Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 67 - Kamu Saja


__ADS_3

"Sorry maksudku sebelum kejadian itu." Walau tahu mungkin Cakra sebenarnya mengerti, tapi Ameera segera meralat pertanyaannya lantaran khawatir Cakra justru salah sangka.


Cakra menggeleng, dia tidak mengenal Evan sebelumnya. Selain itu, Cakra juga tidak tahu apa alasan Evan tiba-tiba masuk dalam hidupnya secara tiba-tiba. Untuk hal ini sebenarnya Cakra sudah sempat bertanya pada Abah Asep, tapi pria itu juga sama dan tidak memberikan jawaban yang bisa melegakan rasa penasaran Cakra, tidak sama sekali.


Abah Asep beralasan jika Evan hanya seseorang yang secara tidak sengaja saja bertemu mereka. Walau sempat tak percaya, tapi Cakra juga tidak bisa memaksa Abah untuk menjelaskan lebih banyak dan memilih menyerah pada akhirnya.


Fakta bahwa Evan adalah kakak ipar Ameera justru membuat pria itu merasa akan menemukan titik terang dari apa yang menjadi pertanyaannya selama bertahun-tahun. Niat hati Ameera yang ingin tahu banyak dari Cakra, kini justru berbalik Cakra yang meminta karena jujur dia juga ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya delapan tahun lalu.


Kenapa dia bisa bebas dan perbuatannya tak dipermasalahkan? Kenapa juga tragedi pembunuhan itu justru diolah layaknya sebuah tragedi pembantaian dengan motif pencurian sebagaimana yang tersebar? Sungguh dia ingin tahu jawabannya.


"Kita tidak akan selesai kalau cuma menerka-nerka ... biar aku yang ta_ ah atau kamu yang mau tanyain sendiri?" Ameera memberikan penawaran, dia tidak ingin justru mengambil keputusan sepihak tanpa persetujuan Cakra lebih dulu.


Cakra menghela napas panjang, untuk yang kali ini dia memilih menyerah dan mempercayai Ameera. "Kamu saja," tolak Cakra mantap, agaknya dia tidak sanggup jika nanti pembahasan mereka justru mengorek luka lama.


Tanpa perlu Ameera tanya alasannya, raut wajah Cakra sudah menjawab dan hal itu dapat dia pahami apa sebabnya. "Sudah malam, aku antar pulang ya?"


Sadar jika waktu pulang Ameera sudah dekat, Cakra tak ingin menahannya lebih lama. Antar-antar semut, padahal tadi yang diantar pulang adalah dirinya, kini justru kembali berbalik dan hal itu terdengar lucu saja.


"Aku pulang sendiri saja tidak masalah." Mulutnya menolak, tapi hatinya sudah jelas berbeda.


Cakra tidak sebodoh itu dan dia bisa membaca pikiran sang kekasih hanya dengan melihat wajahnya saja. "Aku antar saja, lagian motorku di rumahmu, Ra." Cakra beralasan, padahal tanpa motor juga dia akan tetap mengantar Ameera sebenarnya.


Mendengar jawaban Cakra sudah jelas hati Ameera berseru yes walau di luarnya terlihat biasa saja. "Sebenarnya aku bisa kok pulang sendiri. Motor kamu juga besok bisa dianter pagi-pagi kan kontaknya juga dipegang om Iwan, tapi kalau kamu memaksa apa boleh buat," ucapnya berlalu pergi setelah menyerahkan kunci mobilnya, sungguh tindakan jual mahal yang terlihat sekali motifnya.


Walau tahu hal itu hanya akal-akalan sang kekasih, Cakra tidak membahasnya. Dia masih mengantar Ameera seperti biasa, toh memang sudah jadi kebiasaannya dan Cakra justru merasa bahagia jika dia dibutuhkan, sungguh.


Perjalanan pulang malam ini seakan terasa amat cepat, padahal Ameera sudah meminta Cakra mengurangi kecepatan. Sudah tentu alasannya karena masih ingin bersama sang kekasih lebih lama, hingga ketika memasuki halaman rumah raut wajah Ameera seketika berubah.

__ADS_1


"Yaah sampe deh." Bibirnya maju beberapa senti dan Cakra hanya menggeleng pelan demi menahan gelak tawanya.


