
"Hm? Bukan apa-apa."
Hingga akhir, Ameera tak menatapnya sebagai lawan jenis, sebuah fakta yang cukup menyebalkan hingga pria itu hanya menghela napas panjang.
"Kirain."
Sesantai itu Ameera meresponnya, padahal yang Ricko bahas adalah hal penting, bahkan sangat-sangat penting. Jangankan meminta maaf, bertanya suasana hati Ricko saja dia tidak.
Ameera kembali fokus dengan ponselnya. Kabar dari Cakra pagi ini benar-benar memperbaiki suasana hatinya. Sayang, di sisi lain, ada sepotong hati yang kini terbakar dan gusar tak karu-karuan kala sadar sang pujaan semakin tak tergapai.
Cukup lama Ricko pandangi, hati Ricko semakin panas lagi begitu mendengar suara Cakra dari seberang telepon. Entah sengaja pamer atau bagaimana, tapi pasangan yang tengah dimabuk asmara dan berbincang lewat panggilan video itu seolah membuat dunia Ricko gelap seketika.
Bak bencana, Ricko hanya menunduk seraya meremmas jemarinya. Mendengar cara Ameera bicara yang begitu berbeda seolah menegaskan bahwa wanita itu sangatlah hangat, tapi bukan ke sembarang pria.
Tak begitu penting yang mereka bicarakan, hanya sebuah perbincangan manis antara dua orang yang terhalang jarak, tapi dikuatkan oleh cinta.
"Mundur, Ko, sama sekali tidak ada harapan lagi."
Bukan hanya Ricko, tapi Ameera yang sejak tadi menghabiskan waktu untuk Cakra juga terperanjat mendengar perkataan pria itu. Terlalu fokus pada Cakra, keduanya sampai tidak sadar jika Mahendra tiba-tiba sudah berada di sana.
Tak sendiri, di belakangnya juga sudah ada Zean yang tampak waspada kala Ameera menatap ke arahnya. Terlebih lagi, sapu yang tadi menjadi senjata utama untuk menyakiti belum lepas dari genggaman tangan Ameera.
Sadar jika suasana akan semakin runyam, Ameera mengakhiri panggilan video tersebut dan menyimpan ponselnya. Bukan tanpa alasan, tapi jujur saja dia khawatir akan ada ucapan asal ceplos yang keluar dari bibir Zean hingga menyebabkan Cakra terluka nantinya.
__ADS_1
Kembali lagi pada ucapan Mahendra, Ricko tergelak dan menanggapinya dengan sebuah candaan. Seperti biasa seorang Ricko, memang dia tidak pernah bisa serius hingga Ameera juga tidak pernah menanggapi gombalan atau perhatian pria itu dengan serius pula.
Terlalu banyak bercanda adalah sebabnya. Memang bukan sekali dua kali, tapi sering kali Ricko menunjukkan perhatian dan terkadang memanggil Ameera dengan panggilan manis layaknya seorang kekasih. Namun, kembali lagi di mata Ameera pria itu tidak lebih dari seorang kakak yang ucapannya sama sekali tidak bisa dipercayai.
"Sekelas Ricko mundur? Cih, jangan kalah saing, Ko! Masa kalah sama bocah."
Lihat, sudah benar sekali langkah Ameera mengakhiri sambungan telepon bersama Cakra beberapa saat lalu. Andai saja Cakra mendengar, sudah pasti tersinggung lahir batin, bahkan mungkin semakin merasa tak pantas untuk Ameera nantinya.
Jujur saja, Zean yang begini terlalu menyebalkan bagi Ameera. Untuk saat ini, dia hanya bisa berharap saja Cakra tidak bertemu empat mata bersama sang kakak yang Ameera bingung sebenarnya terbuat dari apa.
Lebih menyebalkan lagi, Ricko juga menanggapi candaan Zean yang membahas umur Cakra. Kurang matanglah, amis, bau kencur, paling diajak main layangan, Ameera akan jadi pengasuh dan masih banyak lagi hingga bibir Ameera semakin tak kuasa menahan diri untuk membuat mereka bungkam segera.
"Apa tadi kalian bilang? Bocah? Cakra tuh sudah dewasa, apalagi pola pikirnya ... kalian saja yang terlalu tua, tapi cara berpikirnya persis balita!!" timpal Ameera mencebikkan bibir, memperlihatkan kekesalannya pada Zean tanpa ditutup-tutupi sedikit saja.
Padahal, dulu juga kerap kali diledek apabila dirasa kurang cocok dan Ameera tampak menerima, bahkan membenarkan penilaian Zean tentang orang yang dekat dengannya.
Namun, berbeda dengan Cakra dan Zean sampai merasa tidak mengenali adiknya. "Oh iya? Yakin pola pikir anak itu dewasa?"
"Yakinlah!! Kakak tahu? Jika saja Cakra mau, dia bisa buy 1 get 1 kayak papa untuk mendapatkanku dengan mudah, tapi karena pola pikirnya dewasa ... Cakra tidak begitu, dia menjagaku dan begitu memuliakanku sebagai wanita. Satu lagi, cintanya tidak dilandasi naffsu semata!!"
Uhuk
Zean terdiam, begitu juga Mahendra yang mendadak pamit ke belakang demi menemui ayahnya. Sadar bahwa keadaan sedikit berbahaya, pria itu ambil aman dan meninggalkan tiga orang yang hingga saat ini belum juga sadar jika seseorang yang dimaksud tengah berdiri tak jauh di sana dengan cangkul di pundaknya.
__ADS_1
Sementara Ricko yang tidak mengetahui maksud dari buy 1 get 1 tersebut jelas saja bingung. Seolah tak sadar jika tengah dicekam malapetaka, Ricko justru bertanya terang-terangan. "Maksudnya? Diskon apa bagaimana?"
"Buk_"
"Gratis produk, Ricko."
Mata Ameera membulat sempurna, belum selesai dia memberikan pembelaan lantaran salah bicara barusan. Papa Mikhail sudah mengambil alih hingga Ricko hanya iya-iya saja, sekalipun mengerti agaknya pria itu akan memilih pura-pura bodoh saja dibandingkan berakhir kenapa-kenapa nantinya.
"Pa-papa?"
Gugup, takut dan ingin mengikuti jejak Mahendra bersatu padu dalam diri Ameera. Entah kenapa dia sampai bicara sejauh itu, semua juga karena mulut Zean yang mengawalinya.
Jauh dari dugaan, Papa Mikhail tidak marah, melainkan mendekati Zean hingga pria itu mengerutkan dahi. "Berapa lama kau menjabat sebagai direktur utama MN Group, Zean?"
Pertanyaan tersebut sontak membuat Ameera tersenyum tipis, wajah Zean yang juga tampak pucat menandakan bahwa dia merasa terancam. "Sepuluh atau tiga belas, lupa, Pa."
"Jadi begini, Zean. Kemarin, sewaktu Papa bertemu Cakra ...."
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1