
"Apanya yang sudah?"
"Ngomelnya," jawab Cakra pelan seraya menyeka air mata Ameera begitu penuh perasaan.
"Euhm, sudah." Ameera mengangguk, dengan polosnya dia menjawab pertanyaan yang dimaksudkan untuk memotong pembicaraannya tersebut.
Cakra tahu faktor usia tak hanya membuat Ameera pelupa atau terkadang linglung seolah kehilangan arah, melainkan juga terlalu banyak hal yang Ameera pikirkan dan tak searah dengan jalan pikirannya. Seperti ini contohnya, hanya karena pertanyaan sederhana itu, Ameera sampai menerka-nerka alasannya.
Padahal, sudah jelas Cakra akui jika semua hanya demi sang istri. Sama sekali Cakra tak bohong, tapi sebuah ketakutan andai langkahnya salah jelas saja ada. Karena sebelum menikah, mereka tidak membahas rencana terkait anak, apalagi sewaktu pacaran dulu.
"Kamu tahu, sejak aku sanggup untuk menikahimu maka kesanggupanku bukan hanya sebatas jadi suami, tapi juga ayah, Ra," tegas Cakra penuh penekanan dan berharap Ameera akan mengerti walau usianya yang mungkin tergolong muda di mata Ameera, tapi kesiapan Cakra untuk membina rumah tangga tidak lagi bercanda.
Bukan hanya sebagai suami, tapi juga merangkap sebagai seorang ayah dan memiliki anak yang lucu-lucu adalah impian Cakra tentu saja. Dahulu, ketika hidupnya masih berantakan bahkan makan besok saja bingung, harapan akan terbentuknya keluarga impian juga sudah melekat dalam diri Cakra.
Lantas, di posisinya saat ini jelas saja keinginan itu semakin mantap. Bersama Ameera yang juga begitu menerimanya, mana mungkin Cakra sampai punya pikiran untuk menikmati masa muda lebih dulu sebagaimana yang telah Ameera katakan. "Setiap waktuku akan aku nikmati bersamamu ... dan juga anak-anak kita nantinya."
Ucapan Cakra sudah berbeda, jika dahulu dia hanya mengatakan Ameera, Ameera dan Ameera saja, kali ini ada anak yang Cakra sebutkan di akhir. "Benarkah? Kamu tidak sedang terpaksa agar aku senang 'kan, Cakra?"
Cakra tak mengerti bagaimana harus menjelaskannya, tapi memang istrinya sejak dulu tidak bisa diterka. Mungkin hal itu adalah imbas dari hujatan para penggemar fanatik Cakra yang begitu banyak menyayangkan masa muda Cakra jika harus menikah dengan Ameera.
Selain karena perbedaan usia, saat itu Cakra juga baru memulai dan siapapun bisa menebak sebesar apa potensinya. Sudah tentu pikiran buruk semacam itu melekat dalam diri Ameera, dia hanya takut jika dugaan penggemar Cakra akan menjadi nyata.
Cakra menggeleng pelan seraya mengusap pundak istrinya begitu pelan. "Tentu saja tidak, nanti kita akan punya banyak ... ada yang mirip aku, mirip kamu, perpaduan kita berdua, yang dominan kamu, dominan aku pokoknya banyak deh!!" seru Cakra layaknya menenangkan anak remaja, padahal yang kini tengah dia ajak bicara adalah seorang wanita dewasa dan sudah berkepala tiga.
__ADS_1
Perlakuan Cakra selalu berhasil menghadirkan gelak tawa Ameera, seolah lupa jika tadi sampai berlinang air mata. "Kalau dihitung sudah berapa itu?" tanya Ameera usai Cakra menjelaskan kriteria keturunan yang akan dia lahirkan di masa depan.
"Lima!!"
Ameera terkekeh, hanya karena salah tingkah akibat Cakra sesemangat itu membahas anak, dia merasa seolah tengah menonton lawakan aktor kesukaannya. "Lima? Emang kamu pikir aku bisa? Umurku sudah tidak muda lag_"
"Bisa, Ibu mengandungku sewaktu usianya 31 tahun juga ... cuma karena lahannya tidak disiram dengan baik aku jadi tidak punya adik," balas Cakra semudah itu bicara, tampak santai sekali seolah tanpa dosa.
