
Cakra tersenyum tipis, pertanyaan Ameera terlalu konyol di telinganya. Ada-ada saja, entah harus bagaimana lagi Cakra menegaskan jika pilihannya sudah semantap itu memilih Ameera. Bahkan, cincin yang kini tersemat di jemari Ameera adalah satu-satunya perhiasan berharga peninggalan sang ibu yang Cakra punya, dan cincin tersebut dia berikan sebagai pengikat janji suci lantaran belum mampu untuk menikahi Ameera dalam waktu dekat.
Sayangnya, walau sudah begitu tetap saja Ameera memiliki keraguan seakan Cakra akan kembali mengulang luka lama yang pernah dia rasa. Cakra paham, sebagai seorang wanita wajar saja Ameera memiliki rasa takut, terlebih lagi mengingat bagaimana dulu Julio yang menyakitinya walau hubungan mereka telah berlangsung cukup lama.
"Apa tidak ada pertanyaan lain, Sayang?" Sembari mngusap lembut kening Ameera, pria itu juga bertanya sebegitu lembutnya.
Ameera menggeleng, hanya itu yang ingin dia pastikan dan hanya itu yang ingin dia ketahui. Dia sudah mencoba bertanya pada Evan, sang kakak ipar dan jawabannya sangat mengecewakan hingga Ameera memilih mencari jawaban secara langsung dari Cakra.
"Jawab saja, aku ingin tahu isi hatimu dan kamu tidak perlu berbohong ... aku sadar kekuranganku, dan kamu berhak memilih masa dep_"
"Shut, Ameera coba kamu dengarkan aku." Cakra tak ingin kesedihan Ameera berkepanjangan, hanya karena usia sang kekasih seolah merasa hina. Padahal hanya berjarak delapan tahun, bukan delapa belas tahun. "Bahkan setelah aku bertemu denganmu, mataku tidak bisa berpaling dan hanya tetuju padamu ... yang lebih cantik mungkin banyak, tapi tidak di mataku, Amera," lanjut Cakra kemudian tanpa melepaskan tatapan matanya dari Ameera.
Semakin lekat dia tatap, berharap dengan cara itu maka hati Ameera akan semakin terbuka dan tidak lagi menerka-nerka. "Jika kamu tanya apa aku akan tetap menikahimu, jelas saja iya ... jangankan tiga bulan, tiga tahun lagi juga tetap akan kunikahi."
Ameera masih bungkam, sementara Cakra terus menatapnya semakin dalam, mencoba menegaskan jika di matanya hanya ada Ameera seorang, tidak ada lainnya. "Tiga tahun? Bukankah itu artinya aku akan semakin tua?"
"Aku tidak peduli ... pilihannya hanya dua, menikah denganmu atau tidak sama sekali," tegas Cakra penuh penekanan, sebuah fakta mengejutkan yang membuat Ameera mengerjap pelan.
Kata-katanya amat sederhana, tapi terdengar begitu bermakna di telinga Ameera. Tidak pernah dia dengar seseorang berani mengatakan hal sedalam itu, bahkan Julio yang mengaku cintanya seluas samudera juga tidak berani melontarkan pengakuan sedalam itu.
Cukup lama Ameera memahami kata-kata tersebut, hingga Cakra melontarkan pertanyaan apa sudah mengerti atau belum. Agaknya, andai Ameera mengaku belum paham, bukan tidak mungkin Cakra akan mengulangi penjelasannya sekali lagi.
__ADS_1
"Paham, terima kasih atas ketulusanmu, Cakra." Begitu lekat Ameera menatapnya, hingga pria itu tersenyum simpul dan menariknya dalam pelukan.
Tidak perlu taman kota, ataupun restoran mewah. Bagi Cakra, hutan belantara juga tak menghalangi andai dia ingin bersikap manis pada sang kekasih. Ameera hanya tua di umur saja, tapi cara berpikir jelas lebih dewasa Cakra.
Hanya karena hal sepele dia sampai berpikir kemana-mana. Kepalanya yang sakit ternyata bukan hanya dipicu masalah Zean saja, tapi juga karena dugaan tak jelas dalam benaknya. Terbukti, kali ini dia merasa sedikit lebih lega dan bersandar di pundak Cakra tanpa beban.
"Masih sakit kepalanya?"
"Mendingan, tapi nanti saja pulangnya ... papa belum keluar, mau ya!!" Kalimat itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan dan bersifat mutlak, tak terbantahkan dan juga larangan agar Cakra tidak pulang.
Sejak tadi Cakra yang memeluknya, kali ini justru Ameera membalas dengan pelukan yang tak kalah erat juga. Beberapa orang yang berlalu di sana seolah tak membuat mereka terganggu, keduanya santai saja dan merasa tidak ada hal yang salah.
"Hm, tidak masalah, belum jam dua belas." Mata Cakra sudah memerah sebenarnya, dia ngantuk dan memang sudah waktunya istirahat.
Hanya saja, dihadapkan dengan keadaan semacam ini jelas di luar kendalinya. Sama sekali Cakra tidak menyangka jika malam ini dia justru akan berada di rumah sakit demi menjenguk calon kakak iparnya.
.
.
Bicara tentang calon kakak iparnya, Cakra kembali teringat akan motor kesayangannya. Pria itu terpejam, hendak marah tidak mungkin, tapi mengetahui kondisi terakhir motornya jelas saja Cakra sedih bukan main.
__ADS_1
Bukan hanya sekadar gores, tapi kabarnya sudah patah mematah dan body-nya jelas tak lagi sempurna. Setelah sebelumnya Ameera, kali ini dia yang termenung bak pendosa kehilangan arah. Hingga, Cakra terperanjat kala Ameera menepuk pundaknya beberapa kali.
"Kamu mikirin apa, Cakra?"
"Ah, tidak ... aku baik-baik saja, kenapa?"
Entah sudah berapa lama Cakra melamun, tapi dia kini tersadar jika di dekatnya tidak hanya ada Ameera, tapi juga sudah berdiri Zain, seorang dosen universitas ternama di ibu kota yang Ameera kenalkan sebagai saudara sepupunya beberapa saat lalu.
"Cakra Darmawangsa?" Tanpa basa basi dia bertanya dengan suara tegas begitu juga tatapannya.
Sama seperti Cakra, Ameera juga bingung dengan sikap saudara sepupunya hingga kini mengerutkan dahi. "Iya, Kak, saya sendiri? Ada apa?"
"Iya, ada apa, Zain?" Tanpa diminta, Ameera juga turut bertanya dan sengaja berdiri di hadapan Cakra sebagai langkah untuk melindunginya.
"Boleh aku bicara dengannya, Ra?"
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1