Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 62 - Demi Kamu


__ADS_3

"Cakra ...."


Uluran tangan Cakra tak segera Ameera terima. Bukan karena sombong dan tidak begitu ramah lantaran Cakra anak baru, tapi sudah pasti semua itu terjadi karena gugup menahan malu. Malu? Ya, entah bagaimana menjelaskannya, tapi kali ini wajah Ameera memerah dan mendadak kaku hingga Jihan harus menepuk pundaknya lebih dulu.


"Oh? I-iya ... Ameera."


Cakra yang seharusnya malu, tapi kini justru sebaliknya. Padahal, tidak ada alasan yang membuat Ameera segugup itu, tapi begitu berhadapan dengan Cakra dalam dunia kerja, mendadak Ameera seakan sulit untuk bicara.


Bahkan bisa dibilang dia kehilangan jati diri. Bagaimana tidak? Biasanya, Ameera begitu ramah dan mengayomi aktris pendatang baru tanpa peduli siapa yang terjun lebih dulu. Namun, ketika dihadapkan bersama Cakra, untuk menyebutkan namanya saja Ameera sampai tak kuasa.


Melihat situasi di hadapannya, Kama berusaha menghangatkan suasana. Tidak pernah dia lihat bintang utamanya ciut hanya karena kedatangan anak baru, Cakra. "Kenapa tiba-tiba? Kita tidak pernah bahas ini sebelumnya?"


Setelah sejak tadi diam saja, kini Ameera baru berani melontarkan pertanyaan yang membuat Kama ketar-ketir dan menarik Ameera segera. Bagaimana tidak? Mendapatkan Cakra adalah hal sulit, bahkan lebih sulit dari mendapatkan Ameera.


Berkali-kali Kama mencoba menghubunginya, dan ketika mendapatkan nomor ponsel anak itu secara pribadi, Cakra juga tidak segera menerima tawarannya. Seribu alasan Cakra berikan, bahkan Kama pernah dianggap tukang kredit lantaran menghubungi Cakra lebih dari lima kali dalam sehari.


"Jaga sikapmu!! Kalau sampai dia berubah pikiran bagaimana? Kamu tahu, Ameera? Aku merayunya setengah mati dan kamu tiba-tiba begini? Come on, jangan berpikir buruk dulu ... peran Cakra di sini sebagai pasanganmu, kenapa keberatan begitu?"


"Kamu ingat bagaimana Julio? Awalnya juga begini, tap_"


"Shuut!!"


Ameera sampai mendongak akibat Kama mendaratkan telunjuk di bibir demi membuatnya bungkam. Ya, memang produser yang satu itu tidak bisa bersikap santai, baik di dunia kerja maupun biasanya. "Tidak semua laki-laki itu sama, Meera."


Apapun alasannya, bagi Ameera yang pernah merasakan sakitnya perselingkuhan hal semacam ini tetap tidak bisa dia terima. "Pfftt!! Apa jaminannya?" tanya Ameera memutar bola matanya malas usai menepis kasar tangan Kama yang lancang di bibirnya.

__ADS_1


Kama merangkul pundak Ameera, menuntunnya untuk kembali berbalik dan menatap Cakra yang sedang berbincang bersama Jihan di sana. Sebagai seseorang yang sangat membutuhkan Cakra, dia mencoba meminta pengertian Ameera.


Kama tahu Ameera setakut itu akan luka masa lalu yang pernah dia rasakan. Hanya saja, untuk Cakra dia berani menjamin jika sikap pria itu dewasa dan tidak akan mudah tergoda hanya dengan rayuan seorang wanita.


Perlahan, Kama rela memupuk rasa sabar dan menahan diri untuk tidak mencubit bibir Ameera yang maju beberapa centi. Tak punya pilihan lain, dia hanya bisa mengalah dan tidak mungkin menekan Ameera untuk harus menerima saat ini juga.


"Kamu tahu? Kunci dalam hubungan itu adalah percaya ... aku tidak tahu apa alasan Cakra sampai bersedia. Padahal, dia pernah mengatakan bahwa dunia hiburan sama sekali bukan bagian dari dirinya, tapi aku yakin semua itu demi kamu, Ra."