Lagi dan lagi, Ameera hanya tersenyum lebar. Jawaban apa adanya Cakra cukup masuk akal walau terdengar bercanda. Hanya saja, sesuai dengan yang Ameera ketahui dia menikah ketika usianya sudah sangat dewasa. "Yakin bisa? Bagaimana caranya?"
"Harus ngebut, tidak boleh ditunda ... misalnya begini, yang tadi kita buat jadi bayi nanti setelah lahir dan kata dokter boleh kita buat lagi, gitu terus sampai lima," ungkap Cakra seketika membuat Ameera terbahak.
Mudah sekali Cakra mengungkapkannya, entah karena memang usianya masih muda hingga sesederhana itu menarik kesimpulan dan merencanakan sesuatu. Padahal, untuk Ameera yang merasa sudah teramat dewasa, ketakutan akan sulitnya memiliki anak dan melahirkan secara normal jelas saja ada.
.
.
Sejak awal memang Cakra tak menuntut apa-apa. Ameera yang bersedia menunggu dan bersedia dia miliki saja sudah lebih dari cukup. Sebagai anak yang terlahir dan hancur di usia dini, Cakra hanya menginginkan Ameera sebagai pendampingnya.
Bukan pabrik anak, bukan juga seseorang yang dia harapkan akan melayaninya bak raja setelah menikah. Yang Cakra mau hanya Ameera, istri yang akan terus bersamanya hingga ajal menjelang dan tidak meninggalkan dalam kesendirian.
Ya, sesederhana itu sebenarnya tujuan Cakra bersusah payah mendapatkan Ameera. Walau mungkin tanpa usaha dia bisa, tapi untuk berada di posisi pantas bukanlah hal mudah dan begitu banyak yang dia korbankan tentu saja.
__ADS_1
Sungguh, pandangan hidupnya sangat berbeda, terutama dari sang papa. Ameera benar-benar seakan tidak mengenali Cakra, bukan dari segi kemampuan di ranjang saja, tapi pola pikirnya memang sangat dewasa. "Tidurlah ... sebelum aku minta tambah," tutur Cakra sempat-sempatnya bercanda sebelum mengantarkan Ameera terlelap.
Jemari Ameera yang memang tak bisa ditahan, pada akhirnya mendaratkan cubitan juga di perut sang suami, sungguh gemas sendiri. Jangankan marah, hanya gelak tawa Cakra yang terdengar mendominasi kamarnya. "Jangan mancing-mancing, Junior sangat peka tahu," celetuk Cakra yang hanya mendapat decakan sebal dari Ameera.
"Oh iya, aku berubah pikiran ... tatomu itu tolong hapus, aku pikir cuma satu ternyata di paha ada lagi." Ameera menggerutu begitu ingat sesuatu yang persis tinta hitam di bagian paha sang suami, wanita itu sampai bangun demi menunjukkan jika dia serius.
"Dimana memangnya?"
"Yang di situ," ucap Ameera ternyata kaku untuk mengungkapkan dimana letaknya.
Cakra mengerutkan dahi, dan merasa bingung dimana lagi tato yang Ameera maksudkan. "Serius dimana? Seingatku cuma satu, di dekat belalai saja."
"Bukan yang di dekat belalai, ada satu lagi di pahaa!!" sentak Ameera meninggi karena wajah Cakra terlalu menyebalkan di matanya.
Cakra tergelak, dan kembali tanpa basa-basi membuka selimutnya hingga mata Ameera membulat sempurna. Kesucian matanya kembali terenggut kali ini. "Lihat? Itu tanda lahir!! Kurang jelas sini aku deketin," ucapnya tanpa merasa berdosa menuntun kepala Ameera agar lebih dekat ke area yang dimaksud, jelas saja hal itu Ameera tolak mentah-mentah.
"Jelas!! Sangat jelas. Jangan di dekatkan ... mataku sangat sehat, Cakra, terima kasih." Suaranya terdengar bergetar, di iringi dengan tatapan kosong sebelum kemudian menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
"Hahaha biar jelas, Ra, barangkali nanti suamiku ketuker."
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -