Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 48 - Satu Atap


__ADS_3

Ameera pikir, kalimat bisa masuk tanpa izin, tapi tidak dengan keluarnya adalah sebuah candaan Cakra semata. Nyatanya, malam ini dia benar-benar tidak mengizinkan Ameera pergi dari kediamannya. Bahkan pintu sudah dia kunci, lampu di ruang tengah dia matikan hingga menyisakan kamar utama.


Ameera yang bingung hendak bagaimana jelas hanya terpaku menatap Cakra yang kini menuju ke tempat tidur. Hendak bertanya tidur dimana juga tidak mungkin, karena jika Cakra menawarkan kamar lain, Ameera juga tidak akan mau.


Tragedi berdarah delapan tahun lalu adalah alasan kenapa Ameera kini setakut itu. Sebelumnya dia memang biasa saja, tapi setelah dia membayangkan lagi dan mengingat rentetan kejadian tersebut Ameera mendadak ciut. Terlebih lagi, foto mendiang ibunda Cakra terpampang begitu jelasnya, dan Amera baru menyadari hal itu.


"Kenapa diam? Ayo tidur," ajak Cakra santai, jelas ajakan itu membuat Ameera panas dingin.


Walau terkadang memang wanita itu kerap kali haus akan belaian, tapi jika sudah dalam keadaan begini, jujur saja dia takut. Cakra bukan anak kecil, dia adalah pria dewasa yang jelas tidur seranjang bukanlah pilihan.


Ameera menarik napas dalam-dalam "Di sini?" tanya wanita itu mendadak ragu.


Melihat keraguan Ameera, jelas saja dia tertawa pelan. Agaknya, sang kekasih memang takut berdekatan dengannya malam ini. "Ada satu kamar lagi di sana," jawab Cakra yang kemudian sedikit memberikan harapan di wajahnya. "Kamar ibuku, mau?" lanjutnya lagi dan seketika membuat Ameera sontak mendekat dan naik ke atas tempat tidur.


Tidur bersama Cakra memang bukan pilihan yang baik, tapi tidur di kamar mendiang ibunya sudah pasti akan membuat Ameera mengalami mimpi buruk. Biarlah, dia akan kembali menghabiskan malamnya bersama Cakra, toh sewaktu di rumah sakit mereka pernah seranjang dan tidak terjadi apa-apa.


Ameera menarik selimut hingga ke lehernya, dengan posisi meringkuk di bawah selimut dia akan memejamkan mata segera karena tujuannya memang untuk tidur. Gelagat Ameera jelas saja tertangkap jelas oleh Cakra, pria itu perlahan mendekat dan duduk di tepian ranjang hingga Ameera semakin mengeratkan selimutnya.


Beberapa waktu lalu dia sempat minta hamili, tapi kini ketika Cakra dekati sampai setakut itu. "Katanya tidak takut, kok kamunya sampai dingin?" tanya Cakra usai menyentuh pipinya.


"Di sini dingin ternyata, padahal di rumah Abah panas." Dinginnya Ameera berbeda, kalau ditanya hawanya memang panas, tapi dia dingin justru karena Cakra kini semakin mendekat padanya.


"Oh iya? Cuma aku yang kepanasan berarti."


Bukan hanya ucapan, tapi kini pria itu justru melepas pakaian hingga menyisakan kaos dalam dan celana pendek di tubuhnya. Dada Ameera semakin berdegub tak karu-karuan, dia lupa jika di rumah sakit dengan kamar pribadi itu berbeda.


Sudah lama dia tidak melihat Cakra dengan keadaan begitu. Tepatnya memang baru pertama kali dengan mata kepalanya secara langsung, sebelum ini hanya melalui panggilan video dan jelas saja tidak segugup ini.

__ADS_1


Meski jantungnya seakan hendak meledak, Ameera berusaha sebaik mungkin untuk terlihat santai, tapi tetap saja kaku. Sudah tahu darahnya seolah berhenti mengalir, Cakra justru sengaja menunduk dan menatap lekat wajah Ameera beberapa lama.


