
Tidak ada Zean di sana, tapi yang justru lengkap adalah Sean beserta keluarga besarnya. Tak terkecuali mertua dan kakak iparnya, mereka keluarga terpandang dan dari pakaiannya sudah jelas kalangan ulama hingga membuat Cakra semakin lama semakin merasa tak berdaya.
Sejak tadi Cakra memang belum menemukan sosok itu, dia penasaran karena memang yang tadi berjabat tangan dengannya masih dalam tahap normal saja. "Kalau sama Zean saja kau takut, lalu bagaimana caramu menghadapi Evan?"
Evan? Siapa lagi itu, tubuh Cakra semakin dingin begitu membayangkan ada yang lebih pantas ditakuti dibandingkan Zean. "Kakak ipar Ameera, dan di sini hanya ada istrinya ... Zean mendingan yang cerewet cuma mulutnya, tapi kalau sampai kau membuat Evan marah pilihannya cuma dua, tidak rumah sakit ya pemakamam umum."
Gleg
Cakra meneguk salivanya pahit, mimpi apa dia justru dihadapkan dengan keluarga semacam ini. Keluarga tak terduga hingga ke akar-akarnya, tidak hanya saudara, tapi juga papanya. Ameera bilang papanya hanya butuh kepastian bersedia atau tidaknya menjadi suami Ameera.
Nyatanya, agenda pertemuan itu justru sudah cukup jauh bahkan Papa Mikhail sudah memberikan pilihan tanggal pernikahan mereka. Dengan Abah Asep yang mewakilkan dan menjadi wali Cakra, pertemuan itu berakhir serius hingga Cakra hanya bisa menghela napas panjang.
Kendati demikian, Cakra tetap pada pendiriannya. Sebagaimana janjinya pada Ameera, dia memberikan kepastian pada Papa Mikhail, tapi bukan berarti dia menyanggupi untuk melakukan akad segera.
Sebagai seorang pria yang khawatir tidak akan mampu bertanggung jawab, dan cara pandang Cakra terhadap pernikahan tidak sesederhana itu. Walau tahu mungkin pria itu akan kecewa, tapi Cakra memberanikan diri untuk meminta waktu memantaskan diri sebentar saja.
Tidak hanya di pertemuan keluarga besar itu, tapi Cakra juga bicara secara empat mata pada Papa Mikhail dengan harapan tidak akan ada kesalahpahaman nantinya.
"Papa kasih waktu tiga bulan, pantaskan diri sebagaimana yang kamu maksud ... papa tidak meminta lebih, Cakra. Cintai anak papa saja sudah cukup. Jika hanya soal harta, Ameera bungsu dan apa yang papa miliki saat ini sudah pasti untuknya dan hidup kalian tidak akan melarat nantinya."
Semakin dipertegas soal itu, Cakra semakin yakin dia harus memantaskan diri lebih dahulu. Walau mungkin akan banyak yang menganggap dia bodoh karena menolak tawaran semacam ini, tapi Cakra tidak bisa andai masuk dalam keluarga Megantara dengan hanya membawa diri saja.
"Iya, Pa ... terima kasih atas kesempatannya. Izinkan saya yang nanti melamar Ameera."
Melamar Ameera adalah kewajibannya, bukan sebaliknya. Cakra tidak pernah bercita-cita menjadi benalu seperti ayahnya, dan sejak dahulu prinsip hidup Cakra tidak pernah berubah.
Menikah butuh kesiapan, dan itu dari dalam dirinya. Cakra tidak ingin merusak masa depan Ameera sementara dia tidak bisa menjanjikan masa depan untuk istrinya.
Terlebih lagi, dunia Cakra dan keluarga Ameera terlalu berbeda. Dia hanya takut, jika masuk ke keluarga itu dengan dirinya yang sekarang maka hanya akan menjadi tanggungan Ameera, sungguh dia tidak mau.
Berbeda dari orang-orang yang pernah dekat dengan Ameera sebelumnya, Papa Mikhail melihat ada sesuatu yang berbeda dalam diri Cakra. Entah bagaimana menyimpulkannya, tapi di mata Papa Mikhail pemuda itu memang berbeda.
__ADS_1
Caranya bicara sangat tertata, walau memang terkadang gugup. Pendiriannya jangan ditanya, jelas sangat membuat Papa Mikhail terkesan. Di saat jutaan pria mencari kesempatan untuk berada mendapatkan Ameera, Cakra justru berbeda.
Bahkan sudah dilamar, dijanjikan masa depan dan tidak dituntut apa-apa. Hanya cinta saja yang Papa Mikhail minta, tapi Cakra masih menolak dan dengan terang-terangan meminta waktu hanya demi kata pantas.
"Papa tunggu, semoga Tuhan mempermudahkan jalanmu, Cakra."
Merendahnya Cakra tidak membuat Papa Mikhail kesal, sama sekali tidak. Justru dengan Cakra yang kini memikirkan semua dengan begitu matang, dia semakin yakin dan kecemasannya selama ini tentang jodoh Ameera tersebut mendadak hilang.
Selang beberapa lama, Papa Mikhail berlalu pergi meninggalkan Cakra yang tampak sedikit lega di sana. Dia menghela napas panjang, lamaran tak terduga yang dia terima berhasil membuat Cakra memijat pangkal hidungnya.
"Pusing ya?"
"Hah?"
Cakra menoleh ke arah suara, Ameera tampak mendekat seraya bersedekap dada. Dia duduk di bangku panjang yang menghadap ke sawah itu hingga Cakra mengikuti langkahnya.
"Maaf, Ra ... aku masih butuh waktu." Cakra ingat betul bagaimana raut wajah Ameera kala dia tidak segera memilih tanggal pernikahan yang Papa Mikhail berikan.
"Tidak masalah, papa juga sudah kasih waktu, 'kan?"
Cakra mengangguk, tiga bulan yang dia sepakati, tidak peduli bagaimana alasannya, tepat di hari yang telah dijanjikan Cakra akan melamar Ameera, itu janjinya.
"Tiga bulan, sampai kamu tidak datang juga ... maka aku tidak akan pernah mau menikah," tegas Ameera menatap lekat Cakra, sebuah ancaman yang tidak akan mampu dia hindari.
Cakra mengangguk, tiga bulan sangat cukup dan sejak kemarin dia memang mulai melamar pekerjaan di beberapa situs resmi perusahaan besar di ibu kota. Sudah jelas hal itu dia lakukan karena tidak ingin mendapat uluran tangan dari pihak keluarga Ameera.
.
.
Keputusan Cakra jelas saja menutup pertemuan keluarga mereka. Tak hanya orangtua dan juga saudaranya yang pulang, tapi Ameera juga demikian.
__ADS_1
Hati Cakra sedikit tak rela sebenarnya, melihat Ameera mengemasi pakaiannya. Bak akan ditinggal seumur hidup, Cakra sampai meneteskan air mata sebelum masuk ke kamarnya.
"Ra."
"Hm? Kenapa?" Ameera mendongak, kehadiran Cakra yang tiba-tiba ke kamarnya membuat Ameera menghentikkan kegiatannya.
Hanya tinggal beberapa barang lagi, semua sudah siap dan Mahendra juga sudah mulai membawa barang-barang yang utama keluar lebih dulu.
Sesulit itu Cakra berucap, hingga dia menarik Ameera dalam pelukan, erat dan penuh perasaan. Sebuah pelukan yang bermakna kata maaf, maaf karena tidak bisa menuruti keinginan Ameera segera.
Selang beberapa lama, Cakra melepaskan pelukannya. Senyum manis terukir di wajah Cakra kala pria itu melepas kalungnya. Sebuah cincin perak yang sejak delapan tahun lalu dia jadikan liontin di lehernya Cakra berikan sebagai pengikat janji cintanya untuk Ameera.
"Sementara ini dulu ya, Ra." Cakra mengulas senyum usai menyematkan cincin tersebut di jari manis Ameera.
Sederhana, tapi Ameera tahu seberapa besar nilai cincin itu bagi Cakra. Dia tidak akan bertanya cincin siapa, karena mungkin hal itu akan membuat mata keduanya membasah setelah ini.
"Terima kasih keseriusannya, Cakra. Aku pulang ... baik-baik ya." Cakra mengangguk pelan, seberat itu melepas, tapi dia juga belum memiliki kemampuan untuk ikut serta bersama Ameera.
Terakhir kali, Ameera memeluk erat Cakra sebagai salam perpisahan. Sengaja di kamar, karena jika di luar Sean tidak akan tinggal diam. "Nona!! Sudah selesai belum?"
Samar terdengar, Mahendra kembali mendesaknya hingga Cakra terpaksa melepaskan pelukan. "Ayo ke depan, aku antar sampai ke mobil."
"Tidak mau, antar sampai ke perbatasan."
Cakra tersenyum tipis, bahkan mengantar ke rumahnya juga bersedia sebenarnya. Hanya saja, mana mungkin dia akan melakukan hal itu. "Iya, akan kuantar ... berhenti menangis, ini tidak akan lama."
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1
Hai, untuk yang nunggu Cakra - Ameera menikah sabar ya ... sedikit lagi, authornya masih mau pacaran 💃