
"Cakra! Hei, kamu kenapa?"
"Hah? Ti-tidak, aku baik-baik saja."
Sempat dibuat bingung, Cakra tampak gelagapan kala Ameera menepuk pundaknya. Begitu lama dia pandangi, bahkan hingga Evan benar-benar masuk ke dalam rumahnya.
Sungguh, Cakra merasa dugaannya takkan salah. Dia mengenal pria itu, sangat mengenalnya. Bahkan suaranya saja bisa terbayang walau yang dia dapati hanya sekadar senyuman.
Kali ini Cakra terlihat berbeda, dia tidak mampu bersandiwara dan gelagatnya terlalu kentara. Walau mulutnya berkata tidak ada yang salah, tapi Ameera bisa menangkapnya hingga wanita itu bersedekap dada seraya melayangkan tatapan tajam pada sang kekasih.
Sadar dengan tatapan maut Ameera, sebisa mungkin Cakra untuk kembali terlihat biasa. Dia tertawa pelan, ekspresi Ameera terlalu memaksakan dan justru teramat menggemaskan.
"Serius, Ra ... kenapa mukanya begitu?"
Entahlah, Ameera juga bingung hendak bereaksi bagaimana. Setelah berpapasan dengan kakak iparnya, Cakra terlihat mencurigakan dan membuat Ameera mulai menerka-nerka. "Cakra, aku menerima semua kekuranganmu." Tiada angin tiada hujan, wanita itu tiba-tiba mengucapkan kalimat yang membuat Cakra mengerutkan dahi.
"Aku tahu soal itu, lalu?"
Ameera menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian menghembuskannya perlahan ."Tapi tidak dengan penyimpanan sekssual!!"
Uhuk
Tidak bercanda, Cakra benar-benar tersedak saat itu juga. Di antara jutaan dugaan, Ameera melayangkan dugaan paling tak masuk akal. "What? Otakmu kenapa bisa mikir kesana?!"
Andai saja tidak mengingat umur Ameera, sungguh Cakra ingin membenamkan wajah kekasihnya ke ketiak detik ini juga. Santai sekali dia bicara, sampai Cakra tak lagi mampu berkata-kata.
"Dengarkan a_"
"Ameera!!"
"Iya, Pa ... kenapa?"
__ADS_1
Penjelasannya tertunda, panggilan Papa Mikhail membuat Ameera terpaksa kembali masuk lebih dulu dan meminta Cakra menunggu. Entah sebuah keberuntungan atau bagaimana, tapi jujur saja Cakra tidak berani membicarakan hal itu jika masih di tempat ini.
Sementara Ameera kembali masuk, Cakra tetap berada di posisinya sesuai perintah. Tatapan Cakra terfokus pada bangunan mewah yang berada tepat di sebelah kediaman orangtua Ameera. Bahkan bentuknya juga hampir sama, hanya berbeda warna saja.
Jantung Cakra masih berdegub tak karu-karuan. Pertemuan tak terduga yang terjadi hanya beberapa detik, tapi begitu membekas dalam hatinya. Senyuman Evan masih sama, persis seperti kala pria itu menguatkan Cakra delapan tahun lalu.
"Jalani hidupmu dengan baik, Cakra ... masa depanmu masih panjang, dan yang kamu lakukan bukan kesalahan."
Bahkan kata-katanya juga tetap Cakra ingat dengan sejelas itu. Pria yang dahulu menemuinya ketika tengah bersama Abah Asep delapan tahun lalu akhirnya kembali Cakra temukan, dengan keadaan berbeda dan usaha yang Cakra lakukan juga nyaris tidak ada.
Bertahun-tahun dia menunggu dan mencari, juga bertanya tentang sosok pria asing yang mengenalkan diri sebagai Keyvan itu. Hari ini, tepat beberapa menit lalu tanpa dicari mereka justru bertemu dan hal itu cukup mengejutkan Cakra.
Tak hanya itu, tapi kenyataan bahwa Keyvan adalah kakak ipar Ameera semakin membuat Cakra menganga. Sungguh di luar dugaan hingga dia bingung dan berakhir kecurigaan gila yang muncul dalam benak Ameera.
"Cakra ... yuk pulang."