"Sayang," panggil Cakra begitu lembut, selembut tatapan mata indahnya.


Malam ini, Cakra benar-benar membuat Ameera porak poranda. Hanya dalam waktu beberapa jam, perasaannya sungguh diaduk-aduk dengan perubahan sikap Cakra. Dinginnya membuat Ameera menangis, tangisnya membuat Ameera terluka, dan lembutnya berhasil membuat Ameera berdesir.


"Hm? Kenapa? Masih sakit kepalanya?" tanya Ameera masih berusaha terlihat waras meski sebenarnya sudah layak dibawa ke rumah sakit jiwa.


Cakra menggeleng, pria itu mengulas senyum hangat "Makasih ya," tuturnya tanpa ragu mendaratkan kecupan di kening Ameera.


Berbeda dari biasanya, yang kali ini lebih lama dan Ameera merasakan bagaimana ketulusannya. "Tidurlah." Bersamaan dengan usapan pelan di puncak kepala Ameera, pria itu mengutarakan kata-kata yang berhasil membuat Ameera segera menahan pergelangan tangannya kala Cakra pamit untuk tidur di kamar sebelah.


.


.


Cakra tertawa pelan, tidak ada yang lebih menyenangkan selain menggoda Ameera, apapun caranya. "Ih serius, tapi jangan khawatir dia tidak jahat ... cuma jagain," tambah Cakra yang seketika membuat Ameera menepis kegugupannya.


Setakut-takutnya dia pada Cakra, tapi lebih takut lagi pada makhluk tak kasat mata yang Cakra gambarkan sebagai seorang wanita tua di sudut kamarnya. Ketakutan tersebut berhasil membuat Ameera memeluk erat Cakra hingga pria itu bahkan tidak bisa bergerak bebas.


Kesempitan bagi Ameera, tapi kesempatan bagi Cakra hingga pria itu tersenyum tipis begitu mendengar Ameera berkali-kali meminta untuk tidak pergi. Tidak pernah Cakra duga, hanya dengan bermodalkan karangan bebas yang baru saja terpikir beberapa saat lalu berhasil membuat Ameera menempel padanya.


Andai saja gelagat Ameera yang takut dia dekati tidak terlalu kentara, mungkin Cakra tidak akan begini. Sikap Ameera yang mendadak berlindung seolah khawatir Cakra macam-macam lah alasan kenapa Cakra sampai tega mengelebuinya.


"Mbah Asih baik loh ... tuh, jangan takut kata_"


"Cakra!!" Ameera bahkan sudah tidak kuasa membuka mata, dan kini Cakra kembali mengada-ngada hingga cubitan kecil itu kembali dia rasa.

__ADS_1


"Terus maunya gimana?"


"Tidur di sini," tegas Ameera kini mulai mengatur strategi dan meletakkan guling di tengah-tengah sebagai pembatas mereka.


Sungguh, niat awal Cakra tidak begini sebenarnya. Dia sudah merencanakan untuk tidur di kamar yang lain, tapi semua terjadi begitu saja dan Ameera yang tadinya seakan anti, kini tidak melepaskannya untuk pergi.


"Yakin tidak masalah? Ini kita tidurnya berdua, Ra."


"Yakin, cepetan tidur makanya ... aku harus pulang besok pagi!!"


"Langsung tidur?"


"Terus maumu apa?" celetuk Ameera mulai naik darah, semakin larut dan kini semakin gila.


Cakra masih menatapnya dengan tatapan tak terbaca, pria itu bertopang dagu sembari berusaha menahan tawa. "Ya apa saja, buat anak dulu misalnya?"


Bugh


"Aaaakhh, sakit, Ra." Agaknya candaan Cakra keterlaluan hingga mendapat serangan dadakan tepat di bagian dada. "Kamu pikir sopan mukul suami, Ameera?"


"Ndasmu!!"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


Selamat malam, semoga tidur nyenyak ... ramein komentar yak, aku bangun dah 300 💃


__ADS_2