
"Kak Ricko ganteng banget ... lihat sini dong."
Cakra menghela napas panjang, sulit sekali dia mengiyakan pujian sang istri untuk mempelai yang tampak gugup di depan sana. Dikatakan cemburu bukan, tapi entah kenapa sebal saja lantaran perhatian Ameera hanya tertuju pada Ricko sejak tiba di kediaman pribadi mantan asistennya, Jihan.
"Ck, ganteng banget apanya. Biasa saja, paling juga karena cahaya."
"Ih, Sayang aku lagi record loh, jangan ngomong dulu."
Ameera tidak bilang jika dia memuji Ricko demi kebutuhan konten, sama sekali Cakra tak menyadari jika sedari tadi Ameera tengah mengabadikan momen berharga Ricko. Mendengar hal itu, Cakra tertawa pelan.
"Yaudah ulang, kamu tidak bilang mana aku tahu, Ra."
Cakra mencoba merayunya, tapi suasana hati Ameera telanjur rusak akibat celetukan Cakra. Dia memang tidak marah, tidak pula merengek atau tiba-tiba merajuk akibat hal itu. Hanya saja, Ameera kini memilih diam dan memasukkan ponselnya ke dalam tas segera.
"Yakin tidak mau?"
"Iya, udah diem mau mulai tuh akadnya."
Ricko yang akan menikah, tapi Ameera yang gugup. Entah kenapa, tapi firasatnya mendadak buruk bahkan tangan wanita itu sampai dingin. "Tenang, Ra, kak Ricko udah latihan dari jam empat sore."
"Firasatku tidak enak, pasti ada yang tidak beres."
Semakin lama, gugupnya Ameera semakin jadi. Benar saja, baru saja akad hendak dimulai dan penghulu mulai bersuara, tepat dikata saya nikahkan, lampu mendadak mati hingga peristiwa Sakral tersebut mendadak gelap-gelapan.
Kendati demikian, semuanya tetap harus dilanjutkan, sayang hal ini justru terkesan lucu bagi Ameera hingga dia terbahak dan Cakra yang susah payah menutup mulutnya.
Masalah tidak selesai di sana, Ricko juga salah mengucapkan nama ayah Jihan sekalipun sudah ditulis dan dia diperbolehkan membacanya.
"Shuut jangan ketawa, kasihan."
__ADS_1
"Kamu lihat, alam saja tidak merestui dia nikah."
Senang sekali istrinya melihat Ricko susah, hendak marah pada istrinya juga tidak bisa, karena kakak iparnya yang duduk tak jauh dari mereka juga sama iyanya. Entah kesalahan apa yang pernah Ricko lakukan di masa lalu hingga Zean sampai terpingkal-pingkal hanya karena Ricko salah sebut nama ayah mempelai wanita.
Bukan hanya sekali, tapi sudah kedua kali dan kesempatan Ricko hanya satu kali lagi. Sebabnya sederhana, hanya karena nama belakang ayah Jihan sedikit kebarat-baratan dan tidak cocok di lidah Ricko.
"Ricko, gigit lidahmu," teriak Mahendra yang sebenarnya khawatir jika pria itu tetap gagal di kali ketiga.
Jika Mahendra sudah bicara, sudah pasti akan ada yang ikut menimpalinya, "Iya, Ko, kalau tidak minta gigit sama Jihan biar luwes."
Beruntung saja Sean berada di depan sebagai saksi, jika tidak sudah pasti mulut kedua orang itu menjadi sasaran pecinya. Namun, tak lama dari mereka memberikan saran semacam itu, Ricko pada akhirnya mampu melewatinya dan kata SAH tersebut terdengar juga hingga Ameera sontak memeluk Cakra sekuat tenaga.
Tidak begitu lama Cakra di sana, Ameera yang mendadak ingin makan sate Padang terpaksa membuat mereka pulang lebih dulu. Untung saja sempat mengucapkan selamat dan melakukan sesi foto singkat, sekaligus mereka pamit pulang.
"Hati-hati, Ra, makasih sudah datang."
Jihan hanya tertawa pelan mendengar ucapan Ameera. Sebuah candaan konyol semacam ini bukan pertama kali Jihan dengar, hampir semua orang berpendapat sama. "Bisa saja bercandanya si saput," sahut Ricko yang membuat Ameera mengerutkan dahi, sejak kapan dia punya sebutan lain selain onta, pikirnya.
"Saput apaan?"
"Sapi laut," balas Ricko yang membuat Ameera menarik telapak tangannya, siapa sangka jika dia akan mendapat panggilan semacam itu dari Ricko malam ini.
.
.
"Enak?"
"Sangat!! Kamu kenapa tidak mau?"
__ADS_1
Walau sempat kesal mendapat julukan sapi laut dari Ricko, ketika dihadapkan dengan sate Padang kesukaannya tersebut Ameera seolah lupa. Bahkan, 20 tusuk yang tadi sempat membuat Cakra bingung akan masuk kemana kini hanya tersisa tiga.
Sejak hamil naffsu makan istrinya memang meninggi, bahkan mengalahkan porsi kuli. Bukan hanya makanan berat, tapi ngemilnya juga kuat dan hal itu kerap membuat Mikhayla menegurnya hampir setiap saat.
"Padahal enak, kenapa tidak mau?"
"Entahlah, dulu suka, sekarang tidak lagi."
Cakra juga bingung sebenarnya, dulu dia sangat suka, tapi anehnya saat ini melihat bumbunya saja sudah kenyang duluan. Bisa dibilang Cakra mual, tapi demi menjaga hati istrinya, pria itu berusaha terlihat biasa saja walau harus dibantu dengan menciumi kulit jeruk demi menyamarkan aromanya.
"Terus maunya apa? Kamu tidak makan apa-apa di sana, nanti sakit gimana?"
"Kenyang, di rumah saja, sekarang belum lapar."
"Bentar ya, Sayang, nanti pulang aku masakin," ucap Ameera sebelum menghabisi makanannya.
Ameera lupa, Cakra memang tidak bisa makan di luar. Alasannya kenyang, tapi setiap kali dipaksa dia muntah dan hal itu sudah terjadi selama satu bulan terakhir, tepatnya setelah dia tidak lagi merasakan mual-mual yang kerap kali menyiksanya itu.
"Masakin doang?"
Ameera bertopang dagu, dia yakin betul sang suami tengah menggodanya saat ini. "Maunya diapain memang?"
"Pijitin aku." Cakra menjawab cepat, ini adalah kesempatan dan Ameera juga mengangguk tanpa protes. "Sama Junior juga tapi," tambah Cakra yang membuat Ameera tersedak, potongan daging yang baru dia kunyah beberapa kali itu melewati tenggorokan tanpa aba-aba.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1