Baru juga Cakra pikirkan, suara lembut itu kembali terdengar. Ameera menghampiri dengan membawa sesuatu di tangannya, tidak sedikit tapi cukup banyak.
"Aku antar, papa yang suruh."
Cakra mengulas senyum, pernyataan Ameera barusan agak sedikit meragukan, "Oh iya? Yakin papa yang suruh?"
Ameera yang sama sekali tidak berbohong jelas menjawab sesuai faktanya. Memang benar papanya memerintahkan hal itu, sudah tentu alasan lain adalah untuk memastikan persediaan bahan makanan Cakra di apartmennya aman untuk beberapa hari kedepan.
Hubungan mereka yang begitu direstui membuat Ameera merasa hidup sehidup-hidupnya. Sama halnya seperti Ameera, agaknya sang papa juga menyayangi Cakra sebegitunya.
Tidak hanya meminta Ameera mengantar Cakra dengan tangan kosong, tapi juga disiapkan segala sesuatu yang nantinya akan sangat berguna bagi calon menantunya. Ameera sampai bingung sendiri yang laki-laki dalam hubungan mereka siapa sebenarnya.
.
.
__ADS_1
Atas pengakuan Ameera yang mengatakan jika memang mendapat izin dari papanya, Cakra tak lagi bisa menolak dan menerima tawaran sang kekasih. Lagi pula bukan hal aneh, dulu juga sempat beberapa kali ikut pulang dan mereka tahu batasan.
Terlebih lagi, saat ini statusnya sudah jelas calon istri dan misi Ameera untuk memastikan keadaan dapur bukanlah hal yang salah bagi Cakra. Hitung-hitung latihan jadi pasangan sungguhan, begitulah menurut pengakuan Ameera.
Selama Ameera menata bahan makanan di kulkas, Cakra tak tinggal diam. Mereka berbagi tugas dan Cakra fokus di meja makan. Entah bagaimana Cakra mengungkapkan kebaikan hati calon mertuanya, tapi dia rasa tidak seluruh orangtua yang justru melepaskan putrinya untuk makan malam di kediaman seorang pria.
Sebuah hal baru yang begitu berkesan bagi keduanya. Cukup banyak yang mereka bahas hingga selesai makan malam, Ameera sampai tidak sadar jika kini sudah jam delapan malam, dan tiga puluh menit lagi dia diharuskan kembali pulang.
Namun, sebelum itu Ameera ingin menghabiskan tiga puluh menit yang tersisa bersama Cakra. Sembari menikmati cokelat hangat dan pemandangan malam ibu kota, Ameera merasa hidupnya tanpa beban saat ini.
Sampai-sampai, Ameera hampir lupa tentang pembicaraan mereka yang tadinya sempat terpotong di rumah. Terkait siapa Evan dan alasan kenapa gelagat Cakra terlihat aneh tadi sore.
"He's my hero."
Ameera mengerutkan dahi dan jelas saja bingung sendiri "Maksudmu?"
"Kamu ingat apa yang kukatakan di rumah waktu itu? Tentang pria asing yang menemuiku sewaktu aku dan Abah delapan tahun lalu di Jakarta?"
Ameera mengangguk, hanya dengan satu kalimat itu dia mulai bisa menarik kesimpulan bahwa orang dimaksud Cakra kala itu adalah Evan. "Lalu? Apa hubungannya?" tanya Ameera masih butuh kejelasannya dari bibir Cakra.
"Dia adalah orangnya ... dan ternyata dia kakak iparmu, lucu ya?"
Ameera terdiam, dia mulai berpikir keras dan berusaha menarik kesimpulan. Bertahun-tahun hidup bersama Evan, dia tahu betul karakter kakak iparnya. Evan tidak akan pernah mencampuri urusan orang sembarangan, dan tidak pula dia akan mengenalkan namanya pada orang yang dirasa tidak penting.
Mendengar pengakuan Cakra bahwa mereka sempat bertemu dan Evan juga mengenalkan dirinya dengan nama asli. Maka detik itu juga Ameera menyimpulkan bahwa seseorang yang ambil alih untuk melindungi Cakra delapan tahun lalu adalah Evan, kakak iparnya.
"Tapi apa alasannya? Apa kamu mengenalnya sebelum ini?"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -