
"Diana!!!" Panggil Monica saat ia mencari salah satu pakaiannya di kamarnya. Ia tak menemukan pakaian itu, makanya ia memanggil ibu sambungnya.
"Iya Non," sopan Diana berdiri di ambang pintu kamar Monica.
"Kemari kau!" memanggil Monica untuk mendekatinya.
Mendekat dengan perasaan was-was. "I-iya Non," Diana.
"Mana baju putih, yang aku pakai kemarin dulu? Aku ingin memakainya, tapi aku tidak melihat baju itu berada di kamarku!" ketus Monica, karena ia memang tak pernah bicara baik-baik pada Diana.
Ia teringat kemarin dulu. Saat ia menyetrika pakaian itu, ia mendengar Cellin dari kamar suaminya sedang memanggilnya, karena buru-buru, ia tak sengaja menyimpan seterika itu dalam keadaan hidup di atas pakaian Monica, membuat baju itu berakhir dengan berlobang di tengah.
GLEK!
Diana benar-benar ketakutan, ia takut jika wanita sadis itu akan menghukumnya lagi.
Melihat tingkah aneh Diana, Monica yakin, pasti terjadi sesuatu pada bajunya.
"Kenapa kau diam! Apa kau pikir aku punya seribu waktu hanya untuk menunggumu berbicara? Dasar bodoh! Mana pakaian ku itu!" dengan suara yang memenuhi kamarnya. Monica menarik rambut Diana, seperti yang sering ia lakukan.
__ADS_1
"S-sakit Non ..." Ringis Diana.
"Sekali lagi aku bertanya! Mana baju ku itu!"
"M-maafkan saya Non, baju Nona tidak sengaja kemarin terkena setrika, dan baju itu tidak bisa di pakai lagi," lirih Diana sambil menahan sakit pada rambutnya.
"APA!!! Dasar bodoh!!! Tidak bisa di harapkan!!" Ia mengeratkan tarikan pada rambut Diana, kemudian menyeret wanita paruh baya itu masuk ke dalam kamar mandi. Tentu saja ia akan menghukum wanita paruh baya itu seperti biasanya.
Tiba di kamar mandi. Monica menghidupkan air di bathtub, hingga penuh.
"Nona, maafkan saya Nona, saya tidak sengaja melakukan itu, jangan hukum saya Nona, maafkan saya ..." Diana terus memohon. Karena ia tahu, jika Monica menghukumnya, ia tak akan menghukum wanita itu dengan hukuman yang ringan, melainkan, mati saja ia tak lihat.
Wanita paruh baya itu hanya bisa menahan nafas di dalam air.
"Bagaimana? Apa kau ingin mati!!" Kembali menenggelamkan wajah Diana hingga berkali-kali ke dalam air.
Wanita paruh baya yang sudah kehabisan nafas, ia pingsan dan terjatuh lemah dari tangan Monica.
"Cih!" Baru seperti itu saja kau sudah tidak bisa menahannya!! Dasar!!" melangkah keluar kamar mandi, dan melengkahi tubuh Diana yang tak sadarkan diri di lantai.
__ADS_1
,,,
Riana yang sedang masak. Tiba-tiba saja ia merasa tak enak hati. Ibu ... Kenapa aku tiba-tiba saja mengkhawatirkan ibu ... Apa yang etrjadi dengan ibu .. Batin Riana memegang dadanya yang berdebar-debar, ia merasa sangat gelisah.
Ia tak sadar jika masakannya sudah hampir gosong. Braylee melangkah ke dapur, melihat istrinya yang melamun dengan pandangan kosong di dapan kompor.
Laki-laki itu mematikan api yang masih menyalah, Riana bahkan tak sadar dengan keberadaan suminya.
CUP!
Dengan isengnya pria itu malah mencium bibir merah wanita di depannya. Riana tersadar, dan melihat wajah Braylee.
"Kenapa kau melamun di dapur Baby?" Tanya Braylee mencium bahu Riana lagi.
"Aku tidak melamun," jawab Riana terdengar lembut.
"Hahahaha" Braylee malah tertawa mendengar istrinya yang tak ketus seperti dulu lagi padanya.
"Apa ada yang lucu?" Tanya Riana bingung melihat Braylee tertawa.
__ADS_1