Ada saja tingkah Ameera yang membuat rasa cinta Cakra seolah bertambah setiap harinya. Terlihat jelas semalas apa ketika dia turun, bibirnya tetap manyun walau sudah Cakra katakan esok hari mereka akan bertemu lagi.


Tak berselang lama, ekspresi Ameera kembali layaknya manusia biasa. Namun, bukan karena tenang mendengar janji Cakra, melainkan terkejut lantaran melihat mobil Zean masih terparkir di halaman rumahnya. "Aih, makhluk astral ini belum pulang juga? Gawat dia sengaja menungguku atau bagaimana?"


Bukan hanya Ameera yang panik, tapi Cakra juga. Keduanya saling bertatapan sesaat, tapi paniknya kemudian bertambah dua kali lipat kala menyadari motor Cakra yang sengaja ditinggal tidak lagi terparkir di tempat sebelumnya.


"Bentar, tadi bukannya di sini? Atau sudah dipindahin om Iwan ya?"


Tahu bagaimana gugupnya Cakra, wanita itu segera menghampiri penjaga rumahnya. Dan, pengakuan pria itu berhasil membuat mata Ameera dan Cakra membulat sempurna. "Apa? Ja-jadi kak Zean pulang bawa motor?"


"Iya, ini helmnya satu ditinggal ... tapi satunya dipakai sama tuan Zean." Ameera mengelus dada kala menerima helm yang biasa dia pakai.


Tanpa izin, kakaknya sembarangan menggunakan motor Cakra seenaknya, bukan hanya dicoba tapi justru dibawa pulang ke rumah. Terpaksa, mau tidak mau Ameera yang mengalah dan mengizinkan Cakra pulang dengan mobilnya.


"Cakra maafin ya, kakakku memang begitu ... maklum, dia sekolahnya di bawah batang ubi." Sungguh Ameera merasa tak enak hati, tapi Cakra sudah tentu biasa saja.


.


.


"Tante?"


"Via, papamu mana?" Begitu tiba yang menyambutnya bukan Mikhayla ataupun Evan langsung, melainkan Zavia, putri sulung kakaknya.


Zavia tampak menoleh, berusaha meyakinkan papanya masih ada di tempat yang sama atau tidak. "Ada kok, sana samperin mumpung belum masuk kamar," tuturnya yang kemudian segera Ameera angguki.

__ADS_1


"Eh, Tante!! Btw pacar barunya masih muda ... kalau aku lihat-lihat seumuran kak Aga ya?"


Ameera tersenyum, kemudian menggeleng dan seketika membuat Zavia mengerutkan dahi. "Tapi kok masih muda, jadi seumuran siapa?"


"Seumuran kamu," jawab Ameera tergelak yang membuat keponakannya menganga, tak percaya dan bahkan tak bisa berkata-kata.


Hingga mendekati Evan, gelak tawa Ameera masih saja bertahan. Tidak peduli sekalipun mata kakak iparnya sudah persis pedang baru diasah, tajamnya luar biasa.


Tak berbeda dengan cara berinteraksi pada kakak kandungnya, Ameera duduk begitu saja walau belum diperintahkan hingga Evan hanya menghela napas pelan.


"Kak Evan ... Meera boleh tanya sesuatu?"


"Cakra sudah pulang?"


Ditanya, dia justru balik nanya hingga Ameera mengerutkan dahi. Tanpa melepaskan buku yang dia baca, Evan justru melontarkan pertanyaan itu padanya.


"Sudah, barusan pulang," jawab Ameera kini mendadak gugup, Evan tiba-tiba menutup buku dan meletakkannya di atas meja seketika mengubah suasana.


"Sebelumnya Kakak ucapkan terima kasih, kamu sudah menerima Cakra dengan baik ... sama sekali aku tidak menyangka, ternyata Dinara mempunyai putra sekuat Cakra."


Deg


Jantung Ameera semakin berdegub tak karu-karuan, matanya membulat sempurna dan membasah begitu mendengar ucapan Evan. Pria itu tidak hanya mengenal Cakra, melainkan ibunya dan hal itu sungguh tidak pernah Ameera duga.


"Kakak mengenal ibunya?"


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2