Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 46 - Pengakuan Cakra


__ADS_3

"Ganti bajumu."


Ameera rasa dia baru pergi beberapa detik lalu, dan kini pria itu kembali di hadapannya. Entah karena memang dia bergerak cepat, atau hanya perasaan Ameera saja akibat melamun terlalu jauh tentang Cakra.


Masih dengan pikiran yang melayang entah kemana, Ameera menerima pakaian yang sejak tadi Cakra berikan, jaket dan celana panjang yang sama sekali bukan gaya Ameera. Ya, dalam keadaan begini hatinya masih protes tentang penampilan, dan hal itu tertangkap jelas di mata Cakra.


Mudah sekali membaca gerak tubuhnya, memang pada faktanya Ameera tidak mampu berpura-pura di hadapan Cakra, apalagi menyembunyikan perasaannya. "Untuk sementara, kamu masih tetap cantik pakai itu," ujar Cakra seketika membuat raut wajah Ameera berubah.


Sama sekali tidak dia sadari jika wajahnya menyebalkan sejak tadi, dan ketika sudah Cakra tegur dia sontak gelagapan dan menggelengkan kepala seolah membantah apa yang Cakra pikirkan. "Bu-bukan gitu, tapi apa tidak ada yang lain? Celananya pasti kepanjangan."


"Sengaja, malam biasanya dingin," jawab Cakra santai dan tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali, yang seharusnya Ameera pikirkan ialah fungsinya.


"Iya, tapi tubuhku pasti tenggelam pakai ini ... bahkan sulit dibedakan sama orang-orangan sawah, Cakra," rengek Ameera masih saja mencoba kebaikan hati Cakra, siapa tahu pria itu bersedia memberikan pakaian yang sedikit sesuai dengan ukurannya.


Menghadapi Ameera yang begitu banyak mau, Cakra memijat pangkal hidungnya. Nyatanya, walau dia sempat mengatakan takut, masih bisa seenaknya juga. "Kamu hanya di rumah, siapa juga yang akan melihatnya?"


"Tapi kan_"


"Pakai baju itu atau tidak sama sekali?" Itu bukan pertanyaan lagi, melainkan ancaman berkedok pilihan.


Ameera gagal merayunya, bibir wanita itu kini maju beberapa centi mendengar jawaban Cakra. "Bukan gitu juga, coba kamu pikir deh, kalau sekarang memang hanya kita berdua nanti pas aku pulang gimana? Walau malem pasti tetap ketemu sama warga sini." Dia berceloteh dan memaparkan semua kemungkinan yang akan terjadi nantinya.


Tidak sedikit pun Cakra melewatkan celotehannya, bibir mungilnya masih saja berani lancang bicara, padahal tadi sudah menangis akibat Cakra menunjukkan beberapa persen dari sikap dinginnya. "Pulang?" tanya Cakra tersenyum tipis dan melayangkan tatapan tak terbaca yang membuat Ameera meneguk salivanya pahit.


Agaknya Ameera hanya taubat sambal, insyaf ketika melihat Cakra tengah bersikap demikian, setelahnya dia seolah lupa akan itu. "I-iya, pulang," jawab Ameera perlahan mundur kala sadar Cakra semakin mengikis jarak ke arahnya.


"Siapa yang izinin pulang? Hm?"

__ADS_1


Kembali seperti beberapa saat lalu, Ameera bergetar menghadapi Cakra yang kini semakin dekat hingga membuat tubuhnya terhempas ke atas sofa. Bukannya berhenti, Cakra terus saja mendekat hingga kini pria itu menghimpit tubuh Ameera yang sontak menyilangkan tangan di dadanya.


"Kamu mungkin bisa masuk tanpa izin, tapi tidak dengan keluarnya, Ameera," tutur Cakra begitu lembut, tapi tetap saja bagi Ameera terlalu menakutkan.


Kakinya terasa dingin, tubuh Ameera mendadak bergetar kala Cakra mendaratkan tangannya di atas perut dengan tatapan penuh damba yang terus tertuju ke arahnya. Jelas saja Ameera sudah berselancar sejauh itu, kemarin saja dia berkhayal mendapat ciuman panas kala Cakra mengikis jarak, apalagi kali ini.


"Basah banget, Sayang. Ganti baju ya, nanti masuk angin," ucap Cakra lagi-lagi membuyarkan lamunan Cakra.


Seakan tidak pernah belajar dari pengalaman, Ameera kembali jatuh ke lubang yang sama dan jelas saja dia malu sendiri. Benar-benar tidak habis pikir, entah Cakra yang sengaja memancing hassratnya atau memang sesuatu dalam diri Ameera terlampau dewasa hingga menginginkan hal lebih tiap kali pria itu menggodanya.


Masih dengan wajahnya yang kini merah padam, Ameera mengangguk dan pasrah saja kala Cakra membantunya. Dia bukan sakit, sama sekali tangannya tidak ada luka ataupun ada yang patah, tapi hanya untuk mengganti pakaian saja dia seakan harus dibantu.


Kendati demikian, Cakra tetap tahu batasan dan dia tidak ambil alih jika sekiranya tak pantas. Bahkan, dia memberikan waktu untuk Ameera mengenakan celananya.


.


.


Barulah setelah mendengar kata itu, Cakra berani menatap ke arah Ameera. Penampilan itu justru membuat Ameera teramat lucu, Jaket Cakra yang justru terlihat seperti jas hujan itu membuat Cakra mengullum senyum.


Sudah pasti Ameera menyalahartikan senyuman Cakra, dia sebal dan rasa percaya dirinya semakin terkikis habis hingga sudah tidak berminat untuk duduk di sisi Cakra.


"Dih, ngambek ... ayo sini, mau sampai kapan berdiri di situ?" Cakra kembali menepuk sofa di sisinya.


Jika bukan karena takut menjillat ludah sendiri, Ameera pasti akan meloloskan kata tidak mau. Namun, keadaan memaksa dan kini dia kembali duduk di sisi Cakra. Sudah tentu suasana hatinya tidak sebaik kemarin, Ameera bahkan tidak bersandar di sisi Cakra dan sengaja duduk berjarak entah apa alasannya.


Hal-hal kecil tersebut tidak akan menjadi masalah bagi Cakra. Jika Ameera tidak mau mendekat, maka dialah yang akan mendekat bahkan kini bersandar di pundak Ameera sebelum kemudian memejamkan mata.

__ADS_1


Bukan tidur, Cakra hanya sedang berdamai dengan gejolak dalam dirinya. Mereka terlihat seperti pasangan yang tidak sedang bermasalah, padahal rumitnya luar biasa. "Ada yang ingin kamu tanyakan, Ra?"


Ameera menoleh, menatap Cakra yang hingga detik ini masih terpejam. Jika Cakra bertanya, sudah tentu ada banyak yang ingin dia tanyakan tentang Cakra. Namun, setelah dihadapkan dengan situasi ini, Ameera mendadak bingung apa yang hendak ditanyakan lebih dulu.


Bukan hanya bingung, tapi dia juga takut hal itu akan menyinggung perasaan Cakra nantinya. "Sejak delapan tahun yang lalu, kamu orang pertama yang menemaniku duduk di sini ...." Tanpa diminta, Cakra mulai bersuara, sedikit bergetar bahkan butuh jeda untuk melanjutkan kalimat selanjutnya.


"Orang-orang menganggapku seperti monster, Ra. Padahal badjingan itu yang menyiksa ibuku, dia membawa teman-temannya untuk berpesta dan menjadikan ibuku sebagai budak sekss malam itu ... sayangnya, ibuku punya anak penakut dan bodoh sepertiku."


Dada Cakra naik turun, matanya menatap nanar tanpa arah dan emosinya mulai tidak stabil. Dia tertawa hambar, tapi kemudian menangis dan hal itu tampak menyedihkan di mata Ameera. "Kalau saja tidak penakut ... pasti aku bisa menghabisi orang-orang itu lebih cepat 'kan, Ameera?" tanya Cakra yang seketika membuat Ameera merinding.


Cakra sempat mengatakan jika keluarganya adalah korban pembantaian, dan mendengar ceritanya kali ini, agaknya berbeda dan lebih menakutkan dari bayangan Ameera. "Jadi ...."


Pria itu tersenyum sinis, tatapannya kini lebih menakutkan dari sebelumnya "Iya, aku yang melakukannya. Kenapa, Ra? Apa kamu akan meninggalkanku juga setelah ini?" tanya Cakra dengan tatapan sendu dengan penuh harap Ameera akan memberikan jawaban yang menenangkan pikirannya.


"T-tapi aku tidak bersalah, Ameera!! Badjingan itu memang pantas mati dan_ ck, bangssat!! Dia merenggut nyawa ibuku, dan dia menghancurkan hidupku, masa depanku dan ... ays, badjingan kau, Gautama!"


Ameera bahkan belum sempat bicara, tapi Cakra tiba-tiba marah besar dan melampiaskannya dengan memukul meja kaca di depan mereka berkali-kali hingga pecahannya terdengar memekakan telinga. Melihat Cakra yang kini tak terkendali, Ameera mendaratkan tamparan di wajah Cakra agar berhenti.


"Hentikan, Cakra ... apa yang kamu lakukan tidak akan membuat ibumu kembali!!"


Cakra mengatur napasnya, buku-buku jemarinya yang kini mengalirkan darah seakan tak lagi terasa, sungguh dia tidak peduli tentang luka itu. "Jawab dulu pertanyaanku, Ameera, kamu akan meninggalkanku setelah ini?"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


Maaf terlambat, aku ketiduran guys ... Votenya buat Cakra jan lupaaa sister❣️


__ADS_2