
Niat hati memenuhi keinginan sang istri, Cakra justru terperosok dalam jurang kematian yang membuatnya bahkan takut untuk pulang. Walau memang bukan kemauannya, tetap saja Azkara yang jatuh dari ketinggian 5 meter itu membuat Cakra was-was.
Terlebih lagi dia sempat pinggsan beberapa saat, Cakra sampai gemetar begitu mengantarkan Azkara ke rumah. Pergi berdua, pulangnya sampai di antar pemilik rumah lantaran Cakra khawatir Azkara jatuh dari atas motor nantinya.
"Aku baik-baik saja, Om. Pulanglah, jangan bilang papa nanti mar_"
"Kalian dari mana? Kenapa lama sekali?"
Baru saja dibicarakan, suara berat itu terdengar dan Azkara yang juga sama paniknya tampak bingung hendak berbuat apa. Walau sudah direncanakan berbohong sebelum mereka pulang, tetap saja keduanya ciut di hadapan Evan.
Lirikan mata Azkara meminta Cakra untuk segera pamit pulang, tapi sialnya pria itu justru menjelaskan secara detail bahkan meminta maaf atas kesalahannya. Sungguh Azkara tah habis pikir, pria itu menggigit bibir karena besar kemungkinan yang justru kena getahnya adalah dia, bukan Cakra.
"Bagus!! Kau lupa apa kata papa, Azkara? Pakai acara naik pohon kelapa, kalau patah pinggang gimana?"
Keduanya sama-sama diam, Cakra sangat merasa bersalah, bukan hanya pada Azkara, tapi juga kakak iparnya. Pria itu menghela napas kasar, menggeleng pelan dan sungguh tidak habis pikir kenapa putranya begitu sulit diatur.
Seakan tidak jera akibat jatuh dari pohon tetangga di belakang rumah kakeknya beberapa waktu lalu, malam ini dia kembali datang dengan kabar yang membuat Evan mengelus dada.
"Maaf, Kak, seharusnya aku memang tidak mengajak Azkara, tapi ...."
"Sudahlah, kau masuklah. Meera mencarimu sejak tadi." Evan tidak memperlihatkan jika dia marah, tapi Cakra masih terus merasa bersalah, sungguh.
Cakra mengangguk, meninggalkan Azkara yang mungkin panas dingin untuk menghadapi kemarahan papanya. Namun, belum juga lima langkah pergi, Evan memanggilnya untuk segera kembali.
"Kenapa, Kak?"
__ADS_1
Tak segera menjawab, Evan memijat pangkal hidung dan berdehem kemudian. "Kelapanya masih muda?" tanya Evan tanpa pernah Cakra duga, agaknya pria itu akan mengurangi jatah sang istri.
"Iya, Kak, mau?"
"Boleh kalau ada."
Bergegas Cakra memberikan apa yang Evan mau, sama sekali tidak dia duga jika pria itu akan begitu mudah memaafkannya. Tidak marah, apalagi memperbesarkan masalah, jika sudah begini Cakra bisa menghela napas lega.
Selesai masalah Evan, dia masih harus menghadapi istrinya. Sebagaimana kata Azkara, bahwa ngidam ada masa tenggangnya. Sementara, waktu yang mereka butuhkan untuk keluar sangatlah lama, dan kali ini Cakra tidak membawa ponsel karena tidak menduga akan selama ini.
Begitu melewati pintu utama, semua masih aman-aman saja. Tidak ada Ameera yang menunggu dengan wajah sangarnya. Firasat Cakra justru semakin buruk, terlebih lagi Evan mengatakan jika Ameera mencarinya sejak tadi.
"Sayang, aku pulang."
Tidak putus asa sampai di sana, Cakra masuk ke ruang makan karena biasanya Ameera kerap kali menghabiskan waktu di sana, sekalipun untuk mengemil atau makan malam kedua kalinya.
Jantung Cakra berdegub tak karu-karuan, lututnya sampai lemas lantaran melihat wajah Ameera yang hanya memperlihatkan alis dan bibirnya. Pemandangam ini sebenarnya sudah sangat biasa, tapi baru kali ini Cakra dibuat takut setengah mati.
"Ya, Tuhan, bikin kaget ... kamu ngapain, Sayang?" Sembari mengusap dadanya perlahan, Cakra bertanya dan mendekati sang istri.
Seperti biasa, jika tengah melakukan perawatan di wajahnya, Ameera seolah tidak lagi bisa bersuara. Bermodalkan bahasa Isyarat yang juga asal gerak, Cakra mengangguk mengerti seolah paham maksud istrinya.
"Terus kelapanya gimana? Mau minum sekarang?"
Ameera menggeleng, dan itu adalah bencana bagi Cakra. Prasangka buruk Azkara benar-benar terjadi, padahal sebelumnya Cakra sedikit tidak begitu mempercayai ucapan pria itu.
__ADS_1
"Kita tidur saja jadi?"
Tetap dia menggeleng, Ameera berlalu menuju lemari es dan mencari sesuatu yang bisa dia bawa ke kamar. Dalam pengawasan Cakra, dia tampak meminta izin hendak membawa apapun ke kamar.
"Sudah malam, kopi dilarang apalagi sudah siap minum begini," ucap Cakra seraya menggeleng pelan begitu Ameera memilih kopi favorit papanya.
Terpaksa dia memilih yang lain dan kali ini Cakra juga tidak memberikan izin untuknya. "Soda apalagi, tidak boleh."
Berkali-kali jawaban Cakra tetap sama hingga dia sebal pada akhirnya. Hingga di titik kekesalannya, Ameera tak lagi peduli sekalipun maskernya akan retak atau bagaimana. "Terus apa yang boleh kalau semuanya dilarang?"
Wajahnya biasa saja sudah menakutkan, kini Ameera melotot dan hal itu semakin menambah kesan menyeramkanya. Tidak salah jika dia dijuluki bintang film horor, karena memang sangat menyatu dalam hidupnya.
"Susu dan air mineral," jawab Cakra tak terbantahkan dan hal itu sukses membuat wajah Ameera kian kusut.
Begitu banyak waktu yang dia gunakan untuk memilih, nyatanya tidak diperbolehkan sama sekali. Cakra tersenyum tipis melihat wajah cemberut sang istri, bisa dia tebak sekesal apa Ameera saat ini.
"Cuma itu?"
"Iyaa, cuma itu ... mau yang mana? Malam ini belum minum susu, 'kan?" tanya Cakra yang kini Ameera tanggapi dengan helaan napas kasar.
Cakra memang tidak keras, tapi tidak bisa dibantah. Sekalipun Ameera ingin yang A, jika Cakra tidak mengizinkannya, maka tetap saja tidak bisa. "Belum."
"Ya sudah duduk di sana, aku siapin bentar biar dedeknya kuat begadang," celetuk Cakra tak lupa mengedipkan mata yang membuat Ameera mencubit perut sang suami. "Begadang dengkulmu!!"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -