaminya, tapi ia tetap mengeluarkan dompetnya ingin mengambil uang tunai untuk Braylee, tapi laki-laki itu malah mengambil kartunya tanpa izinnya, membuat Riana mendengus kesal pada Braylee yang sebenarnya sedang mempermainkannya.