
"ARKHHHHHHHH huff, huff, huff .... Ternyata cuma mimpi," ujar Riana, saat ia menangis tadi, tenyata tanpa sadar ia malah tertidur dengan posisi menjatuhkan kepalanya di brankar tempat putranya terbaring kaku.
Ia ingin mengangkat tangannya, tapi tiba-tiba ia merasa seperti ada yang menggenggam pergelanganya.
Melirik ke tangannya, ia melihat tangan mungil milik putranya yang memegangnya.
Buru-buru melihat ke arah mesin monitor, ternyata benar, misin itu kembali berjalan.
Dengan hati yang berdebar-debar ia memeluk putranya. ''Ternyata kau masih hidup sayang'' air matanya kembali tumpah, sebuah keajaiban, karena tadi jelas-jelas jika putra sudah benar-benar meninggal.
"Terima kasih Tuhan" ujar Riana, tak dapat ia gambarkan betapa saat ini ia sangat bersyukur.
,,,
Monica mendatangi rumah Papinya. Seperti biasa dia akan meneriaki Diana.
"Diana!! Mana kamu Diana!!" Panggil Monica,"
Seperti biasa juga Diana akan berlari menghampiri anak tirinya itu. "Iya Nona,"
"Dari mana saja kau hah!" Mencengkram dagu wanita paruh baya itu dengan keras.
__ADS_1
"M-maaf Non, tadi aku di dapur, saya tidak mendengar teriakan anda Nona," jawab Diana menahan sakit pada dagunya.
"Dasar lelet! Aku juga tidak tahu, kenapa Papiku masih ingin mempertahankan wanita bodoh seperti dirimu ini!!" Mendorong kepala Diana, kemudian melangkah masuk ke dalam mencari keberadaan sang Papi.
"Papi!!" Teriak Monica menaiki anak tangga. "Papi!!" Semangkin mengencang suaranya.
Tapi tetap tak ada sahutan dari Markus.
Tiba di depan pintu kamar, ia langsung membuka pintu kamar Papinya. Tampak Markus yang sedang bercumbu dengan seorang wanita bayaran, yang ia pesan tadi.
"Ck," Monica berdecak.
"Papi lihatlah tingkah Papi, untuk apa papi pelihara wanita pembantu yang bodoh itu, jika Papi juga masih menyewa kupu-kupu malam, hanya buang-bunag uang saja"
"Pergilah, nanti aku akan menghubungimu lagi, aku sudah mentransfer uang ke rekeningmu." ujar Markus pada wanita bayarannya.
"Baik sayang.'' Wanita itu menaikkan pakaiannya yang sempat Markus turunkan tadi, kemudian melangkah keluar dari kamar itu.
"Ada apa kau datang kemari?" Tanya Markus pada putrinya.
"Aku tidak sanggup hidup susah di rumah pondok itu Pi!"
__ADS_1
"Bukannya kau yang ingin sekali menikah dengannya? Kenapa sekarang kau malah mengeluh,"
"Ayolah Pi, aku ingin berpisah dengan Braylee, aku tidak ingin lagi hidup dengannya, dia sudah jatuh miskin dan menjadi gembel Pi," Monica terus merengek pada Papinya.
"Kau sabar saja dulu Monica, jangan terlalu gegabah,"
"Papi bisa mengatakan itu, karena bukan Papi yang hidup di sana dalam rumah kecil panas dan kotor itu, iyuuuu"
"Terus, kalau kau berpisah dengan Braylee, bagaimana dnetgan kandunganmu? Mau kau apakan anak yang berada dalam perut mu itu?"
"Kalau soal ini gampang saja Pi, aku bisa menggugurkan bayi ini,"
"Terserah kau saja Monica, seperti apa pun yang kau inginkan""","
"Ya sudah, Papi urus dong"
"Nanti saja, akhir-akhir ini Papi sangat sibuk,"
"Papi sibuk apa? Sibuk mengurusi kupu-kupu malam!" kerus Monica karena Markus sama sekali tak memberi jalan keluar untuk masalah yang ia hadapai saat ini.
Markus hanya diam tak menjawab putrinya, melangkah keluar kamar dan turun ke bawah, yang membuat Monica bertambah kesal pada Papinya itu.
__ADS_1