Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 87 - Tutup Telingamu


__ADS_3

Orang gila mana yang bawa fasilitas utama hotel ke rumah? Ya, itu adalah pertanyaan pertama yang terbesit dalam benak siapapun ketika melihat kelakuan Ameera. Siang itu, keluarga besar yang memang masih berkumpul di kediaman utama demi menyambut mereka dikejutkan dengan kedatangan mobil pengangkut barang yang mengiringi kepulangan pasangan pengantin tersebut.


Lucunya, begitu turun Ameera terlihat santai dan tidak ada aura takut akan menjadi topik perbincangan atau semacamnya. Berbeda dengan Cakra, jika ditanya malu atau tidak jelas saja iya bahkan sangat amat malu, sungguh. Langkah Cakra terasa begitu berat, terlebih lagi ketika dia mencium punggung tangan mertua dan iparnya, candaan konyol yang membahas ranjang tersebut sudah mulai terdengar di sana.


Sudah pasti yang pertama kali memancing hal itu adalah Zean yang kemudian dilanjutkan kakak sulungnya, Mikhayla. "Wuih keren ... kalau opa masih hidup pasti sangat bangga, Ra."


"Betul, mungkin saking berkesannya sampai dibawa pulang segala," tambah Lengkara turut menimpali ucapan kakaknya.


Mendengar mereka mulai berusaha menyerangnya, dengan santai Ameera menanggapi karena dia tahu hal semacam ini sudah pasti akan terjadi. Terlebih lagi, untuk dirinya dan Cakra yang baru saja melewati malam pengantin. Bagaimana Lengkara sewaktu awal menikah sangat cukup untuk Ameera mempersiapkan diri dan mengatur strategi agar tidak teraniaya layaknya korban bully.


"Ah tentu saja, setiap sudut menyimpan kenangan dan aku tidak bisa melupakannya," tutur Ameera dengan penuh percaya diri, sementara Cakra yang berada di samping sang istri sudah menundukkan kepala lantaran khawatir dia justru kena getahnya.


Jawaban Ameera sukses membuat kedua saudaranya di sana terbahak. Sembari memandangi beberapa pria yang mendadak jadi kuli angkut untuk membantu memindahkan ranjang tersebut ke kamar Ameera, mereka terus saja bercanda dan hebatnya Ameera sama sekali tidak jatuh di sana.


"Berkesan setiap sudut? Berarti kalian sukses dong, Ra?"


"Bukan lagi, tapi sukses besar." Ameera sangat bangga mengakuinya, denyan tangan yang sengaja bersedekap dada dan kacamata hitam yang bertengger di hidung bangirnya semakin membuat Ameera bak pemeran utama yang memiliki sejuta pesona dalam dirinya.


Lain halnya dengan Ameera yang santai menghadapinya, Cakra mulai gelisah, dia mulai berpikir untuk turut membantu beberapa orang di sana. Namun, kehadirannya justru ditolak mentah-mentah oleh Evan hingga terpaksa Cakra kembali duduk di sisi istrinya.


Susah payah Cakra mencoba untuk bersikap biasa saja dan turut tergelak seperti mereka. Namun, pada akhirnya dia tidak sekuat itu untuk berpura-pura dan wajahnya bersemu merah kala Ameera mulai mengada-ada. "Jangankan gaya cicak, Kara, kuda liar sama katak terbang juga kucobain ... tapi untungnya ranjangnya kuat jadi tidak ada tuh drama ambruk segala."

__ADS_1


Raut wajah Lengkara seketika berubah usai mendengar jawaban Ameera. "Kamu mengejekku, Ameera?"


"Tidak, aku cuma bilang kalau kualitas ranjangnya kuat walau sudah bertahun-tahun," timpal Ameera kala dituduh mengejek oleh saudara kembarnya, padahal memang iya.


Lengkara mencebik, tidak hanya wajahnya yang berubah, tapi suasana yang tadinya penuh canda mendadak mengerikan bak adegan berbahaya. Sungguh tidak dapat Cakra simpulkan, semudah itu suasana hati mereka berganti.


Beberapa saat lalu bicara dengan gelak tawa disertai butiran air mata saking lucunya. Namun, beberapa saat kemudian Lengkara dan Ameera tampak seperti tengah ada masalah besar hingga Mikhayla yang sejak awal memulai pembicaraan menjadi penengah.


Entah hal itu Ameera gunakan agar tidak ada lagi yang mengejeknya atau hanya sekadar ucapan spontan biasa, Cakra tidak tahu juga. Akan tetapi, setelah dia membahas ranjang ambruk tersebut, tidak lagi ada yang berani menyerangnya.


Bahkan Zean dan Sean sekalipun, kedua pria itu memilih diam hingga Cakra bingung dibuatnya. Beberapa waktu lalu memang Mahendra sempat katakan, setelah semua menikah pemegang tahta tertinggi di antara mereka berlima adalah Ameera.


Bukan hanya karena putri bungsu, tapi juga karena wanita itu memegang kartu AS para saudaranya. Lantas, begitu dia menyerang pertahanan diri Lengkara, sudah jelas Sean dan Zean ikut diam karena tidak ingin terjebak dalam jurang nantinya.


.


.


"Santai saja, tutup telinga untuk beberapa saat. Dulu Bima diledek hampir setahun perkara ranjang patah sebelum bercinta ... bukankah selama ini kita sudah terlatih menghadapi hujatan pembenci kita, Cakra?"


Begitu semua selesai dan ranjang istimewa itu sudah berada di kamar utama Ameera, keduanya kembali diminta istirahat karena jangka waktu menjadi raja dan ratu masih ada beberapa jam menurut Mama Zia.

__ADS_1


Selama di dalam kamar, Cakra masih saja diam dan pucat pasi bak pasien anemia. Dia tertidur berbantalkan lengan seraya menggulir ponselnya, menyimak pembicaraan anggota keluarga barunya di sebuah group chat dan isinya masih saja masalah ranjang itu.


Menyebalkan memang, Cakra pikir mereka benar-benar diam, tapi ternyata ketika berjauhan dari Ameera tetap saja Cakra yang kena getahnya dan kini saudara dan kakak iparnya semakin semangat membahas oleh-oleh malam pertama mereka.


Karena terlalu fokus pada ponsel itulah, Cakra sampai tidak mendengar ucapan Ameera dan hal itu sukses membuat istrinya naik darah. "Kamu tuli? Aku dari tadi jelasin loh kamu bisa-bisanya fokus sama HP ... biasanya kamu selalu taro Hp-nya!! Kenapa? Ada yang lebih menarik di sana dibandingkan aku? Hm?"


"Hm? Sayang bilang apa tadi?" Cakra gelagapan, dia benar-benar tidak mendengar apa yang Ameera katakan.


Wajah istrinya amat datar, Ameera memejamkan mata sebelum kemudian mengatur napasnya. "Kan, gila ya baru juga kemarin menikah dan kamu mulai berub_"


"Shuut, jangan salah paham lagi. Pikiranmu terlalu jauh, aku terlalu fokus baca ini jadi tidak dengar kamu bilang apa."


Ameera mengerutkan dahi, dan menerima ponsel yang Cakra berikan untuknya. "Kok rame banget sih? Di aku tidak masuk ... apa ini group baru?" tanya Ameera yang kemudian membuat Cakra mengedikkan bahu karena nyatanya dia baru diundang ke group chat itu beberapa saat lalu, tepatnya ketika baru masuk kamar.


Merasa ada yang tidak beres, Ameera meraih ponsel demi menjawab rasa penasarannya. Cakra yang tak mengerti, ikut saja dan turut duduk di sisi Ameera kala wanita itu mulai memeriksa ponselnya. Benar saja, sesuai dugaan, Ameera menjerit dan mengutuk Lengkara begitu melihat keterangan "Kara mengeluarkan Anda dari Grup."


"Dasar nenek lampir! Bisa-bisanya mereka ghibah tanpa aku? Kamu juga kenapa diam saja dari tadi, Cakra?"


"Astaga? Aku lagi yang salah ...."


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2