Ameera mendengarkan penjelasan Kama dengan seksama. Apa yang pria itu sampaikan seolah membuka mata hati Ameera bahwa sang kekasih memang tidak pernah menjual kesedihan. Sedikit pun Cakra tidak mengatakan alasan sebenarnya, padahal Ameera ketahui alasan Cakra sampai nekat mengambil langkah ini sudah pasti untuk memenuhi janji melamarnya tiga bulan lagi.


Cukup lama keduanya berbincang, hingga akhirnya Ameera bisa memahami dan bisa bersikap dewasa setelah ini. Mau bagaimanapun, semua yang Cakra lakukan juga demi dirinya, bukan orang lain.


"Profesional, Ameera yang kemarin tidak begini ... Okay?"


Ameera mengangguk, agaknya dia memang salah dalam bersikap kali ini. "Hm, tapi jangan pernah pasangkan dia dengan wanita lain, Kama."


.


.


Kehadiran Cakra sebagai pendatang baru tak membuatnya kesulitan. Walau memang belum seluwes pemain lama, tapi dukungan Kama dan kehadiran Ameera sangat berperan dalam prosesnya.


Pertama kali bertempur dengan dunia semacam ini, Cakra sudah mendapatkan adegan yang lumayan ekstrim. Mungkin dia tidak membayangkan adegannya akan semacam ini, tapi karena sutradara menginginkan hasil yang maksimal, terpaksa Cakra bersedia untuk terjun dari ketinggian delapan meter tersebut.


"Pak, apa tidak bisa pakai stuntman saja? Nanti kakinya kenapa-kenapa gimana?"

__ADS_1


"Ya Tuhan, Ameera ... keselamatan Cakra juga kami pertimbangkan, lagi pula selama ini kamu biasa saja sekalipun lawan mainnya loncat dari puncak rinjani sekalipun, kenapa yang ini berbeda?"


Sang sutradara sampai sakit kepala, Cakra memang santai dan siap dihadapkan dengan adegan apapun. Tapi, yang justru repot sendiri adalah protagonis wanitanya.


Padahal, biasanya Ameera tidak peduli dan mempercayakan semua pada tim, dan dia tidak pernah serepot ini. Ameera bukan hanya mengayomi Cakra sebagai pendatang baru, tapi justru mengasuhnya.


Ameera memejamkan mata, walau tahu keselamatan memang sudah dipertimbangkan, tetap saja dia khawatir. "Fine, kalau sampai kaki Cakra patah ganti pakai kaki Bapak mau?"


Kalimatnya tidak sedang memperbolehkan, melainkan sangat-sangat melarang hingga pada akhirnya, pria berperut buncit itu menghela napas panjang seraya memejamkan mata. "Baik, yang mulia ratu," ucapnya kemudian menunduk sembilan puluh derajat.


Sadar jika sebenarnya dia diejek, tapi Ameera sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Sebelum terjadi apa-apa, dia tidak ingin Cakra cidera dan membuatnya mati langkah, itu saja.


Terlebih lagi, mengingat jam terbang Cakra yang belum seberapa, kemungkinan cidera semacam itu sangatlah besar. Bukan tanpa alasan Ameera bertindak demikian, tapi Julio yang dulu sempat masuk rumah sakit akibat menyepelekan bahayanya sudah cukup menjadi gambaran Ameera.


Tak berselang lama setelah menyampaikan hal itu, Cakra menghampirinya. Sejak tadi pertemuan keduanya terbatas, dan kali ini Cakra mencuri kesempatan dengan menariknya ke tempat yang sedikit sepi.


"Kenapa?"


Cakra tak menjawab, dia masih terus memandang Ameera lekat-lekat seraya mengunci posisi Ameera hingga tak mampu melarikan diri. "Kangen lah, apalagi," jawabnya seraya mengedipkan mata dan kini mulai merani meraih pinggang sang kekasih.


"Heih, Cakra mau apa?"


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2