Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 104 - Jadilah Cucu Yang Berguna


__ADS_3

"See you, Honey ... I love you so much!!"


Mungkin bagi beberapa orang Ameera terkesan alay, tapi bagi Cakra tidak. Cara istrinya menunjukkan perasaan memang begitu, dan sedikit pun tidak masalah. Pria itu hanya tersenyum seraya memandang sang istri yang melambaikan tangan di dalam mobil.


Pagi ini Cakra tidak pergi sendiri, melainkan diantar istrinya. Setelah kejadian Azkara jatuh dari pohon kelapa, mendadak Ameera justru posesif dan takut sang suami jatuh dari motornya.


Terpaksa, mau tidak mau Cakra harus menurut, terlebih lagi papa mertuanya juga ikut andil hingga Cakra tak bisa banyak protes, apapun itu.


Kembali lagi pada Ameera, beberapa orang yang merupakan karyawan Evan memerhatikan mereka. Sudah tentu responnya berbeda-beba, ada yang menganggap hal itu lucu, menggemaskan dan sangat romantis.


Sementara di sisi lain, tentu saja ada yang menganggap hal itu aneh, menggelikan dan tak layak dipertontonkan. Kendati demikian, Cakra sama sekali tidak peduli dengan pandangan mereka.


"Ayo masuk, kalau kau terus di sini mereka tidak akan pergi."


Cakra mengalihkan pandangan, hingga kini mobil Ameera memang nasih berada di sana. Sama seperti biasa mereka bertemu, baik Cakra maupun Ameera akan mengalah dan memilih menunggu siapa yang pergi dulu.


Hingga, kehadiran Evan yang merangkul pundaknya adalah akhir dari penantian Cakra. Dia harus masuk tentu saja, sembari sesekali menoleh dan memastikan istrinya berlalu meninggalkan tempat itu.


Setelah tadi malam melewati drama panjang, pagi ini Cakra harus kembali pada rutinitasnya sebagai orang sibuk. Memilih perusahaan Evan sebagai tempatnya memulai, keputusan Cakra sempat menjadi perdebatan lantaran sang mertua ingin Cakra bekerja di bawah pengawasan Zean.


Namun, Cakra yang merasa memang akan lebih baik dibawah pengawasan Evan, meminta agar Papa Mikhail mendukung keputusannya. Bukan karena tidak menyukai Zean, hanya saja Evan lebih nyaman menurut Cakra.


Cukup Mahendra saja yang kembali dalam kekuasaan Zean, Cakra merasa tidak akan mampu untuk menjadi bawahan kakak iparnya yang satu itu.


"Oh iya, kau tidak berniat mengunjungi kakekmu, Cakra?"


Cakra terdiam, sudah cukup lama memang sejak pertemuan pertama, Cakra sama sekali tidak datang lagi. Padahal, baik kakek dari pihak ibu maupun ayahnya berharap Cakra akan datang tanpa diminta.

__ADS_1


Dulu memang dia sempat berpikir untuk datang kembali, tapi untuk saat ini rasanya belum ada niat dalam diri Cakra untuk datang. "Belum, Kak, mungkin nanti."


Ya, begitulah jawaban Cakra tentang pertanyaan semacam itu. Siapapun yang bertanya maka jawabannya akan sama, sekadar belum saja, bukan berarti tidak.


Evan juga tak terlihat memaksa, dia hanya bertanya dan tahu bahwa Cakra belum terlalu nyaman tentang hal itu. Sementara ini, dia masih membiarkan Cakra untuk menjalani apa yang dia mau karena beberapa tahun lagi suasana akan berbeda.


Walau memang pada faktanya tidak dipaksakan, dan Cakra bebas menentukan pilihan, tetap saja di usia 25 tahun nanti Cakra akan menerima semua harta kekayaan berikut kekuasaan yang keluarganya miliki.


Mau atau tidak mau, Cakra tetap menerimanya lebih dulu. Mau Cakra apakan selanjutnya juga bebas, tidak ada yang melarang sedikitpun.


Belum saja Evan tegaskan, untuk saat ini memang Cakra mungkin bisa mengatakan hidupnya akan cukup dengan gajinya sebagai karyawan biasa. Namun, ketika biaya untuk kebutuhan anak dan masa depan keluarganya tergambar jelas, bisa dipastikan Cakra akan berubah pikiran.


"Sayang aku sudah di atas ... kerja dulu ya."


Padahal baru berpisah beberapa waktu lalu, kini dia laporan lagi agar Ameera tidak menerka-nerka dia terjebak di lift atau jatuh dari tangga seperti kemarin.


Penolakannya sedikit membuat Ameera cemberut, sangat jelas wajah sang istri berubah ketika cakra menolak permintaannya. Namun, hendak bagaimana lagi Cakra juga tidak akan mengizinkan Ameera keluar hanya untuk menjemputnya sore nanti.


.


.


Hari-harinya Cakra kembali seperti biasa. Tidak ada yang berbeda, tepat jam makan siang dia juga menghubungi Ameera lebih dulu. Hingga, baru saja beberapa langkah dia keluar ruangan, seseorang yang cukup familiar tampak menunggunya.


"Ada apa?"


"Bisa kau ikut aku sekarang, Cakra?"

__ADS_1


Cakra menghela napas kasar, bisa dipastikan pria yang dia ketahui sebagai cucu angkat kakeknya itu memang sengaja ingin bertemu dengannya. "Kenapa harus?"


Sayang, permintaan Evan untuk bersikap baik pada Prasetya ternyata tidak bisa Cakra lakukan pada akhirnya. Sama seperti pada kedua kakeknya, Cakra masih terus menutup diri sekalipun sudah dijelaskan untuk saling meganggap sebagai saudara.


"Opa merindukanmu, Cakra ... beliau ingin bertemu denganmu dan semalam opa mengatakan dia kesepian." Sesuai dugaan, memang benar kakeknya membutuhkan Cakra.


Sayang, kecemburuan dalam hati kecil Cakra yang masih belum berdamai lantaran dia terlantar sewaktu kecil masih saja ada. Pria itu berdecih, dia menatap sinis Prasetya sebelum kemudian menghela napas kasarnya.


"Kenapa kau datang padaku? Kau cucunya, 'kan?"


"Tapi, Cakra ... kau yang_"


"Kau yang dia besarkan, kau yang dia sayang kenapa harus aku yang menemaninya? Kau saja, dulu hidupku juga sepi, setiap ulang tahun aku menangis sementara dia sibuk merayakan ulang tahunmu, 'kan? Temanilah ... jadilah cucu yang berguna, Pras."


Kedatangan Prasetya hanya membuat dia semakin marah. Terlebih lagi, begitu dia mencari tahu tentang kehidupan kakeknya sewaktu belum bertemu dengannya. Dia cemburu, tindakan Prof. Madani yang sengaja mengangkat anak seusianya dan lahir di tanggal yang sama membuat Cakra semakin sakit hati saja.


"Cakra!!"


"Apa lagi? Kau tuli?"


"Jenazah Opa sedang dalam perjalanan menuju rumah utama," Jawaban Prasetya seketika membuat jantung Cakra seolah berhenti berdetak, tubuhnya lemas dan lidahnya seolah tercekat detik itu juga. "Apa kau bilang?"


"Pulanglah, aku sudah menyiapkan pakaian untukmu."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2