
Salah-satu hal yang paling Ameera takuti di dunia ini ialah panggilan telepon dari papanya. Bukan tanpa alasan, karena apa yang dibahas sudah di luar kepala Ameera, jika bukan mendesak jodoh ya menawarkan seorang pria yang dirasa pantas untuk dijadikan jodoh, intinya soal jodoh.
"Tidak ada, papa cuma rindu saja."
Begitulah ucapan sang papa yang dia dengar via telepon tadi pagi. Berbeda dari biasanya, kali ini Papa Mikhail hanya menanyakan tentang keberadaannya, itu saja.
Mahendra yang mendengar cerita Ameera hanya ber-oh ria, seakan formalitas dan tidak enak saja jika mengabaikan cerita Ameera. Dia lebih tertarik untuk menyiapkan kepergian mereka, hari sudah menjelang sore dan tinggal menunggu Cakra menjemput saja.
"Kok cuma oh saja?"
"Nona maunya bagaimana? Kan bagus, berarti tuan besar tidak mendesak lagi seperti waktu itu." Tanpa berhenti bergerak, Mahen terus saja menyiapkan perlengkapan camping mereka malam ini.
Tidak hanya bersama Cakra dan Ameera, tapi Ayumi juga lantaran tidak mungkin Ameera tidur sendirian nantinya. Walau rencana sudah sematang itu, tapi entah kenapa firasat Ameera agak sedikit aneh dan semangat untuk ikut camping atau apapun itu namanya sudah sirna sebenarnya.
"Tapi aneh, Mahen, ini tidak seperti papa yang biasanya ... apa mungkin sesuatu terjadi ya?" Kendati Mahen memperkecil masalah, tapi Ameera tidak demikian.
Sang papa adalah seseorang yang begitu dia khawatirkan, mengingat usia yang tak lagi muda dan terkadang kerap sakit dadakan. Belum lagi, dia sempat mendengar suara papanya terdengar berbeda, sampai akhirnya dia juga memastikan hal itu kepada para kakaknya.
"Lalu? Apa kata mereka?"
"Baik-baik saja, dikirimin foto juga ... papa lagi nanam pisang seperti biasa."
"Ya sudah, kenapa Nona sakit kepala? Selagi semua baik-baik saja maka tidak masalah." Mahendra mengedipkan mata, mencoba terlihat menarik seperti Cakra, nyatanya mendapat tepukan di kening.
Semoga saja, Ameera hanya bisa berharap dugaan Mahendra takkan salah. Di tengah gunda gulana menyerangnya, suara motor Cakra terdengar hingga Ameera beranjak berdiri dan tas besarnya itu membuat Mahendra terjengkang karena kurangnya persiapan.
"Monyed!!"
"Heih? Mana?"
Mana katanya? Dia bertanya mana, sama sekali tidak sadar jika sedang diumpat rupanya. Mahendra tak lagi menjawab, dia bangkit dan membersihkan bokongnya segera.
__ADS_1
Cakra yang dinanti sudah tiba, dia juga tampak siap dan Ameera sudah naik ke atas motor seakan yang pergi hanya mereka berdua. "Pamit dulu, Ra." Cakra menggoyangkan punggungnya hingga Ameera yang bersandar menatap ke arahnya segera.
Mendengar ucapan Cakra, barulah dia mengingat bahwa di dalam sana ada Abah yang sudah memantaunya. Kala pamit pun yang bicara panjang lebar dan merayu Abah adalah Cakra, sementara Mahen dan Ameera hanya diam saja.
Tak butuh waktu lama bagi Cakra, hanya dengan sekali bicara dia sudah mendapatkan izin dari Abah, sungguh pesonanya memang tidak dapat ditepis. Ya, walau sebenarnya peran Ayumi hanya sebatas teman tidur, tapi tetap saja perlu dimintai izin.
"Sudah izin sama papamu, Nak?"
Ayumi resmi diizinkan, tapi siapa yang menduga jika Abah justru mempertanyakan hal itu pada Ameera. Semua yang ada di sana menatap ke arahnya, dan dalam keadaan terdesak akibat khawatir rencana itu gagal Ameera mengangguk dan mengaku jika memang sudah diizinkan.
Lagi, Ameera justru berbohong pada orangtua demi kelangsungan kegiatannya. Lucunya, mereka tampak percaya saja dengan bualan Ameera. Apapun, intinya jadi dulu, itu saja yang ada dalam benak Ameera.
Niatnya mengelabui Abah Asep memang berjalan dengan baik. Mereka berempat kini sudah berada di tempat yang Cakra pilih. Perjalanan cukup lama ternyata, sekitar satu jam menggunakan motor, melewati persawahan dan juga hutan di sana.
Sesuai dugaan, tempatnya memang sangat indah dan jelas Mahendra yang paling bahagia. Belum apa-apa, setelah tenda di dirikan pria itu sudah menanggalkan pakaiannya dan terjun ke sungai hingga membuat Ayumi memekik sekuat-kuatnya.
"Hahaha Mahen bodoh, kenapa juga harus di depan Ayumi." Sebagai saksi yang melihat dengan jelas Mahendra menanggalkan pakaiannya di dekat Ayumi, Ameera tergelak bahkan perutnya terasa sakit.
Dia yang awalnya menolak, kini tak menyesal karena keindahan yang Cakra janjikan benar adanya. "Bagaimana? Aku tidak bohong, 'kan?" Suara Cakra membuat Ameera yang tadi terhibur dengan atraksi Mahendra di tengah sungai menoleh sang kekasih.
"Iya, kamu tidak bohong ... bahkan lebih indah dari yang kuduga."
"Pasti, mana berani aku bohong ... tapi anehnya, pacarku pembohong, sekelas Abah Asep bisa tertipu."
"Hah?"
.
.
Akal Ameera sudah dibawah telapak kaki Cakra, jelas saja dia tahu. Namun, dia juga sama iyanya, khawatir gagal maka dari itu diam saja demi bisa tiba di sini dengan membawa Ameera. Namun, bukan berarti akan selamanya dia akan begitu, hendak bagaimana pun pamit adalah hal utama dan kini Ameera didesak untuk meminta izin yang sesungguhnya.
__ADS_1
"Yaah, Cakra masa begitu? Aku takut ... nanti papa paksa pulang gimana?" Dia mungkin bisa lari dari Abah Asep, tapi tidak dari Cakra.
Pria itu tidak menerima alasan apapun, terlebih lagi saat ini jaringan juga bagus-bagus saja dan tidak ada masalah. Sudah jelas Cakra tidak akan membebaskan Ameera begitu saja.
"Cepat, Ra, biar aku yang bicara." Walau mungkin perkara sederhana, tapi Cakra tidak bisa membiarkannya. Dia meminta ponsel Ameera segera, dan memilih nomor yang dia yakini sebagai papa Ameera.
Berani sekali Cakra, sementara Ameera sudah ciut dan ketakutan dibuatnya. Khawatir saja andai tiba-tiba dipaksa pulang padahal dia sudah sangat betah. Cakra yang akan bicara, tapi justru Ameera yang gugupnya luar biasa.
"Hallo, Pa."
Di luar dugaan, Ameera sampai menganga mendengar keberanian Cakra. Keren, tak bisa dia utarakan dengan kata bahkan Ameera sampai bersorak tanpa suara lantaran Cakra berani memanggil pahlawannya dengan sebutan papa.
Namun, hal itu hanya bertahan sementara karena dalam waktu sekejab wajah Cakra sudah pucat dan panik bersamaan dengan permintaan maaf berkali-kali sebelum kemudian dia mengakhiri panggilannya.
"Kenapa?" Ameera panik, gelagat Cakra jelas saja membuatnya bingung tentu saja. "Cakra kenapa? Papa bilang apa? Marah ya."
"Salah sambung, ini nomor siapa? Telingaku sampai sakit mendengar ocehannya."
Ameera yang penasaran, kini mendekat dan mulutnya kembali menganga kala melihat siapa yang baru saja Cakra hubungi. Wajar saja Cakra sampai pucat dan mengeluh telinganya sakit. "Astaga, ini kakaku, Cakra ... ini baru nomor papa," ucap Ameera menghela napas panjang.
"Hah? Terus kenapa namanya Best Daddy?"
"Dia yang kasih, dari awal memang sudah begitu."
"Mengerikan, kalau kakak laki-lakinya saja begini, terus yang perempuan bagaimana?
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1